Kumpulan informasi terkini mengenai sabda khalifah islam masa kini. literatur islam yang sesungguhnya dan sebenarnya bagi para pencari kebenaran.
Rabu, 09 Desember 2009
Sifat An-Nur Allah SWT (bagian 1)
اللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ؕ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰٓــُٔهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِؕ اُولٰٓٮِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
yang terjemahannya, ‘'Allah itu Sahabat orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Sedangkan orang-orang kafir, sahabat mereka itu adalah orang-orang sesat yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni Api, mereka tinggal lama di dalamnya.’ (2:258)
Menurut Kamus Bahasa Arab, an-Nur adalah salah satu sifat Allah, yang berkat keberadaan-Nya, keadaan manusia yang sebelumnya 'buta' dapat menjadi melihat; dan mereka yang tadinya sesat menjadi memperoleh petunjuk hidayah berkat karunia-Nya. Dan berkat keberadaan-Nya itulah segala sesuatu menjadi ada. Wujud-Nya berada disebabkan diri-Nya sendiri; lalu membuat segala sesuatu menjadi bukti akan keberadaan-Nya.
Diterangkan pula mengenai Tuhan ini di penggalan ayat 36 Surah Al Nur,
اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
'Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi..…’; yakni, hanya Allah-lah yang mampu memberikan nur cahaya kepada segala makhluk yang berada di langit maupun di bumi. Nur Ilahi adalah cahaya yang memudahkan segala sesuatu dapat menyebar-luas dan menjadi tampak satu sama lain. Nur Ilahi meliputi dunia maupun Akhirat. Namun Nur Ilahi bagi dunia mengandung dua hikmah. Salah satunya adalah hanya dapat dikenali melalui perenungan yang mendalam, atau berkat adanya petunjuk Ilahi.
Selasa, 01 Desember 2009
Selasa, 24 November 2009
Sifat Al Wali Allah Swt (bagian 4)
Firman ALlah dalam Al-Quran ayat 42 Surah Al Ankabut,
مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنڪَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتً۬اۖ
yang terjemahannya sebagai berikut: ‘Permisalan orang-orang yang mengambil selain Allah sebagai penolong-penolong adalah seperti permisalan laba-laba yang membuat rumahnya. Dan sesungguhnya, selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui !’ (29:42)
Sudah jelas dari pernyataan ayat ini, yakni, betapa malangnya bangsa tersebut yang telah meninggalkan khazanah dan sifat Al Wali Allah Swt lalu mencari-cari sumber bantuan lain. Mata mereka nanar demi melihat keuntungan yang bersifat sementara, dan merendahkan faedah [bantuan Ilahi] yang bersifat permanen. Berbagai sumber dan atribut dunia tersebut membuat mereka mengabaikan Keridhaan Allah Taala. Alih-alih menjadi waliullah, yakni sahabat Allah, mereka bersahabat dengan tuhan-tuhan lain selain Allah. Alih-alih masuk ke dalam kuatnya pertahanan perlindungan Ilahi, mereka mengandalkan jalinan perlindungan duniawi semisal jejaring laba-laba.
Senin, 16 November 2009
Sifat Al Wali Allah Swt (bagian 3)
yang artinya, Ingatlah ! Sesungguhnya, bagi para Auwliya Allah itu tidak ada hauf, ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka yahjanun, bersedih — Yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa — Bagi mereka ada kabar suka dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti — Tidak ada perubahan pada firman-firman Allah; Itulah sungguh suatu kemenangan yang besar. [10:63-65]
Para Auwliya (bentuk jamak dari al-Wali) telah mendapat jaminan dari Allah Taala, bahwa mereka tak akan pernah takut maupun berduka cita selama mereka tetap meningkatkan derajat keimanan dan Taqwa mereka kepada Allah Swt. Bagi para mukminin sejati seperti itu, ada suatu janji bahwa Allah Taala akan menjadi Sahabat dan Penolong mereka. Mereka itulah pewaris berbagai rahmat dan karunia Ilahi, baik di dunia ini maupun di Akhirat nanti.
Rabu, 04 November 2009
Sifat Al-Wali Allah Taala (bagian 2)
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
yang artinya, ‘Untuk dia, rasul itu, ada pergiliran malaikat-malaikat di hadapannya dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah telah berkehendak untuk menghukum suatu kaum, maka tiada yang dapat menghindarkannya, dan tiada bagi mereka penolong selain dari Dia.’ (Surah 13 / Ar Rad : ayat 12)
Selasa, 03 November 2009
Tiga syarat pengabulan doa
Berikut ini adalah sebuah kutipan nasihat dari Hz. Mirza Ghulam Ahmad (a.s.) Qadiani berkenaan dengan tiga syarat pengabulan doa.
Pertama, seorang pemohon doa haruslah seorang yang bertakwa penuh, yang menjadikan jalan ketakwaan sebagai kebiasaan hidupnya dan selalu menganut sepenuhnya jalan-jalan ketakwaan disamping merupakan orang yang dapat dipercaya, saleh, menepati janji dan hatinya selalu dipenuhi kecintaan kepada Allah s.w.t.
Kedua, keteguhan hati dan perhatiannya (terhadap mahluk lain) demikian kuat dimana ia bersedia menyerahkan nyawanya sendiri bagi kehidupan orang lain dan bersedia masuk kubur untuk menarik yang lainnya keluar. Hamba-hamba yang diridhoi-Nya sesungguhnya lebih dikasihi Allah dari cinta seorang ibu kepada anak tunggalnya yang cantik. Ketika Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang melihat hamba yang diridhoi-Nya, demi menyelamatkan kehidupan orang lain telah mengorbankan dirinya sedemikian rupa hingga nyawanya sendiri terancam, maka Dia tidak akan membiarkannya mati dalam keadaan seperti itu. Maka demi hamba-Nya itu Dia akan memaafkan dosa orang lain yang sedang didoakannya dan jika orang itu sedang dalam cengkeraman penyakit yang mematikan atau sedang dilanda musibah, maka dengan Kekuasaan-Nya Dia akan memberikan sarana-sarana pelepasan. Seringkali terjadi dimana berdasar takdir semula seseorang sudah akan dihancurkan oleh Tuhan namun karena nasib baik ada seorang yang dekat kepada Tuhan mendoakannya secara tekun maka Tuhan lalu berbalik menolong yang bersangkutan. Semua catatan Tuhan yang telah disiapkan guna penghukuman orang berdosa itu lalu dibatalkan karena yang bersangkutan sekarang dianggap termasuk sebagai sahabat. Adapun Tuhan tidak akan pernah menyulitkan para sahabat-Nya.
Ketiga, adalah persyaratan yang jauh lebih sulit dipenuhi dibanding yang lainnya karena kepatuhan atas persyaratan tersebut tidak berada di tangan mereka yang telah diridhoi Allah s.w.t. tetapi di tangan orang yang meminta bantuan doa bagi dirinya. Persyaratan ini mengharuskan orang bersangkutan mengajukan permohonan doanya dengan segala kerendahan hati, keyakinan penuh, kepastian, niat baik dan penyerahan diri. Ia harus memastikan dalam hatinya bahwa misalnya doa yang dipohonkannya ternyata tidak dikabulkan maka hal itu tidak akan mengganggu kepercayaan dan niat baiknya. Permohonan doa yang diajukannya tidak boleh merupakan suatu ujian atau test melainkan dikemukakan dengan penuh kepercayaan. Ia harus mengajukan permohonannya dengan segala kerendahan hati kepada pribadi yang dimintakan bantuan doanya dan sepanjang memungkinkan, ia harus memelihara hubungan baik dengan yang bersangkutan dengan cara membelanjakan harta, memberikan bantuan dan semua tindakan kepatuhan yang bisa menyentuh hati pribadi bersangkutan. Bersama dengan itu ia harus selalu berfikir baik dan menganggap yang bersangkutan sebagai orang yang memiliki ketakwaan tinggi serta menganggapnya sebagai suatu kekafiran untuk berfikir yang tidak konsisten dengan kesuciannya. Ia harus membuktikan keimanannya kepada yang bersangkutan melalui segala bentuk pengorbanan. Ia tidak akan menganggap ada tandingan lain di dunia dari pribadi tersebut serta mengabdikan diri sepenuhnya sedemikian rupa sehingga siap memberikan nyawa sekalipun atau hartanya atau kehormatannya bagi pribadi tersebut dan tidak akan mengutarakan atau membiarkan hatinya mempunyai fikiran buruk dari sudut apa pun. Ia harus membuktikan dirinya bahwa ia beriman sepenuhnya kepada pribadi tersebut beserta para pengikutnya. Dengan semua persyaratan di atas, ia masih juga dituntut untuk bersabar, bahkan misalnya ia harus kecewa sampai limapuluh kali pun, ia jangan sampai membiarkan keimanan dan niat baiknya terpengaruh dengan cara apa pun.
Orang-orang yang telah memperoleh keridhoan Ilahi memiliki indera perasa yang amat peka dimana mereka bisa menyimpulkan tingkat ketulusan seseorang melalui wujudnya. Orang-orang seperti ini selalu bersifat lemah lembut hati namun mereka adalah orang yang cukup dengan dirinya sendiri. Mereka tidak menyukai orang yang takabur, mementingkan diri sendiri dan munafik. Hanya orang-orang yang bersedia menyerahkan nyawa sekali pun dalam mematuhi mereka yang diridhoi ini yang bisa memperoleh manfaat. Orang yang berfikiran buruk, menentang di dalam hati, tidak mencintai dan berniat buruk terhadap sosok yang diridhoi Tuhan, pasti tidak akan memperoleh kemaslahatan, bahkan hanya menghancurkan dirinya sendiri.
Pengabulan Do'a Merupakan Pengakuan Tuhan
"Tuntunlah kami pada jalan yang lurus." (S.1 Al-Fatihah:6).
