Tampilkan postingan dengan label Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Januari 2021

Seruan Khalifah untuk Keselamatan Dunia di Tengah Pandemi

Pidato bersejarah Khalifah di depan Parlemen Eropa di Copenhagen, Denmark.

Hadhrat Mirza MasroorAhmad, khalifah Islam Ahmadiyah, mengirimkan surat berisi seruan dan peringatan akan bahaya perang dunia kepada para pemimpin negara-negara besar di dunia menyusul krisis ekonomi yang terjadi secara global akibat pandemi covid-19 yang tengah melanda dunia saat ini.

Dilansir oleh situs resmi jemaah Ahmadiyah Indonesia, Ahmadiyah.id, surat-surat bersejarah tersebut telah dikirimkan selama bulan Juni 2020 kepada para pemimpin dari 14 negara – Australia, Kanada, Cina, Perancis, Jerman, Ghana, India, Israel, Jepang, Nigeria, Rusia, Sierra Leone, Inggris dan Amerika Serikat. Surat-surat itu juga dikirim kepada Paus Francis dan Sekretaris Jendral PBB, Antonio Guterres.

Dahsyatnya gempuran pandemi covid-19 setahun belakangan ini telah menggoncangkan pondasi perekonomian berbagai negara di dunia. Negara-negara maju dan berkembang yang selama ini menikmati kenyamanan hidup dalam kondisi ekonomi yang stabil, kali ini mulai goyah dan jatuh dalam krisis ekonomi. Ancaman krisis ekonomi pasca pandemi memang sudah diramalkan sejak awal. Namun meski sudah tau akan terjadi, banyak negara seolah tidak berdaya untuk mengantisipasinya dan hanya pasrah menunggu terjadi.

Selasa, 02 Maret 2010

Hikmah Tahun Baru

Huzur menilawatkan ayat 29 Surah Al Hadid berikut ini sebagai mukadimah Khutbah Jumah beliau: يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَءَامِنُواْ بِرَسُولِهِۦ يُؤۡتِكُمۡ كِفۡلَيۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ وَيَجۡعَل لَّڪُمۡ نُورً۬ا تَمۡشُونَ بِهِۦ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ‌ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ yang terjemahannya adalah sebagai berikut: ‘Hai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya; maka Dia akan menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya, akan menyediakan bagimu nur, yang dengannya kamu akan berjalan, dan Dia akan mengampuni kamu — dan Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang —‘ (57:29).

Senin, 01 Maret 2010

Sifat An-Nur Allah Swt (bagian 3)

Allah Taala Berfirman:
أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ فَوَيۡلٌ۬ لِّلۡقَـٰسِيَةِ قُلُوبُہُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ فِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ
Terjemahan ayat ini adalah sebagai berikut, ‘Apakah orang yang Allah telah bukakan dadanya untuk menerima Islam, maka ia mendapat nur cahaya dari Tuhannya, sama dengan orang-orang keras hatinya ? Maka, celakalah mereka yang hatinya keras dari mengingat Allah! Mereka itulah yang berada di dalam kesesatan yang nyata.’ (Q.Surah 39 / Al Zumar ayat 23)
Tak diragukan lagi, Allah Swt-lah yang mampu membimbing manusia ke arah dan mengaruniai petunjuk hidayah-Nya, sebagaimana dinyatakan di dalam Al Qur’an Karim,
إِنَّكَ لَا تَہۡدِى مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَہۡدِى مَن يَشَآءُ‌ۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
‘Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai; tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki; dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang akan mendapat petunjuk.’ (Surah 28 / Al Qashash : 57).
Dan adalah dambaan Rasulullah Saw agar dunia mau menerima nur (cahaya) yang beliau bawa, yakni nur petunjuk Ilahi sebagaimana yang beliau perlihatkan. Sehingga, setelah dunia mampu menyerap dan menyinari qalbu mereka dengan nur Ilahi ini, mereka pun memperoleh qurb, kedekatan dengan-Nya. Ini dikarenakan beliau sangat memahami, konsekwensi penolakan terhadap nur Allah Taala ini, ialah sama dengan mengundang kemurkaan-Nya. Sedangkan qalbu beliau dipenuhi dengan cinta kasih terhadap sesama. Tak sanggup melihat seorang pun manusia yang mangkat dari dunia yang fana ini tanpa menerima sesuatu nur hidayah Ilahi. Oleh karena itulah beliau pun senantiasa bangun di tengah malam untuk beribadat dan memohon kepada Allah Taala dengan hati yang pilu. Kondisi keprihatinan beliau terhadap nasib umat manusia itulah yang disitir oleh ayat Quran ini,
لَعَلَّكَ بَـٰخِعٌ۬ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ
yang artinya, ‘Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu disebabkan mereka tidak mau beriman.’ (Q.Surah 26 / Asy Syuara : 4).

Sifat Al Nur Allah Swt (bagian 2)

Lebih lanjut berkenaan dengan beberapa ayat Quran yang saya rujuk pada Jumah lalu namun belum sempat diterangkan, keterangannya adalah sebagai berikut.
Nur adalah cahaya yang memancar; dan ada dua jenis; yakni, cahaya duniawi dan cahaya Akhirati.
Tetapi, nur cahaya duniawi pun juga ada dua macam; yang Pertama adalah yang dapat diyakini keberadaannya melalui kedalaman pandangan rohani, atau disebut juga Makul (menyangkut penggunaan akal); dan yang Kedua, adalah cahaya yang dapat diperoleh melalui hikmah; yakni sinar petunjuk yang terdapat di dalam tafsir, yakni, nur Al Qur’an.
Jenis cahaya lainnya ialah yang dapat dilihat pada benda-benda alam, yang disebut Mahsus (yakni, yang terkait dengan panca indera). Sinar cahaya ini terdapat di dalam matahari, bulan dan bintang-bintang.
Suatu contoh cahaya yang dapat dilihat dengan mata jasmani ialah seperti yang difirmankan Allah di dalam Surah Yunus ayat 6:
هُوَ الَّذِىْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا
‘Dia Yang menjadikan matahari mempunyai cahaya, dan bulan bersinar…’ (10:6).

Tujuan Didirikannya Masjid

Maksud &Tujuan Didirikannya Masjid dan Milad 50th Masjid Nur, Germany

Huzur menilawatkan ayat 30 Surah Al Araf pada awal Khutbah Jumah beliau ini, sebagai berikut,
قُلۡ أَمَرَ رَبِّى بِٱلۡقِسۡطِ‌ۖ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمۡ عِندَ ڪُلِّ مَسۡجِدٍ۬ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ‌ۚ كَمَا بَدَأَكُمۡ تَعُودُونَ
yang artinya: Katakanlah, “Tuhan-ku memerintahkan berbuat adil. Dan, pusatkanlah perhatianmu di setiap tempat ibadah, dan serulah Dia dengan mengikhlaskan keita'atan kepada-Nya. Sebagaimana Dia menciptakan kamu permulaan kali, demikian pula kamu akan kembali kepada-Nya.’ (Q.S. Al Araf : 30)
ٱلتَّـٰٓٮِٕبُونَ ٱلۡعَـٰبِدُونَ ٱلۡحَـٰمِدُونَ ٱلسَّـٰٓٮِٕحُونَ ٱلرَّٲڪِعُونَ ٱلسَّـٰجِدُونَ ٱلۡأَمِرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡحَـٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
‘Yaitu,orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang bepergian pada jalan Allah, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh kepada kebaikan dan melarang keburukan dan yang menjaga batas-batas hukum Allah. Dan sampaikanlah kabar suka, kepada orang-orang yang beriman.’ (S. Al Taubah : 112)
Huzur bersabda, Khutbah Jumah saya ini merupakan Khutbah yang pertama di Masjid Nur, Frankfurt yang merupakan milad-nya yang ke 50 tahun. Ketika dulu Masjid ini dibangun, kapasitasnya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan pada waktu itu. Akan tetapi kini Jamaat telah berkembang pesat, oleh karena itulah para anggota Jamaat dari Cabang lain di sekitarnya diminta untuk tidak datang Jumatan pada hari ini ke Masjid ini.
Masjid Jamaat pertama yang berhasil dibangun di Jerman adalah yang di Hamburg; sedangkan Masjid Nur di Frankfurt ini adalah masjid Jamaat yang kedua.

Rabu, 09 Desember 2009

Sifat An-Nur Allah SWT (bagian 1)

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Quran ayat 258 Surah Al Baqarah dalam menerangkan sifat An Nur sebagai berikut:
اللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ‌ ؕ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰٓــُٔهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ‌‌ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
yang terjemahannya, ‘'Allah itu Sahabat orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Sedangkan orang-orang kafir, sahabat mereka itu adalah orang-orang sesat yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni Api, mereka tinggal lama di dalamnya.’ (2:258)

Menurut Kamus Bahasa Arab, an-Nur adalah salah satu sifat Allah, yang berkat keberadaan-Nya, keadaan manusia yang sebelumnya 'buta' dapat menjadi melihat; dan mereka yang tadinya sesat menjadi memperoleh petunjuk hidayah berkat karunia-Nya. Dan berkat keberadaan-Nya itulah segala sesuatu menjadi ada. Wujud-Nya berada disebabkan diri-Nya sendiri; lalu membuat segala sesuatu menjadi bukti akan keberadaan-Nya.