Sudah merupakan ketetapan bahwa doa ini harus dipanjatkan dalam lima shalat setiap harinya. Karena itu salah sekali jika kalian menyangkal sifat spiritualitas daripada doa. Ketentuan Al-Quran menyatakan bahwa doa ini berkaitan dengan keruhanian dan sebagai hasil dari doa tersebut akan turun rahmat berupa keberhasilan dalam berbagai bentuk.
Setiap manusia yang lurus dapat memahami bahwa disamping pengakuan atas takdir, adalah menjadi cara Allah s.w.t. untuk juga tidak akan menyebabkan timbulnya kesia-siaan atau kemubaziran dengan memberikan hasil pada berbagai upaya manusia yang diajukan bersama doa mereka. Di suatu tempat dalam Al-Quran, Allah yang Maha Kuasa menetapkannya sebagai suatu bentuk pengenalan atas diri mahluk-Nya ketika Dia mengabulkan doa mereka yang sedang berada dalam kesulitan, yaitu:
"Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya?" (S.27 An-Naml:63).
Sebagaimana Allah s.w.t. telah menetapkan pengabulan doa sebagai tanda eksistensi-Nya, bagaimana mungkin manusia waras dapat membayangkan kalau doa tidak akan memberikan tanda-tanda pengabulan yang nyata dan menganggap doa sebagai formalitas semata tanpa kandungan spiritualitas di dalamnya? Aku menganggap tidak akan ada seorang muminin hakiki melakukan kesalahan seperti itu. Allah yang Maha Mulia menyatakan bahwa melalui perenungan atas penciptaan langit dan bumi, manusia akan dapat mengenali Tuhan mereka secara benar. Begitu juga kiranya, dengan mengamati pengabulan doa, keimanan kepada Tuhan akan mewujud. Lalu, jika tidak ada nilai spiritualitas dalam doa dan tidak ada rahmat yang mewujud sebagai hasil dari doa, bagaimana mungkin doa seperti itu bisa menjadi sarana guna mengenali Tuhan sebagaimana halnya melalui pengamatan penciptaan langit, bumi dan benda langit? Sesungguhnya Al-Quran telah menunjukkan cara terbaik bagi pengenalan Tuhan yaitu melalui doa. Hanya melalui doa bisa diperoleh pemahaman lengkap yang sempurna akan makna eksistensi Tuhan dan bagaimana mengharapkan karunia dari sekian banyak fitrat-Nya. Doa itu laiknya petir yang menarik seseorang dari jurang kegelapan dan membawanya ke alam terbuka penuh cahaya serta mengantarnya berdiri di hadirat Allah yang Maha Agung. Melalui doa bisa diperbaiki akhlak ribuan pendosa dan yang kotor disucikan.
Dua Cara Pengabulan Doa
Tuhan tidak akan mengabulkan doa orang-orang durhaka dalam pengertian hakiki. Dia hanya mengabulkan doa mereka yang dalam pandangan-Nya termasuk orang-orang yang takwa dan patuh kepada-Nya. Perbedaan di antara kedua bentuk pengabulan ini ialah, pada pengabulan doa yang merupakan cobaan tidak ada persyaratan bahwa si pemohon adalah seorang muttaqi dan sahabat Tuhan, dimana Tuhan kepada yang bersangkutan juga tidak akan mewartakan pengabulan doanya secara khusus. Adapun pengabulan doa yang merupakan pemuliaan selalu diikuti dengan tanda-tanda sebagai berikut:
- Pertama, si pemohon adalah seorang yang bertakwa, jujur dan sempurna.
- Kedua, si pemohon akan menerima warta tentang pengabulan doanya melalui firman Tuhan.
- Ketiga, sebagian besar dari doa-doa yang diajukan tersebut bermutu tinggi dan berkaitan dengan masalah-masalah besar dimana pengabulannya menunjukkan bahwa hal itu bukanlah hasil kerja manusia tetapi merupakan contoh khusus dari kekuasaan Tuhan yang dimanifestasikan berkaitan dengan hamba-hamba yang terpilih.
- Keempat, pengabulan doa yang merupakan cobaan jarang sekali dikabulkan sedangkan pengabulan doa yang merupakan pemuliaan dikabulkan dalam jumlah yang sangat banyak. Seringkali terjadi seorang pemohon yang pengabulan doanya merupakan pemuliaan menghadapi kesulitan sedemikian rupa sehingga jika yang bersangkutan adalah orang biasa, ia tidak akan mampu melihat jalan keluar kecuali melalui bunuh diri. Banyak terjadi dimana mereka yang cenderung pada duniawi serta jauh dari Tuhan-nya ketika terlibat dalam masalah gawat, kesedihan atau pun petaka, kekacauan dan cobaan yang tidak ada jalan keluarnya, karena kelemahan iman dan kekecewaan kepada Tuhan lalu mengambil jalan pintas minum racun, melemparkan diri dari ketinggian atau menembak dirinya sendiri. Adapun mereka yang dekat kepada Tuhan, jika menghadapi kesulitan akan menerima bantuan secara istimewa karena kekuatan keimanan dan hubungannya yang dekat kepada Tuhan. Karunia Tuhan membimbing tangannya dengan cara yang istimewa sehingga kalbu orang yang menyadari hal demikian akan langsung mengakui bahwa yang bersangkutan memang menikmati bantuan Tuhan.
- Kelima, pemohon dari doa yang pengabulannya merupakan pemuliaan selalu menerima karunia Ilahi dimana Tuhan menjadi penjaganya dalam segala hal sehingga kecerahan nur kasih Allah dan tanda pengabulan dari Tuhan serta keceriaan ruhani dan karunia dimanifestasikan dalam wujudnya sebagaimana dinyatakan Allah yang Maha Agung:
"Engkau dapat mengenal pada wajah mereka kesegaran nikmat itu." (S.83 At-Tathfif:25)
dan:
"Ingatlah, sesungguhnya teman-teman Allah itu tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan berdukacita." (S.10 Yunus:63).
Rabu, 28 Oktober 2009
BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI?
(Bagian 4)
Ciri-Ciri Khas Hukuman (Azab) Ilahi
Pertanyaan yang kini timbul adalah bahwa jika para penentang Adam(a.s.) disapu dari permukaan bumi; jika tak ada tanda keberadaan dari semua orang yang menolak Nuh(as.); jika orang-orang yang mengejar Musa(a.s.) ditenggelamkan oleh air sungai Nil; jika para penentang Daud(a.s.) dimusnahkan; dan jika orang-orang yang beriman kepada Isa(a.s.) unggul atas orang-orang yang menolak beliau sedemikian rupa hingga yang sedikit menjadi banyak; yang diperintah menjadi yang memerintah dan yang teraniaya, majikan – maka mengapa hukuman dari langit yang bekerja dengan mukjizat sedemikian rupa dalam mendukung nabi-nabi terdahulu hal semacam itu tak ada dalam mendukung Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) yang merupakan Penghulu Para Nabi dan yang paling sempurna dari para rasul? Mengapa keunggulan lahiriah yang didapatkan oleh yang terakhir ini atas para penentangnya adalah jauh lebih singkat dari pada hasil yang didapatkan oleh orang-orang yang mengimani Nabi Isa(a.s.) dalam beberapa abad pertamanya sesudah peristiwa penyaliban atas orang-orang yang menolak Nabi Isa(a.s.)?
Selasa, 27 Oktober 2009
Sifat Al-Wali Allah Taala
ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّـٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَـٰتِۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ
yang artinya, ‘Allah itu adalah Sahabat orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari berbagai corak kegelapan kepada cahaya. Dan bagi orang-orang kafir, sahabat mereka itu adalah orang-orang yang sesat, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai macam kegelapan. Mereka adalah penghuni
Api [neraka], mereka tinggal lama di dalamnya.’ (Surah 2 / Al Baqarah, ayat : 258).
Benar adanya, Allah itu adalah Sahabat bagi kaum mukminin sejati yang keimanannya tidak dicampuri oleh urusan duniawi; melainkan terus meningkatkan maqom kerohanian mereka; yang membawanya dari berbagai corak kegelapan ke dalam cahaya petunjuk; yakni, dari berbagai macam kelemahan rohani maupun duniawi menjadi semakin kuat dan baik.
Jumat, 16 Januari 2009
Sifat Al Nur Allah Swt (bagian. 2)
Tetapi, nur cahaya duniawi pun juga ada dua macam; yang Pertama adalah yang dapat diyakini keberadaannya melalui kedalaman pandangan rohani, atau disebut juga Ma'kul (menyangkut penggunaan akal); dan yang Kedua, adalah cahaya yang dapat diperoleh melalui hikmah; yakni sinar petunjuk yang terdapat di dalam tafsir, yakni, nur Al Qur'an.
Jenis cahaya lainnya ialah yang dapat dilihat pada benda-benda alam, yang disebut Mahsus (yakni, yang terkait dengan panca indera). Sinar cahaya ini terdapat di dalam matahari, bulan dan bintang-bintang.
Suatu contoh cahaya yang dapat dilihat dengan mata jasmani ialah seperti yang difirmankan Allah di dalam Surah Yunus ayat 6:
Perhatikanlah, suku kata yang dipergunakan di dalam ayat ini untuk sinar matahari adalah dzia, sedangkan untuk bulan, nur. Setengah orang boleh jadi menjadi heran, mengapa berbeda. Kamus Bahasa Arab menerangkan, ini dikarenakan dzia lebih berpendar-pendar cahanya dibandingkan dengan nur. Dzia adalah sinar yang bercahaya dari benda itu sendiri, sedangkan nur adalah pantulan sinar yang berasal dari sumber yang lain. Akan tetapi khusus Allah Taala, Dia menyatakan;
Selasa, 17 Juni 2008
Sifat Al-Razzaq Allah Swt (II)
13 Juni 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.
================================
Huzur melanjutkan pembahasan topik Ar-Rizq (Maha Penyedia/Pemelihara) dan sifat Al Razzaq (Maha Penyedia) Allah Taala pada Khutbah Jumah beliau hari ini. Huzur bersabda, sebagaimana beliau telah kemukakan pada Jumah lalu, bahwa Allah Swt menyatakan, hanya Dia-lah yang Maha Pemberi bagi semua makhluk; termasuk manusia; namun sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna, Allah menyediakan bagi mereka rizqi rohani maupun rizqi jasmani. Dan bila kaum mukminin yaqin sepenuhnya kepada-Nya, maka Allah pun akan menyediakan dari berbagai sumber penghasilan, yang bagi orang kafirin tidak mempunyai konsep tentang hal itu.
Huzur bersabda, banyak orang Ahmadi di berbagai negara yang menulis kepada beliau betapa Allah Taala telah mengaruniai usahanya dengan istimewa. Sehingga hal ini menambah keimanannya. Ini merupakan salah satu ciri orang yang beriman, yakni manakala ia menerima berkat dari Allah Taala, maka ia pun segera bersyukur kepada-Nya. Menerangkan perkara ini lebih lanjut, Huzur membacakan ayat 13 Surah Luqman (31:13):
Huzur bersabda, ketika Hadhrat Ibrahim a.s. berdoa untuk anak keturunan beliau, beliau pun mendoakan mereka agar menjadi orang-orang yang senantiasa bersyukur :
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ 14:38
'Ya Tuhan kami, aku telah tempatkan sebagian keturunanku di padang tandus dekat Baitullah, Ya Allah jadikanlah mereka sebagai orang-orang yang suka mendirikan Salat. Sehingga qalbu manusia condong kepada mereka dan mendatangkan berbagai macam buah-buahan, sehingga menjadikan mereka sebagai orang-orang yang bersyukur (Surah Ibrahim ayat 38).
Bekerja keras, Belanja di jalan Allah dan Berdoa.
Huzur bersabda, manakala seorang mukminin memeriksa diri betapa Allah Swt telah mengaruniai mereka, maka ketakwaan mereka pun meningkat. Dan demikianlah hendaknya sikap mereka, agar Allah Swt mengarunia mereka lebih banyak lagi. Allah meningkatkan rizqi-Nya bagi mereka. Dia telah membuktikan hal ini atas mereka yang meningkatkan derajat keimanan mereka, atau yang berupaya untuk itu. Meningkatnya rizqi seorang mukminin bukanlah faktor kebetulan, melainkan sesuai dengan janji-Nya:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ 14:8
‘Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman: 'Bila kamu bersyukur, Aku pun sungguh akan menambahkan karuniaKu. Dan bila kamu tak bersyukur, azabKu sungguh pedih'. (Surah Ibrahim ayat 8).
Huzur bersabda, bagi orang yang tak beriman boleh jadi ia akan menukas, sesuai dengan hukum alam, mereka yang bekerja keraslah yang akan memetik hasilnya, itulah ganjaran bagi mereka. Akan tetapi, bagi orang yang beriman, bekerja keras yang diiringi dengan iman dan taqwa akan memperoleh ganjaran pahala yang berlipat ganda. Bahkan bila pun ada sesuatu ketidak-sempurnaan dalam ikhtiarnya, Allah Swt akan berkenan untuk menutupinya.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, Allah berfrman, Dia adalah Razzaq bagi mereka yang menjalani hidup taqwa. Huzur bersabda, adalah pengalaman pribadi beliau maupun para petani Ahmadi yang menulis kepada beliau, manakala hasil panen mereka lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang ghair-Ahmadi, mereka bertanya-tanya upaya extra apa yang telah mereka lakukan ? Mereka menjawab, ini hanya dikarenakan 1/10 atau 1/16 dari keuntungan yang diperoleh, mereka belanjakan di jalan Allah. Inilah sedikit kerja extra yang akhirnya membawa berkah itu.
Membacakan ayat 4 Surah Al Talaq (65:4) Huzur bersabda, Allah memberi ganjaran pahala kepada orang mutaqin dari arah yang tak disangka-sangka. Namun karunia istimewa ini bersyarat; yakni manakala Allah Swt sudah bersifat Al Razzaq bagi hamba-hamba-Nya yang sejati, maka hamba-Nya pun harus berupaya untuk menjalani hidup taqwa.
Hanya Dari Rizqi Yang Thayyib.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, seseorang yang berusaha menjauhi perbuatan dosa yang sekecil-kecilnya karena takut akan Allah, maka Allah pun akan menjauhinya dari kesulitan. Atas dasar ini, Huzur bersabda, pelajarilah tunjangan sosial yang diberikan di dalam sistem pemerintahan negara-negara Barat. Tunjangan ini diberikan untuk mereka yang dikarenakan sesuatu hal menjadi penganggur atau penghasilannya di bawah standar kelayakan hidup. Bahkan beberapa negara Barat ini memberikan tunjangan sosial tersebut dalam jumlah yang mencukupi, termasuk negara Inggris ini. Namun disayangkan, kata Huzur, ditengarai ada beberapa orang yang mengklaim tunjangan sosial tersebut hingga mereka memperolehnya meskipun sebetulnya mereka mempunyai usaha kecil, atau pekerjaan tidak resmi. Atau mereka sambil menyupir taxi. Huzur bersabda, semua ini perbuatan yang jauh dari standar taqwa. Dengan tidak berterus terang penghasilan yang diperolehnya, orang-orang semacam ini mengelabui sistem pajak pemerintahan mereka. Artinya mereka pun berbuat curang terhadap mereka yang taat pajak. Dengan demikian jauh dari ketakwaan; mereka berbuat munkar. Tak peduli segelintir apapun jumlahnya, orang-orang semacam itu bukan saja menjauhkan diri mereka dari Allah, tetapi juga menjatuhkan nama baik Jamaat.
Huzur bersabda, dengan memberi informasi yang tidak benar, mereka berhasil memperoleh beberapa pound-sterling, akan tetapi pada hakekatnya perbuatan mereka tersebut sama halnya dengan menafi'kan Allah sebagai Al-Razzaq. Pemerintah sudah mengantisipasi hal ini. Cepat atau lambat, perbuatan mereka akan diketahui. Dan pemerintah pun mengetahui, bahwa orang-orang Ahmadi tidak mengelabui fasilitas tunjangan sosial ini. Jika mereka [pejabat pemerintahan] berubah pikiran, tentulah mereka pun tidak mempercayai Jamaat lagi. Huzur bersabda, beliau telah memerntahkan tuan Amir Jamaat, agar mewaspadai orang-orang semacam ini. Jika kedapatan, harap jangan terima Chandah mereka. Penolakan Chandah mereka tidak akan berdampak apapun terhadap Jamaat. Malah akan membersihkan berbagai iuran yang masuk, yang didasari oleh ketakwaan.
Bila orang tidak mengindahkan Allah sebagai Al Razzaq, maka dinullah-Nya pun tidak memerlukan harta benda mereka. Huzur menasehati, bila mereka yakin sepenuhnya kepada Allah Al-Razzaq, maka berbagai karunia-Nya pun melimpah, dan akan terus membuat generasi muda mereka merasa berkecukupan, tidak akan iri terhadap harta benda orang lain. Hal inilah yang membawa mereka ke ketaqwaan. Huzur bersabda, adalah doa beliau untuk semua orang, semoga Allah menyelamatkan kita semua dari sifat tamak.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, menurut Alquran, salah satu ciri orang yang mutaqi adalah Allah Taala menjauhkan dirinya dari hal-hal yang mudharat, dan Allah sendiri yang menjadi penjaminnya. Mereka tetap beristiqamah ketika sedang diterpa kesulitan agar memperoleh keridhaan Tuhan. Maka jika ia menjadi yaqin sepenuhnya kepada Allah, maka Allah pun serta merta akan memberikan pertolongan-Nya. Dia itulah Yang Maha Pemurah. Namun Dia itu pula yang senantiasa menyuruh kita agar selalu berada di atas jalan yang lurus dan mensucikan diri mereka, agar Dia berkenan menambahi rizqi kita:
وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ 30:40
'...apapun yang kamu Zakatkan, jika semata-mata karena Allah – itulah yang akan melipat-gandakan harta benda mereka.’ (Surah Al Rum ayat 40).
Boleh jadi ada setengah orang yang mencoba berkelit, tak apalah memperoleh klaim tunjangan sosial tersebut (padahal berpenghasilan), kan nantinya membayar Chandah. Huzur bersabda, Allah tidak menginginkan uang yang berasal dari semacam itu dibelanjakan di jalan-Nya. Dia telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ
‘Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah dari bagian yang suci dari penghasilanmu, dan juga dari segala apa yang Kami hasilkan dari muka bumi; jangan sekali-kali membelanjakan dari hal yang buruk …’ ( 2:268).
Huzur mengingatkan, harta yang dihasilkan dari yang tidak thayyib (suci) tidak akan mendatangkan kesucian. Kalaupun diperoleh karena ketidak-fahaman, harus cepat-cepat meninggalkannya. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan, salah satu ciri orang yang beriman/taqwa di dalam Alquran, ialah rizqinya akan tersucikan, ini dikarenakan mereka: '...wa mimma razaqna hum yunfiqun, ialah, membelanjakan apapun yang kami telah rizqikan kepada mereka’ (2:4).