Diterangkan pula mengenai Tuhan ini di penggalan ayat 36 Surah Al Nur,
اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
'Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi..…’; yakni, hanya Allah-lah yang mampu memberikan nur cahaya kepada segala makhluk yang berada di langit maupun di bumi. Nur Ilahi adalah cahaya yang memudahkan segala sesuatu dapat menyebar-luas dan menjadi tampak satu sama lain. Nur Ilahi meliputi dunia maupun Akhirat. Namun Nur Ilahi bagi dunia mengandung dua hikmah. Salah satunya adalah hanya dapat dikenali melalui perenungan yang mendalam, atau berkat adanya petunjuk Ilahi.


Selasa, 01 Desember 2009

Selasa, 24 November 2009

Sifat Al Wali Allah Swt (bagian 4)

Betapa rapuhnya mengandalkan bantuan duniawi dibandingkan dengan mantapnya bantuan Allah Swt yang Dia senantiasa karuniakan kepada mereka yang menjadikan Allah sebagai Wali (Sahabat, Penolong)-nya.
Firman ALlah dalam Al-Quran ayat 42 Surah Al Ankabut,
مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنڪَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتً۬ا‌ۖ
yang terjemahannya sebagai berikut: ‘Permisalan orang-orang yang mengambil selain Allah sebagai penolong-penolong adalah seperti permisalan laba-laba yang membuat rumahnya. Dan sesungguhnya, selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui !’ (29:42)

Sudah jelas dari pernyataan ayat ini, yakni, betapa malangnya bangsa tersebut yang telah meninggalkan khazanah dan sifat Al Wali Allah Swt lalu mencari-cari sumber bantuan lain. Mata mereka nanar demi melihat keuntungan yang bersifat sementara, dan merendahkan faedah [bantuan Ilahi] yang bersifat permanen. Berbagai sumber dan atribut dunia tersebut membuat mereka mengabaikan Keridhaan Allah Taala. Alih-alih menjadi waliullah, yakni sahabat Allah, mereka bersahabat dengan tuhan-tuhan lain selain Allah. Alih-alih masuk ke dalam kuatnya pertahanan perlindungan Ilahi, mereka mengandalkan jalinan perlindungan duniawi semisal jejaring laba-laba.


Senin, 23 November 2009

Ajaran Islam Tentang Korupsi & Suap Menyuap

Quran surah 2 ayat 189 menyatakan dengan berkenaan dengan segala bentuk suap menyuap:

“Dan, janganlah makan hartamu di antara kamu dengan jalan batil, dan jangan pula kamu serahkan harta itu sebagai suapan kepada para penguasa supaya kamu dapat memakan sebagian harta dengan cara berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”

Salah satu diantara kejahatan paling keji di dunia ini adalah merampas hak milik orang lain dengan jalan kebohongan, penipuan serta klaim hukum di pengadilan. Kebanyakan dosa-dosa yang lain hanya merupakan cabang dari dosa ini. Islam mengecam praktik perampasan hak milik orang lain tanpa sepengetahuan dan persetujuan orang itu. Demikian juga, adalah tidak syah mengambil hak milik orang lain dengan jalan pengadilan yang salah. Jika seseorang mengambil harta yang bukan haknya dengan jalan yang tidak benar, makan dia pasti akan hancur, meskipun pengadilan memutuskan bahwa harta itu miliknya. Nabi Karim saw. Bersabda:

“Perhatikanlah! Aku tidak lain adalah seorang manusia seperti kalian. Dan mungkin terjadi bahwa ketika seseorang meminta keadilan kepadaku, karena kefasihannya berbicara maka aku memutuskan harta itu miliknya. Tapi jika harta itu ternyata bukan miliknya, maka keputusanku tidak akan menjadikannya menjadi miliknya di hadapan Allah; Ketahuilah bahwa itu tidak lain melainkan sepotong api; maka jika dia mau silahkan makan api itu, atau tinggalkanlah!” (Bukhari).

Ayat ini telah memotong akar kejahatan yang telah mengakar pada jaman ini bahkan pada masyarakat yang mengaku telah maju peradabannya dan telah mendapat pencerahan. Orang pada umumnya tidak menimbang dengan mendalam ketika mempertimbangkan mana yang benar. Hakim memutuskan atas apa yang terlihat. Ketika hakim menyerahkan harta kepada orang itu, dia segera menerimanya dengan tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun, meskipun sebenarnya itu bukanlah hak dia. Tidak penah terpikir olehnya bahwa dalam pandangan Tuhan dia tidak lain melainkan seseorang yang telah merampas paksa harta orang lain.

Ayat ini kebetulan juga sangat mengutuk praktek suap menyuap yang malangnya saat ini sedang sangat merajalela. Di banyak Negara keadilan benar-benar dapat dibeli. Yang lebih parah lagi adalah bahwa dengan praktek seperti ini, seringkali pintu keadilan akan tertutup untuk orang-orang yang benar-benar berhak. Praktek ini terjadi bahkan di Negara-negara barat yang maju dan dianggap lazim terjadi pada beberapa tempat di Negara itu. Nabi Karim saw. Sangat mengecam itu dengan kata-kata yang sangat keras:

“Orang yang memberi suap dan yang menerima adalah sama, dan keduanya adalah terkutuk” (Tirmizi).