Huzur bersabda, pencuri, perampok dan penyamun pun bisa hidup dengan cara mereka itu. Akan tetapi dapatkah dikatakan penghasilan mereka itu dari Tuhan ? Di Pakistan ada orang-orang yang memperoleh penghasilan dengan cara-cara yang tidak sah, namun mereka katakan Allah-lah yang memberinya, padahal jelas-jelas berasal dari sumber-sumber syaitani. Bahkan mereka yang mendulang bisnis besar dengan cara yang salah tersebut memasang plakat di atas pintu-pintu rumah mereka: ‘Haza min Fazli Rabbi’ (berkat karunia Tuhan kami): “Inna lillahi...! (sungguh ironis). Para politisi pun ikut-ikutan membangkrutkan negara.
Tingkatkan Pengorbanan, dan Yakinlah.
Mengingatkan kembali topik utama Khutbah, Huzur bersabda, setiap Ahmadi hendaknya memastikan penghasilan mereka berasal dari sumber-sumber yang halal. Bila mereka berkeinginan untuk menambah penghasilan, cobalah belanjakan di jalan Allah semata-mata karena-Nya. Kemudian, lihatlah hasilnya. Ada setengah Ahmadi yang menyurat, mereka tak dapat menentukan jumlah Chandah mereka sepersekian dari penghasilan dikarenakan penghasilannya tidak tetap, atau mengalami sesuatu kesulitan dalam pekerjaannya. Untuk orang-orang semacam ini silakan meninjau kembali pembayaran Chandah mereka, tetapi harus berdasarkan ketaqwaan (takut akan Tuhan). Membacakan ayat 216 Surah Al-Baqarah (2:216) Huzur bersabda, seorang mukmin yang sempurna akan selalu berusaha membelanjakan harta benda mereka di jalan Allah dengan sebesar-besarnya. Memang ada sebagian orang yang mengalami kesulitan hidup, tetapi tidak mengurangi pembayaran Chandah mereka.
Huzur mengingatkan doa maqbuliat ajaran Hadhrat Rasulullah Saw yang sangat penting untuk zaman sekarang ini, ialah, Allahumma as'aluka ilman nafian, wa rizqan thayyiban, wa amalan mutaqabalan, yang artinya, ‘Ya Allah, berilah hamba ilmu yang bermanfaat, rizqi yang thayyib, dan amal pekerjaan yang makbul.’
Menolak Rizqi Rohani Mengais Fulus Syaitani.
Huzur bersabda, pada Khutbah Jumah yang lalu beliau telah menerangkan, salah satu arti Rizqi adalah bagian (atau andil, share); dan bagian ini dapat mengandung arti baik maupun buruk. Membacakan ayat 83 Surah Al Waqi’ah (56:83), wa taj'aluna rizqakum annakum tukadzibun ? yang artinya: “Dan engkau menyangkali kebenaran hanya dikarenakan demi mata pencaharianmu ?'
Huzur bersabda, Surah ini mengemukakan nasib orang-orang yang bersyukur dan yang tidak bersyukur di zaman 'kaum awalin' maupun di zaman 'kaum akhirin' kini. Ayat tersebut mengemukakan, barang siapa mencari kehidupannya dengan cara-cara yang tidak halal berarti menjauhkan dirinya dari ketaqwaan. Dan dikarenakan sikap khawatir mereka terhadap hal-hal duniawi, maka mereka pun akhirnya jatuh ke dalam perangkap Syaitan. Setengah orang semacam ini, yakni yang takut akan nasib duniawi mereka, sebagian dari mereka ini adalah kaum mullah/ulama yang tidak mau menerima kebenaran disebabkan mereka takut kehilangan kekuasaan atas pengikut/massa mereka berdasarkan keyakinan mereka itu. Pendek kata, para politisi dan kaum mullah tersebut memahrumkan diri mereka sendiri dari rizqi rohani yang Allah Taala telah kirimkan untuk zaman ini dikarenakan demi mempertahankan penghasilan mereka yang tidak thayyib. Sehingga pekerjaan mereka itulah menolak kebenaran. Inilah yang kini tengah terjadi, dimanapun ada penentangan terhadap Jamaat Ahmadiyah, hal ini disebabkan kolaborasi para politisi dengan kaum mullah. Dan tasyakur Seabad Khilafat kita telah menyulut lagi sikap hasad (dengki) mereka. Bagaimanapun juga politikus tidak berminat terhadap masalah agama. Namun, bila mereka tidak mendengar keinginan kaum mullah, mereka pun takut kehilangan suara pendukung. Artinya, mereka takut kehilangan rizqi mereka yang tidak thayyib itu. Sementara itu kaum mullah pun takut kehilangan penghasilan mereka dari dukungan dana untuk berbagai madrasah / pesantren yang mereka atas namakan untuk itu. Walhasil, rizqi mereka sangat tergantung kepada aktivitas penolakan mereka terhadap kebenaran. Inilah mengapa sebabnya mereka gigih menolak kebenaran; yakni agar mereka memperoleh penghasilan. Namun, nasib mereka akan berakhir sebagaimana telah dinyatakan di dalam Alquran, wa tashliyatu jahiim, terbakar di dalam gejolak api Jahanam' (56:95). Di Pakistan dan di Indonesia terjadi berbagai aksi anti-Ahmadiyah hanya dikarenakan kolaborasi para politisi dan kaum mullah. Mereka berupaya membodohi publik dengan isue “penodaan terhadap agama” demi “kemuliaan” agama mereka.
Oleh karena itu kepada kaum Ahmadi, Huzur menasehati agar tetap beristiqamah, sabar dan terus menerus berdoa. Kita telah menerima kebenaran Hadhrat Imam Mahdi a.s., maka jadikanlah diri kita lebih dekat kepada Allah Swt; yang telah memberi kabar suka bagi siapa yang telah berhasil memperoleh qurb-Nya. Huzur bersabda, seorang tokoh besar di Pakistan suatu hari telah bersumpah akan menyusahkan Jamaat sehingga menjadi miskin. Namun apa yang terjadi atas nasib dirinya telah diketahui semua orang. Sementara itu Jamaat ini memperoleh karunia semakin bertambahnya perbendaharaan harta mereka, baik secara Jamaah maupun perorangan. Seorang tokoh besar lainnya bertekad akan menghabisi Jamaat dengan berbagai cara. Namun dunia menyaksikan akhir tragedi kehidupannya. Sementara itu, dengan karunia Allah Taala, berbagai fasilitas dan cara telah semakin terbuka luas bagi kemajuan Jemaat. Allah Swt telah menunjukkan berbagai jalan kemudahan yang menunjukkan bahwa Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Al-Malik, sebagaimana dinyatakannya di dalam Alquran (51:59), 'innallaha huwa razzaqu dzulquwwatil matin; Seungguhnya Allah-lah Ar-Razzaq, Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.’
Sabar, Istiqamah &Doa (Ke Amerika Serikat & Canada).
Huzur bersabda, pasca [tasyakur Seabad Khilafat] 27 Mei 2008 terjadi peningkatan anti-Ahmadi di Pakistan. Para mahasiswa kedokteran Ahmadi – bahkan sebagian di antaranya sudah di tingkat akhir – telah dikeluarkan dari Universitas mereka di Faisalabad. Para penganiaya itu berpikir, dengan ancaman terhadap 'rizqi' [studi] mereka itu, mereka akan menyangkali kebenaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s. Di beberapa kota beberapa rumah milik orang Ahmadi dibakar. Mereka berpikir, kita akan menukar keimanan kita. Mereka tidak mengetahui, bahwa kita beriman kepada Allah, dzulquwwatil matin; Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.’
Kepada kaum Ahmadi di Indonesia, Huzur bersabda, meskipun mereka [pejabat pemerintahan] tidak melarang Jamaat Ahmadiyah secara terang-terangan, namun mereka telah membuat situasi sedemikian rupa yang akan menjurus kepada pelarangan. Maka kaum Ahmadi Indonesia hendaknya lebih khusyu dalam peribadatan dan doa-doa mereka. Betapa Allah Swt telah meningkatkan keadaan Jemaat di Pakistan [meskipun penganiayaan tiada henti]; maka hal ini pun akan terjadi di Indonesia. Huzur bersabda, saatnya tidak akan lama, siasat mereka itu akan berbalik kepada diri mereka sendiri. Huzur memaklumatkan kepada seluruh kaum Ahmadi agar mendoakan saudara Ahmadi mereka di Pakistan dan juga di Indonesia.
Huzur bersabda, minggu yang akan datang beliau akan bermuhibah ke Amerika Serikat dan Canada. Berbagai persiapan telah dibuat untuk menyelenggarakan [perayaan] Seabad Khilafat yang dikaitkan dengan Jalsah mereka. Kaum Ahmadi di kedua negara tersebut telah menyampaikan dambaan mereka agar Huzur berkenan datang. Bertemu muka secara langsung memang memberi banyak hikmah kebaikan. Rencana kunjungan ke Amerika Serikat ini merupakan yang pertama kali, oleh karena itu, semoga Allah memperlihatkan bantuan dan pertolongan-Nya yang khas. Semoga kunjungan muhibah ini diberkati Allah dalam setiap seginya. Dan semoga pula tujuan hakikinya dapat terpenuhi. Huzur bersabda, kita semua telah memperbaharui janji setia kita kepada Khilafat di awal abad kedua-nya ini, semoga Allah menghembuskan ruh semangat baru kepada kita sekalian. Akhirnya Huzur berdoa, semoga Allah Swt menghilangkan segala kesulitan dalam perjalan muhibah tersebut.
transltByMMA/LA061608
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
=============================
Synopsis of Friday Sermon (13-Jun-08) prepared by Sister Shermeen Butt
Huzur continued with the subject of Rizq (provision/sustenance) and Divine attribute of Al Razzaq (The Provider) in his Friday Sermon today. Huzur said as he had mentioned last week Allah declares that He alone is the Provider of all creation and for man, who is the most eminent of all creation, Allah provides material as well as spiritual sustenance. Allah states that if the believers put their trust in Him He provides from sources that those who do not believe have no concept of.