Senin, 16 November 2009

Sifat Al Wali Allah Swt (bagian 3)

Allah SWT berfirman:


yang artinya, Ingatlah ! Sesungguhnya, bagi para Auwliya Allah itu tidak ada hauf, ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka yahjanun, bersedih — Yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa — Bagi mereka ada kabar suka dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti — Tidak ada perubahan pada firman-firman Allah; Itulah sungguh suatu kemenangan yang besar. [10:63-65]

Para Auwliya (bentuk jamak dari al-Wali) telah mendapat jaminan dari Allah Taala, bahwa mereka tak akan pernah takut maupun berduka cita selama mereka tetap meningkatkan derajat keimanan dan Taqwa mereka kepada Allah Swt. Bagi para mukminin sejati seperti itu, ada suatu janji bahwa Allah Taala akan menjadi Sahabat dan Penolong mereka. Mereka itulah pewaris berbagai rahmat dan karunia Ilahi, baik di dunia ini maupun di Akhirat nanti.

Kamis, 12 November 2009

Khairul Ummah (Ummat Terbaik)

Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
6 November 2009, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.

Huzur membacakan ayat 111 Surah Al Imran,

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَاْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ‌ؕ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَڪَانَ خَيْرًا لَّهُمْ‌ؕ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

yang terjemahannya sebagai berikut,‘Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan, dan beriman kepada Allah. Dan, sekiranya Ahlikitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka orang-orang fasik.’ (3:111).

Huzur menyampaikan topik yang berkaitan dengan predikat 'Khairul Ummah’ (umat terbaik) sebagaimana yang tercantum di dalam Al Quran, pada Khutbah Jumah beliau ini.
Huzur bersabda, ayat ini mengingatkan kiya tentang keutamaan dan tujuan menjadi seorang Muslim. Tak diragukan lagi, menjadi seorang Muslim sungguh patut disyukuri; yakni, beriman kepada Rasulullah Saw dan kepada Syariat yang terakhir lagi sempurna; sebagaimana yang Allah Taala telah nyatakan,

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ
‘Sesungguhnya, Kami Yang telah menurunkan Peringatan Al Quran ini, dan sesungguhnya kami baginya adalah Pemelihara.’ (15:10).
Hingga hari ini, kita menyaksikan betapa janji Allah Taala telah menzahir dengan segala keagungannya. Hanya Islam-lah yang mendapatkan kemuliaan ini, yang akan terus berlangsung hingga Hari Kiamat. Seorang mukmin sejati hendaknya mawas diri, cukupkah hanya dengan merasa bangga akan pernyataan Ilahi ini; dan juga bila dikaitkan dengan peran seorang Muslim yang terkait dengan Syariat terakhir lagi sempurna ini. ?
Jika Allah Taala telah menyatakan kaum Muslimin sebagai ‘Khairul Ummah’, maka sebaliknya, pengkhidmatan apa yang telah mereka berikan terhadap amanat Ilahi ini. Allah Taala menginginkan dan oleh karena itu memerintahkan kepada kaum mukminin agar beramal shalih segera setelah pernyataan baiatnya.
Dia pun menunjukkan beberapa konsekwensi tanggung jawab dari predikat tersebut. Bagian pertama ayat (3:111) ini menegaskan, bahwa tanggung jawab ini, dan kaitannya dengan berbagai kewajiban sebagai ‘Khairul Ummah’. Huzur menerangkan, tanggung jawab untuk memberikan pengkhidmatan ini tidak terkait kepada suatu bangsa tertentu (Arab}.

Minggu, 08 November 2009

Umat dan Perbedaan

Oleh: A. Mustofa Bisri
www.Gusmus.net

Mula-mula adalah dua sejoli ”imigran” dari sorga, Adam dan Hawa, yang diserahi Tuhan mengelola bumi ini. Kemudian, mereka menurunkan keturunan yang disebut manusia. Manusia berkembang semakin lama semakin banyak meramaikan planet ini. Ketentuan-ketentuan Tuhan yang dibawa dan diajarkan Adam a.s. sebagai panduan untuk mengelola bumi dan wasilah untuk kembali ke sorga, menuju kepada-Nya, semula dipatuhi dan ditaati oleh semua anak-cucunya. Namun dengan perjalanan waktu, kian lama ketentuan-ketentuan itu dilupakan dan diabaikan oleh cicit-cicit Adam yang datang belakangan.



Atas kemurahan dan kasih sayang-Nya, Allah pun mengutus Nuh a.s. untuk mengingatkan manusia kembali kepada ketentuan-ketentuan-Nya itu. Bertahun-tahun, Nabi Nuh a.s mengajak manusia untuk kembali kepada jalan Allah, ketentuan-ketentuan Allah itu, hingga akhirnya Nabi Nuh a.s kehabisan cara untuk menyadarkan mereka. Hanya beberapa puluh orang yang mengikutinya; yaitu mereka--yang ketika banjir azab menyapu manusia— ikut bersamanya dalam bahtera.


Rabu, 04 November 2009

Sifat Al-Wali Allah Taala (bagian 2)

Allah Taala mengingatkan kaum mukminin, kaum kafirin maupun musyrikin di dalam Al Qur’an Karim dengan firman-Nya sebagai berikut(*):

 لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

yang artinya, ‘Untuk dia, rasul itu, ada pergiliran malaikat-malaikat di hadapannya dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah telah berkehendak untuk menghukum suatu kaum, maka tiada yang dapat menghindarkannya, dan tiada bagi mereka penolong selain dari Dia.’ (Surah 13 / Ar Rad : ayat 12)



Selasa, 03 November 2009

Tiga syarat pengabulan doa

Terkadang kita merasa sudah sedemikian banyak berdo'a, namun setelah sedemikian lama belum juga ada tanda-tanda do'a kita dikabulkan. Apakah yang salah? Mungkinkah Tuhan tidak mendengar do'a kita sedangkan Dia adalah Maha Mendengar. Atau ada hal-hal yang menjadi syarat dalam berdo'a yang belum kita penuhi sehingga do'a menjadi tertolak tanpa kita tahu. Lalu, kalau memang ada, apakah syarat-syarat agar do'a yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah.


Berikut ini adalah sebuah kutipan nasihat dari Hz. Mirza Ghulam Ahmad (a.s.) Qadiani berkenaan dengan tiga syarat pengabulan doa.

Sejalan dengan pengetahuan tentang doa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadaku, terdapat tiga persyaratan bagi pengabulan doa.

Pertama, seorang pemohon doa haruslah seorang yang bertakwa penuh, yang menjadikan jalan ketakwaan sebagai kebiasaan hidupnya dan selalu menganut sepenuhnya jalan-jalan ketakwaan disamping merupakan orang yang dapat dipercaya, saleh, menepati janji dan hatinya selalu dipenuhi kecintaan kepada Allah s.w.t.

Kedua, keteguhan hati dan perhatiannya (terhadap mahluk lain) demikian kuat dimana ia bersedia menyerahkan nyawanya sendiri bagi kehidupan orang lain dan bersedia masuk kubur untuk menarik yang lainnya keluar. Hamba-hamba yang diridhoi-Nya sesungguhnya lebih dikasihi Allah dari cinta seorang ibu kepada anak tunggalnya yang cantik. Ketika Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang melihat hamba yang diridhoi-Nya, demi menyelamatkan kehidupan orang lain telah mengorbankan dirinya sedemikian rupa hingga nyawanya sendiri terancam, maka Dia tidak akan membiarkannya mati dalam keadaan seperti itu. Maka demi hamba-Nya itu Dia akan memaafkan dosa orang lain yang sedang didoakannya dan jika orang itu sedang dalam cengkeraman penyakit yang mematikan atau sedang dilanda musibah, maka dengan Kekuasaan-Nya Dia akan memberikan sarana-sarana pelepasan. Seringkali terjadi dimana berdasar takdir semula seseorang sudah akan dihancurkan oleh Tuhan namun karena nasib baik ada seorang yang dekat kepada Tuhan mendoakannya secara tekun maka Tuhan lalu berbalik menolong yang bersangkutan. Semua catatan Tuhan yang telah disiapkan guna penghukuman orang berdosa itu lalu dibatalkan karena yang bersangkutan sekarang dianggap termasuk sebagai sahabat. Adapun Tuhan tidak akan pernah menyulitkan para sahabat-Nya.

Ketiga, adalah persyaratan yang jauh lebih sulit dipenuhi dibanding yang lainnya karena kepatuhan atas persyaratan tersebut tidak berada di tangan mereka yang telah diridhoi Allah s.w.t. tetapi di tangan orang yang meminta bantuan doa bagi dirinya. Persyaratan ini mengharuskan orang bersangkutan mengajukan permohonan doanya dengan segala kerendahan hati, keyakinan penuh, kepastian, niat baik dan penyerahan diri. Ia harus memastikan dalam hatinya bahwa misalnya doa yang dipohonkannya ternyata tidak dikabulkan maka hal itu tidak akan mengganggu kepercayaan dan niat baiknya. Permohonan doa yang diajukannya tidak boleh merupakan suatu ujian atau test melainkan dikemukakan dengan penuh kepercayaan. Ia harus mengajukan permohonannya dengan segala kerendahan hati kepada pribadi yang dimintakan bantuan doanya dan sepanjang memungkinkan, ia harus memelihara hubungan baik dengan yang bersangkutan dengan cara membelanjakan harta, memberikan bantuan dan semua tindakan kepatuhan yang bisa menyentuh hati pribadi bersangkutan. Bersama dengan itu ia harus selalu berfikir baik dan menganggap yang bersangkutan sebagai orang yang memiliki ketakwaan tinggi serta menganggapnya sebagai suatu kekafiran untuk berfikir yang tidak konsisten dengan kesuciannya. Ia harus membuktikan keimanannya kepada yang bersangkutan melalui segala bentuk pengorbanan. Ia tidak akan menganggap ada tandingan lain di dunia dari pribadi tersebut serta mengabdikan diri sepenuhnya sedemikian rupa sehingga siap memberikan nyawa sekalipun atau hartanya atau kehormatannya bagi pribadi tersebut dan tidak akan mengutarakan atau membiarkan hatinya mempunyai fikiran buruk dari sudut apa pun. Ia harus membuktikan dirinya bahwa ia beriman sepenuhnya kepada pribadi tersebut beserta para pengikutnya. Dengan semua persyaratan di atas, ia masih juga dituntut untuk bersabar, bahkan misalnya ia harus kecewa sampai limapuluh kali pun, ia jangan sampai membiarkan keimanan dan niat baiknya terpengaruh dengan cara apa pun.