Huzur said Ahmadis write to him from various countries of the world about their experiences of how Allah has blessed their business and is bestowing them beyond their hopes. This increases their faith. Fact is that it is a sign of a true believer that when he/she receive a blessing his/her attention is promptly drawn to Allah in thankfulness. Explaining further, Huzur cited verse 13 of Surah Luqman (31:13) – ‘And We bestowed wisdom on Luqman, saying, 'Be grateful to Allah: and whoso is grateful, is grateful only for the good of his own soul. And whoso is ungrateful, then, surely, Allah is Self-Sufficient, Praiseworthy.’ Huzur said when Hadhrat Ibrahim (on whom be peace) had prayed for his progeny he had also supplicated for them to be grateful:
'Our Lord, I have settled some of my children in an uncultivated valley near Thy Sacred House - Our Lord, - that they may observe Prayer. So make men's heart incline towards them and provide them with fruits that they may be thankful.’ Surah Ibrahim verse 38. Huzur said when a believer observes Allah’s blessings he is grateful and this causes an increase in his taqwa (righteousness) and indeed it should. Allah then bestows further blessings, with His grace He increases their Rizq. He has this dealing with those who have enhanced belief or those who endeavor to enhance their belief. The increase in the Rizq of a believer is not accidental but is in accordance with Divine promise: ‘And remember also the time when your Lord declared: 'If you are grateful, I will surely bestow more favors on you; but if you are ungrateful, then know that My punishment is severe indeed.' Surah Ibrahim verse 8. Huzur said it may be said about those who do not believe that in accordance with the law of nature their hard work bears fruit and they are thus rewarded, however, for a believer, when along with hard work there is belief and taqwa then the reward is much greater and even if there is some lapse in the effort made, Allah makes up the deficiency.
The Promised Messiah (on whom be peace) said that Allah has declared that He is the Razzaq of one who adopts taqwa. Huzur said it was his personal experience as well as Ahmadis write to him that when their harvest is greater than the non-Ahmadis they are asked what extra effort did they make to get a greater yield. Their answer is that the one tenth or the one sixteenths of their income that they give in the cause of Allah is their ‘extra’ bit and it is this that brings the blessings.
Citing verse 4 of Surah Al Talaq (65:4) Huzur said Allah provides for those who are righteous from unexpected means. This extraordinary blessing has a condition; when Allah manifests His attribute of Al Razzaq for His servant then His servant too should make effort in adopting and adhering to taqwa.
The Promised Messiah (on whom be peace) said that one who will shun the smallest of sins for fear of Allah will be saved from trouble by Allah. With reference to this Huzur said he wished to draw attention towards the social benefits system that some Western governments provide to the unemployed or those on low income to bring their standard of living to an acceptable level. Some Western countries are most generous with these benefits and the British government is also commendable in this respect. However, Huzur said there are some who claim these ‘benefits’ despite having a small business or an employment which is perhaps not obvious. There are some who drive taxi-cabs but take the ‘benefit’. Huzur said this is outside the parameters of taqwa. By not declaring their income these people are thieving the government of its tax revenue. They also usurp the tax paid by the law-abiding citizens and of course far from taqwa, they commit falsehood. No matter how few people do this, not only they distance themselves from Allah they also bring down the repute of the Community. Huzur said by giving wrong information they gain a few pounds [sterling] but by their actions they state that God is not their provider. The government is aware of these things and sooner or later gets of know about these people and it closes in on them. Huzur said the government is aware that Ahmadis do not defraud the benefits system. If they change their mind then their trust in the Community will come to an end. Huzur said he has told Ameer sahib that if he finds out about anyone who indulges in this deception then their chanda should not be taken. The cessation of their chanda will not make any difference to the Community at all and at least whatever funds we offer in the cause of Allah will be pure. Huzur said if one does not consider Allah as Razzaq then Allah’s religion is in no need of one’s money. Huzur enjoined that if one fully believes in Allah as the Provider then His blessings are great and this in turn generates contentment and once one is content one does not eye the wealth of another and this fosters taqwa. Huzur said it was his prayer for everyone that may Allah save us from all kinds of greed.
The Promised Messiah (on whom be peace) said that one sign of the righteous as stated in the Holy Qur’an is that Allah frees him/her from what is disagreeable in the world and Himself becomes his/her Guarantor. Huzur added that one should be steadfast during adversity to attain God. If trust is put in Allah then He will certainly provide help. He is so Gracious that He repeatedly draws our attention to ways and means of purifying and thus enhancing our Rizq: ‘…whatever you give in Zakat, seeking the favor of Allah - it is these who will increase their wealth manifold.’ Surah Al Rum verse 40. Huzur said one may say that even if one claims some benefits money [inappropriately] at least one pays chanda on it, so it does not matter. Huzur said Allah does not wish such money spent in His cause. He states: ‘O ye who believe! Spend of the good things that you have earned, and of what We produce for you from the earth; and seek not what is bad to spend out of it…’ 2:268. Huzur reiterated that money earned by wrong means cannot be pure. He said if one is taking benefit due to any misunderstanding one must desist. Indeed Allah states a sign of believer in the Holy Qur’an that his/her Rizq would be pure by declaring that they: ‘spend out of what we have provided for them;’ (2:4) Huzur said thieves, robbers and hoarders all make a living, can they say their livelihood comes from Allah? In Pakistan people make money through unwarrantable means and then say Allah has granted them, whereas their wealth is made from satanic sources. In Pakistan big business people have the words ‘Haza min Fazle Rabbi’ (with the grace of my Lord) written in front of their houses. Huzur said Inna lillahe. The politicians are also looting the country. Reiterating his earlier point Huzur said each Ahmadi should ensure that their income is through pure means. If they wish to increase their income they should try giving in the name of God and then observe what results it brings. Huzur said some people write to him that they pledged chanda not able to foresee their income or have employment difficulties, such people can review their chanda with taqwa. Citing 2:216 Huzur said a believer always tries to spend as much as possible in the way of Allah. Certainly there are some who bear hardship but do not lessen their chanda.
Huzur drew attention towards a prayer of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him which he said is most significant in the current age. Its translation reads: ‘O Allah I seek from You knowledge that is beneficent/beneficial, provision (Rizq) that is pure and deeds that are worthy of acceptance.’
Huzur said in his last Friday Sermon he had said that one meaning of Rizq is share and a share can be good and bad both. Citing verse 83 of Surah Al Waqi’ah ‘And do you make the denial thereof your means of livelihood?’ Huzur said this Surah mentions that fortunate and the unfortunate people from the ‘earlier ones’ and the ‘latter ones’. The aforementioned verse cites those who make a living out of rejection [of the truth], they are devoid of any fear of God and only have fear of the world and they end up in the embrace of Satan. Some of these people have fear of the world and others who deem themselves to be religious scholars do not wish to believe the truth because they fear that by doing so they will lose the power they have over the masses through their ‘religious’ platform. In short the politician and the mullah deprive themselves of the spiritual sustenance that Allah has sent in this age due to their impure earnings. Their task remains only to reject the truth. Today wherever in the world there is opposition to Ahmadiyyat the politician and the mullah are together. The completion of a hundred years of our Khilafat has flared sentiments of jealously and malice among them. The politicians are not interested in religion however, if they do not listen to the mullah, they fear losing votes and losing Rizq that is not pure. On the other hand the mullah only fears loss of his earnings that he makes in the name of Madrassas and such like. Their Rizq is dependent on denying the truth and that is the reason why they reject the truth and make their living. Their end is as the Qur’an states in 56:95. In Pakistan as well as in Indonesia opposition against us is because of the alliance of the politicians and the mullah. They make fools out of the masses by inciting them to rise for their religious ‘honor’.
To the Ahmadis Huzur said be steadfast and patient and be prayerful. We have accepted the Promised Messiah (on whom be peace) and this makes us close to Allah and He gives glad tidings to those who are close to Him. Huzur said one despot in Pakistan had once proclaimed that he would reduce us to holding a beggar bowl. What happened to him is known to all, while the Community was granted financial extensiveness both on individual as well as communal level. Another despot tried to immobilize us in every sense of the word and indeed the world saw his end as well. Meanwhile, with the grace of God, ways and means of our progress and advancement were open wide. Allah has manifested in every possible way to be our Provider and our Master just as He states in 51:59 ‘Surely, it is Allah Himself Who is the Great Sustainer, the Powerful, the Strong.’
Huzur said post 27th May ’08 there has a rise in persecution against the Ahmadis in Pakistan. Ahmadi medical students, some of them in their final years, were expelled from a college in Faisalabad. The persecutors assumed that with their Rizq threatened these students might reject the Promised Messiah (on whom be peace). In other cities Ahmadi houses are burnt. They assumed we would barter our faith. Little did they know we believe in the Powerful, Strong God.
To the Ahmadis in Indonesia Huzur said although they have not had a ban but a situation has been created which is tantamount to a ban. Ahmadis in Indonesia should focus on prayer. Allah’s grace has increased in Pakistan (despite the persecutions) and this will be replicated in Indonesia. Huzur said the time is not far when their cunning will rebound on them. Huzur asked all Ahmadis to pray for Ahmadis in Pakistan and Indonesia.
Huzur said next week he is going on a visit of USA and Canada. Keen preparations are being made there for the Khilafat Centenary and both countries will also hold their respective Jalsas. Huzur said people in the two countries have expressed their intense desire for Huzur to visit them. He said meeting in person does have many advantages. Huzur said this is his first visit to USA, may Allah manifest His help and succor during this visit and may the trip be blessed in every way and may all the objectives of the trip be fulfilled. Huzur said we are pledging new pledges for the new Century [of Khilafat] may Allah also infuse a new spirit in us. Huzur prayed that may Allah ease any difficulty of the journey.
Archives of Friday sermons/summaries can be found at http://www.alislam.org/archives/index.html
Kamis, 03 April 2008
Khutbah : Sifat Al-Rafiq Allah Swt. - Tanggapan atas film 'FITNA'

Sifat Al-Rafiq Allah Swt.
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Aba
28 Maret 2008, di Masjid Baitul Futuh, London, UK
==================================
Pada Khutbah Jumah ini Huzur menerangkan bagian awal sifat Al Rafiq Allah Swt, yang artinya adalah bersikap lembut dan baik, teman serta sahabat. Menurut kamus Bahasa Arab, 'rafiq' adalah dia yang tidak mendatangkan sesuatu kemudaratan apapun. Melainkan hanya memberi faedah belaka; senantiasa bersimpati, dan melakukan segala tugas pekerjaannya tanpa cacad. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. memperoleh makrifat hakekat sifat Allah Swt Al-Rafiq ini pada tahun 1903. Ketika itu akan berjangkit wabah penyakit pes yang luas dan mematikan. Melalui wahyu-Nya, Allah Swt mengajari beliau doa ‘Ya Hafiz, Ya Aziz Ya Rafiq’ agar beliau [dan seluruh anggota Jamaah] terhindar dari wabah penyakit tersebut.
Sedangkan sifat Al Aziz (Yang Mahagagah) dan Al-Hafiz (Yang Mahapelindung) adalah dua sifat Allah Swt lainnya [yang akan diterangkan kemudian].
Huzur bersabda, pada umumnya semua manusia memperoleh manfaat dari sifat Rafiq Allah Swt; akan tetapi hanya beberapa orang saja yang menyadarinya dengan cara menjadi hamba-hamba Tuhan yang sejati; yakni kembali kepada Allah dengan seikhlas-ikhlasnya; sehingga berhasil menjadikan wujud Tuhannya sebagai Rafiqul-Ala (Karibun-Ala, Karib Yang Mulia). Salah satu di antara mereka yang sedikit itu adalah Rasulullah Saw, yang merupakan contoh yang paripurna, yakni berhasil membumikan Allah Swt sedemikian rupa, sehingga ruh beliau pun seakan-akan sudah berpisah dari kehidupan duniawi ini (sudah fana fillah). Beliau berhasil memberi hikmah pengertian kepada kita sedemikian rupa, yakni seperti itulah hendaknya manusia berupaya menjadikan Allah Swt sebagai Karibun'Ala (Sahabat Yang Mahakarib) alih-alih memilih [sesuatu kekuatan] duniawi.
Tanggapan Atas film 'Fitna'
Huzur bersabda, aktivitas kaum penentang Islam saat ini semakin meningkat; sedangkan kita hanya memiliki Dia yang Al-Rafiq tempat kita mengadu, yang Pertolongan-Nya dapat diandalkan untuk menghadapi mereka. Salah seorang musuh Islam yang saat ini sedang diam-diam bersiasat adalah – Geert Wilder, seorang politikus Belanda yang anti-Islam telah membuat sebuah film yang melecehkan Islam. Film buruk tersebut rencananya akan ditayangkan hari ini di sebuah stasiun TV. Namun sebenarnya sudah ditayangkan di sebuah stasiun TV lokal kemarin dan juga di internet. Ini dikarenakan berbagai stasiun TV besar berskala nasional menolak untuk menayangkannya. Semoga Allah Swt senantiasa memberi petunjuk dan hidayah kepada mereka agar senantiasa dapat menolak segala bentuk keburukan. Huzur bersabda, Mr.Wilder ini berkeberatan terhadap ayat 5 Surah Muhammad (47:5), yang pada hakekatnya bukanlah sesuatu hal yang baru, melainkan lagu lama. Pada kenyataannya falsafah ajaran Islam berdasarkan cinta kasih dan peka terhadap hak-hak orang lain; akan tetapi perlu penjelasan lebih lanjut segi lain dari ajaran tersebut. Ajaran Islam senantiasa mengambil jalan tengah, tidak keras, tidak pula lembek. Mereka yang hanya melihat kepada segi 'kelembekan' menunjukkan bahwa mereka itu sebenarnya adalah golongan orang yang suka mengumbar dendam kesumat seperti halnya Mr. Wilder ini.
Huzur bersabda, beliau ingin agar kaum Ahmadi menyimak sesuatu hal dengan seksama; berkaitan dengan hal ini, banyak-banyak bershalawat kepada Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw adalah sangat penting. Mereka yang melaksanakannya dengan dawam akan memperoleh banyak keberkatan. Hal ini sebenarnya sudah dicantumkan di dalam Doa-doa Program Rohani menyambut Peringatan Seabad Khilafat Ahmadiyah. Oleh karena itu mohon diperhatikan kembali. Menerangkan lebih lanjut banyaknya keberkatan dalam bershalawat kapada Rasulullah Saw berdasarkan berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzur besabda, kita hendaknya banyak-banyak membaca shalawat sehubungan dengan meningkatnya siasat musuh-musuh Islam yang tengah mencoba mencemarkan nama baik Rasulullah Saw. Meskipun usaha mereka itu tidak akan berhasil, tetapi sebagai satu kesatuan di dalam Jamaah [Ahmadiyah] kita haruslah banyak-banyak bershalawat. Sehingga secara keseluruhan jumlahnya akan mencapai jutaan kali. Kita hendaknya kembali mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, agar diberi kemudahan dalam menyiarkan ajaran Islam ke seluruh dunia dengan cara yang sebaik-baiknya.
Huzur bersabda, kita hanya berupaya untuk menjernihkan keadaan. Oleh karena itu kita tidak percaya dengan cara-cara main hakim sendiri. Karena kita meyakini pertolongan Allah Swt, yang berkuasa atas segala sesuatu. Oleh karena itu takutlah kepada-Nya dan rubahlah akhlakmu. Manakala kita mencoba untuk mewujudkan berbagai sifat Allah di dalam diri kita, artinya kita harus dapat merubah akhlak perangai kita. Inilah senantiasa yang harus dapat kita lakukan, artinya kita menyerahkan perkaranya kepada Allah Swt.
Huzur selanjutnya menerangkan keelokan ajaran Islam yang menjawab segala keberatan yang diajukan oleh Mr.Wilder dan sejenisnya. Huzur mendasari argumen jawaban beliau kepada ayat 41 – 44 Surah Al Shura (42:41, 42, 43, 44).
Huzur kemudian membacakan beberapa ikhtisar tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. mengenai keindahan dan kesempurnaan contoh teladan Rasulullah Saw yang merupakan citra ajaran Alquran.
Huzur bersabda, mereka yang akrab dengan Alquran tahu persis akan keindahan ajarannya. Akan tetapi, mereka yang memusuhi Islam justru mengajukan berbagai keberatan. Maka, manakala ayat-ayat Alquran di atas diterapkan pada situasi sekarang ini, yang diperlukan adalah mawas diri. Alih-alih membalas dendam secara membabi-buta, tempuhlah jalur hukum.
Huzur kemudian menguraikan berbagai sifat mulia Rasulullah Saw yang patut menjadi suri tauladan kita semua berdasarkan keterangan dari berbagai ayat Alquran, yakni Surah 26:4 dan 21:108, kemudian menerangkannya lebih lanjut berdasarkan berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s.; Huzur lalu membacakan beberapa Hadith Rasulullah Saw yang menggambarkan akhlak fadillah Rasulullah Saw yang pada intinya bersifat penuh dengan cinta kasih dan murah hati.
Huzur mendoakan semoga Allah memudahkan penduduk dunia untuk melihat kebenaran dengan sikap pemikiran yang jernih. Dan semoga pula Allah Swt berkenan menerima kiriman Shalawat kita, sehingga bolehlah kita menyaksikan bersinarnya panji kebenaran Rasulullah Saw ke seluruh pelosok dunia, namun sekaligus juga akan membuat mereka yang bersikap culas menjadi terhinakan.
Ucapan Belasungkawa atas Syahidnya Dr. Muhammad Sarwer dari Peshawar
Di akhir khutbah, Huzur menyampaikan berita duka telah disyahidkannya Dr. Muhammad Sarwer di Jemaat Peshawar, Pakistan pada tanggal 19 Maret oleh segerombolan orang tak dikenal yang sebelumnya mengetuk-ngetuk pintu rumah beliau. Keluarga beliau adalah satu-satunya keluarga Ahmadi di daerah tersebut, yang tetap bertahan tinggal di sana meskipun sudah ada beberapa kali penyerangan sebelumnya. Almarhum meninggalkan seorang istri, enam anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Semoga Allah memberi maqom terbaik bagi arwah almarhum di Jannah-Nya, serta memberikan ketawakalan bagi keluarga yang ditinggalkan. Huzur akan mengimami shalat jenazah gaib, bada shalat Jummah.
transltByMMA/LA.032808
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
Jumat, 28 Maret 2008
Perwujudan sifat Allah Al-Halim, Yang Maha Penyabar dalam diri Rasulullah Saw yang mendekati kesempurnaan
Sifat Al-Halim Allah Swt.
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
21 Maret 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
============================
Huzur membahas perwujudan sifat Allah Al-Halim, Yang Maha Penyabar dalam diri Rasulullah Saw yang mendekati kesempurnaan.
Huzur bersabda, Allah telah memerintahkan kaum mukminin yang beriman kepada-Nya agar dapat mewujudkan berbagai sifat Ilahi sesuai dengan tingkat kemanusiaan mereka. Dan Rasulullah Saw adalah insan yang telah diberi karunia terbesar untuk dapat melaksanakannya. Seluruh segi kehidupan beliau yang merupakan contoh nyata perwujudan berbagai macam sifat Allah Swt, pada dasarnya merupakan melimpahnya sifat penyabar beliau. Huzur menerangkan beberapa contoh di antaranya.