Orang-orang yang telah memperoleh keridhoan Ilahi memiliki indera perasa yang amat peka dimana mereka bisa menyimpulkan tingkat ketulusan seseorang melalui wujudnya. Orang-orang seperti ini selalu bersifat lemah lembut hati namun mereka adalah orang yang cukup dengan dirinya sendiri. Mereka tidak menyukai orang yang takabur, mementingkan diri sendiri dan munafik. Hanya orang-orang yang bersedia menyerahkan nyawa sekali pun dalam mematuhi mereka yang diridhoi ini yang bisa memperoleh manfaat. Orang yang berfikiran buruk, menentang di dalam hati, tidak mencintai dan berniat buruk terhadap sosok yang diridhoi Tuhan, pasti tidak akan memperoleh kemaslahatan, bahkan hanya menghancurkan dirinya sendiri.

(Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 226-228, London, 1984).

Pengabulan Do'a Merupakan Pengakuan Tuhan

Sebagaimana telah dikemukakan, umat Muslim selalu dianjurkan dalam Surat Al-Fatihah untuk menyibukkan diri mereka dalam berdoa dan mereka diajari doa yang berbunyi:


"Tuntunlah kami pada jalan yang lurus." (S.1 Al-Fatihah:6).

Sudah merupakan ketetapan bahwa doa ini harus dipanjatkan dalam lima shalat setiap harinya. Karena itu salah sekali jika kalian menyangkal sifat spiritualitas daripada doa. Ketentuan Al-Quran menyatakan bahwa doa ini berkaitan dengan keruhanian dan sebagai hasil dari doa tersebut akan turun rahmat berupa keberhasilan dalam berbagai bentuk.


Setiap manusia yang lurus dapat memahami bahwa disamping pengakuan atas takdir, adalah menjadi cara Allah s.w.t. untuk juga tidak akan menyebabkan timbulnya kesia-siaan atau kemubaziran dengan memberikan hasil pada berbagai upaya manusia yang diajukan bersama doa mereka. Di suatu tempat dalam Al-Quran, Allah yang Maha Kuasa menetapkannya sebagai suatu bentuk pengenalan atas diri mahluk-Nya ketika Dia mengabulkan doa mereka yang sedang berada dalam kesulitan, yaitu:




"Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya?" (S.27 An-Naml:63).

Sebagaimana Allah s.w.t. telah menetapkan pengabulan doa sebagai tanda eksistensi-Nya, bagaimana mungkin manusia waras dapat membayangkan kalau doa tidak akan memberikan tanda-tanda pengabulan yang nyata dan menganggap doa sebagai formalitas semata tanpa kandungan spiritualitas di dalamnya? Aku menganggap tidak akan ada seorang muminin hakiki melakukan kesalahan seperti itu. Allah yang Maha Mulia menyatakan bahwa melalui perenungan atas penciptaan langit dan bumi, manusia akan dapat mengenali Tuhan mereka secara benar. Begitu juga kiranya, dengan mengamati pengabulan doa, keimanan kepada Tuhan akan mewujud. Lalu, jika tidak ada nilai spiritualitas dalam doa dan tidak ada rahmat yang mewujud sebagai hasil dari doa, bagaimana mungkin doa seperti itu bisa menjadi sarana guna mengenali Tuhan sebagaimana halnya melalui pengamatan penciptaan langit, bumi dan benda langit? Sesungguhnya Al-Quran telah menunjukkan cara terbaik bagi pengenalan Tuhan yaitu melalui doa. Hanya melalui doa bisa diperoleh pemahaman lengkap yang sempurna akan makna eksistensi Tuhan dan bagaimana mengharapkan karunia dari sekian banyak fitrat-Nya. Doa itu laiknya petir yang menarik seseorang dari jurang kegelapan dan membawanya ke alam terbuka penuh cahaya serta mengantarnya berdiri di hadirat Allah yang Maha Agung. Melalui doa bisa diperbaiki akhlak ribuan pendosa dan yang kotor disucikan.


(Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 259-260, London, 1984).


* * *

Dua Cara Pengabulan Doa

Perlu diingat bahwa pengabulan doa itu terdiri dari dua cara, yang kesatu sebagai cobaan dan yang lainnya sebagai pemuliaan. Sebagai cobaan, terkadang doa dari pendosa dan yang durhaka atau bahkan kafir sekali pun bisa saja dikabulkan, namun pengabulan tersebut tidak mengindikasikan keridhoan hakiki dan lebih banyak merupakan cobaan. Adapun persyaratan dari pengabulan doa yang merupakan pemuliaan adalah si pemohon haruslah seorang hamba pilihan Tuhan dimana tanda dan nur statusnya itu mewujud dalam dirinya.




Tuhan tidak akan mengabulkan doa orang-orang durhaka dalam pengertian hakiki. Dia hanya mengabulkan doa mereka yang dalam pandangan-Nya termasuk orang-orang yang takwa dan patuh kepada-Nya. Perbedaan di antara kedua bentuk pengabulan ini ialah, pada pengabulan doa yang merupakan cobaan tidak ada persyaratan bahwa si pemohon adalah seorang muttaqi dan sahabat Tuhan, dimana Tuhan kepada yang bersangkutan juga tidak akan mewartakan pengabulan doanya secara khusus. Adapun pengabulan doa yang merupakan pemuliaan selalu diikuti dengan tanda-tanda sebagai berikut:

  1. Pertama, si pemohon adalah seorang yang bertakwa, jujur dan sempurna.
  2. Kedua, si pemohon akan menerima warta tentang pengabulan doanya melalui firman Tuhan.
  3. Ketiga, sebagian besar dari doa-doa yang diajukan tersebut bermutu tinggi dan berkaitan dengan masalah-masalah besar dimana pengabulannya menunjukkan bahwa hal itu bukanlah hasil kerja manusia tetapi merupakan contoh khusus dari kekuasaan Tuhan yang dimanifestasikan berkaitan dengan hamba-hamba yang terpilih.
  4. Keempat, pengabulan doa yang merupakan cobaan jarang sekali dikabulkan sedangkan pengabulan doa yang merupakan pemuliaan dikabulkan dalam jumlah yang sangat banyak. Seringkali terjadi seorang pemohon yang pengabulan doanya merupakan pemuliaan menghadapi kesulitan sedemikian rupa sehingga jika yang bersangkutan adalah orang biasa, ia tidak akan mampu melihat jalan keluar kecuali melalui bunuh diri. Banyak terjadi dimana mereka yang cenderung pada duniawi serta jauh dari Tuhan-nya ketika terlibat dalam masalah gawat, kesedihan atau pun petaka, kekacauan dan cobaan yang tidak ada jalan keluarnya, karena kelemahan iman dan kekecewaan kepada Tuhan lalu mengambil jalan pintas minum racun, melemparkan diri dari ketinggian atau menembak dirinya sendiri. Adapun mereka yang dekat kepada Tuhan, jika menghadapi kesulitan akan menerima bantuan secara istimewa karena kekuatan keimanan dan hubungannya yang dekat kepada Tuhan. Karunia Tuhan membimbing tangannya dengan cara yang istimewa sehingga kalbu orang yang menyadari hal demikian akan langsung mengakui bahwa yang bersangkutan memang menikmati bantuan Tuhan.
  5. Kelima, pemohon dari doa yang pengabulannya merupakan pemuliaan selalu menerima karunia Ilahi dimana Tuhan menjadi penjaganya dalam segala hal sehingga kecerahan nur kasih Allah dan tanda pengabulan dari Tuhan serta keceriaan ruhani dan karunia dimanifestasikan dalam wujudnya sebagaimana dinyatakan Allah yang Maha Agung:


    "Engkau dapat mengenal pada wajah mereka kesegaran nikmat itu." (S.83 At-Tathfif:25)
    dan:



    "Ingatlah, sesungguhnya teman-teman Allah itu tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan berdukacita." (S.10 Yunus:63).



(Tasdiqun Nabi, h.43-45 atau Maktubati Ahmadiyya, vol. 3, hal. 75-77).

Rabu, 28 Oktober 2009

BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI?

Oleh: Hadhrat Mirza Tahir Ahmad(r.h.)

(Bagian 4)

Rangkaian tulisan ini diterbitkan pertama kali dalam Al-Furqan, Rabwah, Pakistan tahun 1976. Tiga bagian pertama berhubungan dengan bagaimana hukum-hukum alam digunakan oleh Tuhan untuk menjatuhkan hukuman telah diterbitkan dalam terbitan-terbitan Ahmadiyya Gazette sebelumnya. Tulisan sekarang melanjutkan untuk menguji apa perbedaan antara hukuman Ilahi dengan bencana alam – satu pertanyaan yang sebagian dibahas dalam terbitan Juni 1994.