Suatu kali, datang seseorang ke hadapan Rasulullah Saw. Kemudian berusaha mencuri-curi kesempatan untuk mengusap-usap janggut berberkat beliau. Maka Hadhrat Umar a.s. menjadi berang atas ketidak-sopanannya tersebut, dan mencegahnya dengan mengacung-acungkan pedang beliau ke arah tangan orang tersebut. Akan tetapi Rasulullah Saw memerintahkan Hadhrat Umar untuk menghentikan perbuatannya, seraya bersabda janganlah berbuat kasar seperti itu.
Zaid ibnu Su`nah, salah seorang ulama besar Yahudi di Madinah, mengisahkan betapa Allah Swt telah berkenan memberinya petunjuk hidayah untuk menerima Islam, yakni karena telah mengenali semua tanda-tanda Kerasulan Muhammad Saw ketika melihat wajah beliau, kecuali dua hal, ialah sifat penyabar beliau yang istimewa, yang tetap dominan meskipun tengah menghadapi kekasaran yang melampaui batas. Zaid ibnu Su`nah meriwayatkan: Suatu hari, seorang Bedouin, datang dengan mengendarai kuda, menghadap kepada Rasulullah Saw seraya berkata: 'Ya Rasulullah, sebagian dari kaumku dari suku anu telah baiat menerima Islam. Ini karena antara lain aku berkata kepada mereka, bila kalian masuk Islam maka niscaya harta benda kalian pun akan bertambah-tambah. Akan tetapi, pada saat ini mereka tengah menghadapi kelaparan dikarenakan tak ada hujan untuk mengairi ladang perkebunan mereka. Maka aku pun menjadi risau, jangan-jangan mereka akan keluar lagi dari Islam disebabkan sifat tamak mereka yang mendasari mereka masuk Islam. Oleh karena itu sudikah tuan memberi mereka sesuatu yang dapat mencukupi kebutuhan pangan mereka ?.'
Rasulullah Saw pun menatap wajah Hadhrat Ali r.a., dan mendapati jawaban tak ada lagi sesuatu yang dapat disedekahkan.
Zaid ibnu Su'nah segera mendekati Rasulullah Saw dan berkata: 'Bila tuan mau, sewa-lah sebuah kebun kurma yang dapat aku urus untuk satu musim.'
Rasulullah Saw menjawab: 'Ya, tapi tidak begitu. Aku akan menyewa sejumlah pohon kurma untuk suatu musim, namun tidak bergantung di kebun yang mana.'
Suatu perjanjian tertulis pun dibuat, bahwa sejumlah pohon kurma telah disewa atas nama Zaid ibnu Su'nah, kemudian Rasulullah Saw membuka dompet pribadi beliau untuk membayar uang panjarnya, seraya bersabda: 'Bantulah mereka [yang sedang dilanda kelaparan] dengan kurma ini, bagikanlah dengan seadil-adilnya.'
Selang beberapa waktu kemudian, dua atau tiga hari sebelum perjanjian sewa menyewa kebun itu berakhir, Zaid ibnu Su'nah menemui Rasulullah Saw yang dengan kasarnya menjambak jas-kemeja beliau seraya menghardik: 'Hai Muhammad! Mengapa kau tak melunasi kewajiban hutang atas namaku ?! Aku tak mengenali keluargamu selain menjunjung tinggi kewajiban hutang. Dan aku pun mengetahui kebaikan kaummu.'
Kemudian ia melihat wajah Hadhrat Umar r.a. yang menjadi naik pitam dan berkata: 'Hai musuh Allah! Apakah kamu sungguh-sungguh berkata dengan kasar terhadap Rasulullah Saw seperti apa yang aku dengar barusan ? Sungguhkah kau berbuat kasar seperti apa yang aku saksikan ? Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, seandainya beliau segera berlalu, aku pun akan memenggal kepalamu !
Namun Rasulullah Saw yang menatap wajah Zaid ibnu Su'nah dengan sabar dan tenang, besabda: 'Wahai Umar! Alih-alih mengumbar amarah, afdol-lah kita lunasi saja kewajiban hutangnya. Pergilah bersamanya Umar, lunasi hutangnya, dan beri dia tambahan extra 22 (dua puluh dua) sa'a` (=44 kilogram) kurma sebagai kompensasi karena engkau telah membuatnya ketakutan. Maka Hadrat Umar pun mentaati perintah Rasulullah Saw. Kemudian beliau menanyai Zaid ibnu Su'nah mengapa ia bersikap dan berkata-kata kasar kepada Rasulullah Saw sehingga membuat dirinya marah; Zaid ibnu Su'nah menjawab dikarenakan ia sudah mengenali dua tanda kerasulan yang benar ketika melihat wajah Rasulullah Saw, namun satu yang belum tampak, ialah sifat penyabar beliau yang luar biasa, yang mengungguli sifat mudah tersinggungnya. Dan bahkan memperlihatkan kesabaran yang tiada tara ketika menghadapi kekasaran yang berlebihan. Kini aku sudah menyaksikan dua tanda kebenaran Kerasulan beliau itu. Aku menerima Allah sebagai Tuhan Yang Maha Tunggal, Islam sebagai agama pilihanku, dan Muhammad sebagai rasulku yang sejati. Maka dengan ini aku serahkan separuh dari seluruh harta bendaku kepada Jamaah Muhammad Saw !
Huzur bersabda, riwayat semacam ini bukan hanya satu dua, melainkan mencapai ribuan dan banyak di antaranya yang belum sampai kepada kita.
Hadhrat Aisha r.aa meriwayatkan, suatu kali beliau masak untuk Rasulullah Saw dan tamunya. Tetapi, pada saat yang sama kebetulan Hadhrat Hafsa r.aa (istri Rasulullah Saw yang lain) pun memasak sesuatu makanan. Hadhrat Aisha yang cemburu memerintahkan pembantunya untuk membuangnya, bahkan piringnya menjadi pecah. Namun Rasulullah Saw segera memungutinya yang masih dapat dimakan, dan mengirimkan masakan Hadhrat Aisha kepada Hadhrat Hafsa sebagai kompensasi tanpa memperlihatkan sesuatu kemarahan pada wajah beliau yang berberkat itu.
Huzur bersabda, contoh akhlak fadillah Rasulullah Saw ini bukan hanya untuk kaum awalin saja, melainkan juga untuk kita semua kini dan seterusnya. Bukan hanya untuk didengar atau dibaca, melainkan untuk difahami dan dilaksanakan.
Huzur bersabda, banyak keluhan yang sampai kepada beliau berkenaan dengan kekerasan di dalam rumah tangga yang menimpa para pembantu ataupun istri-istri. Bahkan banyak di antaranya yang harus dirawat di rumah sakit. Di Europa pun polisi harus ikut turun tangan. Pada beberapa kasus, banyak ibu mertua dan atau ipar perempuan memukuli mantu atau iparnya yang miskin. Huzur bersabda, maka contoh ajaran perilaku akhlak dan budi pekerti halus Rasulullah Saw perlu dilaksanakan.
Huzur meriwayatkan satu insiden dalam Fatah Mekkah ketika Safwan bin Umayah [salah seorang pemuka kaum kufar Mekkah] melarikan diri, pengampunan pun diberikan kepadanya dengan jaminan dari Rasulullah Saw. Ketika berita gembira ini sampai kepadanya, ia minta bukti bahwa keselamatan jiwanya terjamin. Maka Rasulullah Saw pun mengirimkan sorban beliau yang dipakai ketika menaklukkan kota Mekkah. Namun Safwan bin Umayah meminta waktu dua bulan [untuk menyerahkan dirinya]. Tetapi Rasulullah Saw bahkan memberinya kesempatan hingga empat bulan.
Inilah sesungguhnya sebagaimana yang beliau sabdakan: Manusia sejati bukanlah mereka yang semata-mata berhasil menaklukkan musuh, melainkan mereka yang dapat mengendalikan nafsu amarahnya.
Suatu kali Rasulullah Saw menyaksikan dua orang bertikai sengit, maka beliau menasehati mereka suatu hal yang dapat mengendalikan nafsu amarah, ialah segera beristighfar dan mohon perlindungan Allah dari segala godaan syaithan yang terkutuk. Huzur bersabda, Rasulullah Saw tidak pernah menunjukkan sesuatu amarah atas dasar emosi pribadi, melainkan senantiasa semata-mata berkaitan dengan syariat agama-Nya.
Suatu kali datang seseorang kepada Rasulullah Saw mengeluhkan dirinya sudah berbuat baik kepada sanak saudaranya, akan tetapi keburukanlah yang ia terima sebagai balasannya ? Rasulullah Saw menjawab, berbagai amal shalihnya akan menutupi keburukan sanak saudaranya itu. Maka jika ia senantiasa dawam beramal shalih, bantuan Allah akan datang menyertainya. Allah menyukai dua sifat manusia; ialah penyabar dan menjaga harga diri.
Huzur bersabda, beliau telah menerangkan sifat-sifat penyabar yang berkaitan dengan kasih sayang, pengampun, toleransi, murah hati dan menahan amarah. Semua itu sangat penting untuk perbaikan kehidupan masyarakat dan juga rohani yang hendaknya diterapkan oleh setiap orang Ahmadi.
Huzur kemudian menyampaikan beberapa peristiwa dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang adalah abdi sejati Rasulullah Saw, juga memperlihatkan sikap penyabar yang sama. Beliau bersabda:
“Dengan beberapa pengecualian, segala kelemahan dan suka merajuk yang merupakan sifat khas wanita, hendaknya dapat dimaklumi. Sungguh memalukan bila seorang pria sampai hati menghantam wanitanya karena hal tersebut.” (Malfuzat vol. 1 p. 307) Essence of Islam vol. III p. 313
Seorang pembantu Hadhrat Masih Mau'ud a.s. mengatakan, bahwa ketinggian akhlak dan budi pekerti beliau sungguh luar biasa. Di sepanjang hidup beliau tidak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata yang merendahkan ataupun kasar terhadap dirinya, meskipun seringkali ia merasa tidak becus ataupun lambat dalam melaksanakan pekerjaan. Bahkan dalam situasi sakit pun, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. tidak pernah menunjukkan sesuatu kerewelan yang umumnya terjadi pada manusia kebanyakan. Beliau tidak pernah menyuruh orang-orang di dekat beliau agar tenang karena beliau sedang menderita sakit kepala yang sangat. Sifat pribadi beliau ketika sedang sakit tetap sama baiknya manakala sedang sehat.