Ciri-Ciri Khas Hukuman (Azab) Ilahi

Pertanyaan yang kini timbul adalah bahwa jika para penentang Adam(a.s.) disapu dari permukaan bumi; jika tak ada tanda keberadaan dari semua orang yang menolak Nuh(as.); jika orang-orang yang mengejar Musa(a.s.) ditenggelamkan oleh air sungai Nil; jika para penentang Daud(a.s.) dimusnahkan; dan jika orang-orang yang beriman kepada Isa(a.s.) unggul atas orang-orang yang menolak beliau sedemikian rupa hingga yang sedikit menjadi banyak; yang diperintah menjadi yang memerintah dan yang teraniaya, majikan – maka mengapa hukuman dari langit yang bekerja dengan mukjizat sedemikian rupa dalam mendukung nabi-nabi terdahulu hal semacam itu tak ada dalam mendukung Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) yang merupakan Penghulu Para Nabi dan yang paling sempurna dari para rasul? Mengapa keunggulan lahiriah yang didapatkan oleh yang terakhir ini atas para penentangnya adalah jauh lebih singkat dari pada hasil yang didapatkan oleh orang-orang yang mengimani Nabi Isa(a.s.) dalam beberapa abad pertamanya sesudah peristiwa penyaliban atas orang-orang yang menolak Nabi Isa(a.s.)?


Selasa, 27 Oktober 2009

Sifat Al-Wali Allah Taala

Salah satu sifat Allah Swt lainnya adalah Al Wali (Sahabat, atau Penolong).(*) Menurut berbagai Kamus Bahasa Arab, wali artinya penolong. Suatu Dzat yang memelihara seluruh materi dan makhluk ciptaan-Nya. Juga berarti seorang sahabat yang handal. Sebagaimana difirmankan di dalam Surah Al Baqarah, ‘Allahu waliyyulladziina aamanuu…’, yakni, Allah adalah Sahabat dan Penolong orang-orang mukmin, dan yang memenuhi segala kebutuhan mereka. Memberi mereka petunjuk hidayah, serta meneguhkan akidah dan berbagai bukti kebenaran mereka. Bunyi selengkapnya ayat Al Quran tersebut adalah sebagai berikut:
ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ‌ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّـٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَـٰتِ‌ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ
yang artinya, ‘Allah itu adalah Sahabat orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari berbagai corak kegelapan kepada cahaya. Dan bagi orang-orang kafir, sahabat mereka itu adalah orang-orang yang sesat, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai macam kegelapan. Mereka adalah penghuni

Api [neraka], mereka tinggal lama di dalamnya.’ (Surah 2 / Al Baqarah, ayat : 258).
Benar adanya, Allah itu adalah Sahabat bagi kaum mukminin sejati yang keimanannya tidak dicampuri oleh urusan duniawi; melainkan terus meningkatkan maqom kerohanian mereka; yang membawanya dari berbagai corak kegelapan ke dalam cahaya petunjuk; yakni, dari berbagai macam kelemahan rohani maupun duniawi menjadi semakin kuat dan baik.


Minggu, 04 Oktober 2009

Dokumentasi BBC Mengenai Yesus di Kashmir


Ini adalah film dokumentasi 30 menit oleh BBC, memeriksa apa yang terjadi pada Yesus setelah beliau disalibkan, berdasarkan fakta-fakta dari Bible, ilmu sejarah dan ilmu medis: Bagian I, Bagian II, Bagian III.

Fakta-fakta membuktikan persis sebagaimana yang diklaim oleh Al-Quran Karim, "Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir." (Q.S. Al-Mu'minun 23:51)

Apa yang Terjadi Pada Yesus?
Lihat dokumenter yang lain mengenai fakta kebenaran dibalik peristiwa penyaliban Yesus 2000 tahun lalu di YouTube.

Kamis, 01 Oktober 2009

Peringatan Tentang Gempa dan Bencana Lainnya

Allah s.w.t. telah memberitahukan kepadaku bahwa gempa bumi dan berbagai musibah lain akan datang tidak saja di Punjab karena aku tidak diutus hanya untuk Punjab. Aku diutus untuk seluruh umat manusia di bumi. Karena itu aku tegaskan kepada kalian bahwa gempa bumi dan musibah tersebut tidak terbatas hanya untuk Punjab tetapi seluruh dunia bisa mengalaminya. Sebagaimana telah terjadi kerusakan dahsyat di Amerika, hal yang sama akan terjadi di Eropah, lalu hari-hari mengerikan tersebut akan muncul di Punjab, India dan semua bagian Asia. Mereka yang hidup akan menyaksikannya. (Haqiqatul Wahi, hal. 192).