Banyak lawan beliau yang datang dengan caci maki atau berkata-kata kasar, namun beliau hanya bersabar mendengarkannya. Artinya, beliau sudah menunjukkan sifat budaya akhlakul-karimah. Sesuai dengan sabda beliau, bahwa 'nafs' (jiwa pribadi) beliau sudah menjadi Muslim (damai). Betapapun kasarnya kata-kata lawan yang dilontarkan kepada beliau, tak akan dapat menggoyahkan sifat 'nafs muthmainah' beliau.
Suatu kali, untuk menjawab tulisan bernada kasar terhadap diri beliau di dalam surat kabar, beliau senantiasa menunjukkan kesabaran dan bersabda, kaum kufar pun bersikap kasar terhadap Rasulullah Saw yang bersabda, bahwa apa lagi yang beliau harus lakukan, mereka telah melecehkan Allah yang telah memanggilnya dengan sebutan Muhammad (yang artinya yang terpuji). Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, Allah Swt pun menyampaikan kabar suka kepada beliau, bahwa Dia telah memuliakan namanya di langit.
Huzur kemudian mengutip satu bait syair Urdu gubahan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang telah banyak diterjemahkan orang, ialah:
“Sebagai reaksi atas pelecehan mereka, aku malah mendoakannya
Sifat kasih sayangku jauh lebih kuat, dapat mengalahkan sifat amarah”
Membacakan lebih lanjut beberapa peristiwa dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzur menerangkan bahwa Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, meskipun tamu yang datang melecehkan, namun tetap harus dimaklumi karena mereka bukan anggota Jemaat. Dan Rasulullah Saw pun pernah bersabda, bahwa orang yang datang bertamu [kepada orang suci] memiliki hak yang sama dengan orang yang dikunjunginya. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, memperlakukan buruk tamu seperti itu adalah dosa.
Menyimpulkan khutbah beliau, Huzur bersabda, gambaran yang luar biasa dari sifat Allah Al-Halim ini adalah sungguh pribadi Rasulullah Saw, yang pada zaman sekarang ini adalah Hadhrat Masih Mau'ud a.s sebagai abdinya yang sejati, yang telah berhasil mengikuti jejak langkah dan menunjukkan contoh nyatanya kepada kita sekalian. Semoga Allah memudahkan kita untuk menerapkan berbagai sifat Ilahi ini.
transltByMMA/LA.032109
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
Kamis, 14 Februari 2008
Khutbah Huzur tgl 08-02-2008 - Full
Khutbah Huzur tgl 08-02-2008
KHUTBAH JUM'AH HADZRAT KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 08 Pebruari 2008 dari Baitul Futuh London U.K.
Alih bahasa : Hasan Basri
VARIASI MISSI HADZRAT IMAM MAHDI a.s.
Hadzrat Masih Mau'ud a.s. bersabda : Kesan-kesan istimewa dari pada doa'-do'a yang dipanjatkan diwaktu percobaan-percobaan tengah berlangsung timbul sangat mengherankan sekali. Sungguh benar bahwa Tuhan kita dapat dikenal melalui do'a-do'a. Ini perkara asas yang sangat dalam sekali untuk dipahami oleh setiap orang mu'min yang sejati. Tanpa memiliki kebiasaan memanjatkan do'a atau kebiasaan merundukkan kepala untuk berdo'a dihadapan Allah swt pengakuan diri sebagai orang beriman sungguh tidak ada artinya. Apa yang Hadzrat Masih Mau'ud a.s telah bersabda bahwa Tuhan kita dapat dikenal dengan perantaraan do'a, itulah sekarang yang harus menjadi keistimewaan setiap orang Ahmadi, memang harus demikian, tidak hanya diwaktu datangnya percobaan-percobaan, bahkan dihari-hari keadaan sedang aman-damai dan tenang-tenterampun senantiasa harus banyak memenjatkan do'a sambil merundukkan kepala dihadapan Allah swt dan sambil menganggap bahwa Dia-lah sumber segala kekuatan, sambil memiliki rasa takut yang sebenar kepada-Nya didalam hati, maka mereka inilah orang-orang mu'min sejati. Dan apabila masa percobaan telah tiba maka iman mereka itu semakin bertambah kokoh dari sebelumnya bahkan semakin melompat setinggi-tingginya. Dan mereka lebih giat dari sebelumnya didalam usaha untuk meraih keridhoan Allah swt. Timbulnya percobaan dan hambatan-hambatan itu sipatnya hanya sementara, tidak membuat hati mereka gentar. Bahkan dengan timbulnya macam-macam percobaan dan hamabatan-hamabatan itu justru menambah mereka semakin giat beribadah kepada Allah swt. Jadi, inilah perobahan (revolusi) yang telah dibangkitkan oleh Hadzrat Imam Mahdi, Masih Mau'ud a.s. didalam jiwa setiap orang Ahmadi. Dan selama keadaan kita tetap bersiteguh seperti itu maka kita akan menjadi para pewaris karunia-karunia Allah swt secara berterusan.
Pada suatu ketika Hadzrat Masih Mau'ud a.s. bersabda: Diantara Doa'a dan tenggang waktu diantara terkabulnya do'a itu kadangakala timbul percobaan secara berturut-turut bahkan timbul juga percobaan yang demikian kerasnya sehingga hampir mematahkan semangat, akan tetapi bagi orang yang tetap teguh dan sabar dalam menghadapi percobaan-percobaan dan kesulitan-kesulitan itu dia dapat mencium aroma pertolongan Allah swt dan ia dapat menyaksikan hal itu dengan pandangan firasatnya. Dan setelah itu barulah pertolongan Tuhan turun kepadanya. Salah satu rahasia yang terkandung didalam turunnya percobaan-percobaan diwaktu itu ialah untuk memicu dia supaya bertambah semangat berdo'a. Sebab semakin keras timbul kegelisahan dan ketegangan perasaan dalam pikiran, semakin keras pula timbul kekhusyuan didalam ruhani secara terus-menerus. Dan hal itu menjadi salah satu sarana terkabulnya do'a. Jadi, janganlah sekali-kali merasa cemas, jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan dengan menunjukkan perangai kegelisahan dan ketidak sabaran. Sekali-kali jangan berpikir bahwa do'aku tidak terkabul atau tidak akan terkabul. Prasangka demikian bisa menjadi sebab hilangnya keyakinan bahwa Tuhan Zat Pengabul do'a-do'a.
Sebagaimana telah saya katakan, dari kutipan sabda Hadzrat Masih Mau'ud a.s. kita dapat menyaksikan dengan jelas bahwa bersujud sambil merendahkan diri dihadapan Allah swt satu keistimewaan setiap orang Ahmadi dan sememangnya harus demikian dan setelah melewati hambatan-hambatan sementara dan percobaan-percobaan lainnya iman dan keikhlasan mereka semakin meningkat. Dengan mengutip sabda beliau ini saya bermaksud menjelaskan bahwa dibeberapa negara didunia sudah mulai timbul gerakan usaha untuk melawan dan menyusahkan Ahmadiyah. Disana secara langsung ataupun tidak langsung sedang disusun rencana-rencana untuk menyerang Ahmadiyah. Dan ini merupakan api hasad yang sedang dikobarkan oleh orang-orang biasa, golongan-golongan ataupun oleh pemerintah negara-negara tertentu. Luapan api hasad ini mulanya banyak berkobar dizaman Hadzrat Masih Mau'ud a.s., yang timbul dari dalam maupun dari luar, baik dari orang-orang muslim sendiri maupun dari orang-orang non muslim. Jika hal itu timbul dari pihak non muslim tiada lain sebabnya karena sejak dizaman Hadzrat Masih Mau'ud a.s. mereka tidak dapat menahan perasaan marah melihat kemajuan-kemajuan Islam melalui Jema'at ini, yang akan menang diatas agama-agama lain. Dan jika hal itu timbul dari pihak orang-orang muslim sendiri dan dari pemimpin-pemimpin Islam serta dari para Mullah, karena mereka merasa takut jangan-jangan kedudukan dan kekuasaan mereka akan hilang dan takut para pengikut merekapun akan lari dari mereka kemudian masuk kedalam Jema'at ini. Dan untuk menyelamatkan posisi dan kedudukan mereka itu terpaksa mereka bertekuk lutut dan menyembah-nyembah dihadapan orang-orang non muslim diwaktu itu untuk meminta bantuan dan perbuatan mereka seperti itu tidak dianggap aib oleh mereka. Semoga Allah swt memberi akal kepada mereka dan mengasihani mereka. Orang-orang muslim seperti itu dengan tindakan-tindakan yang mereka lakukan, akibatnya berbalik, tindakan-tindakan itu merugikan mereka sendiri, sebabnya mereka telah melawan Ahmadiyah, Jema'at Allah swt. Mereka telah berusaha melawan taqdir Allah swt tentu mereka sendiri yang hancur binasa. Maka, dengan rasa simpati terhadap mereka disebabkan mereka berpegang kepada kalimah toyyibah, kita harus berdo'a juga untuk mereka supaya mereka mendapat hidayah.
Sambil mengumumkan diutusnya Hadzrat Imam Mahdi, Masih Mau'ud a.s. yaitu yang Allah swt umumkan dengan ayat 4 Surah Jumah :
وَآخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ
Dan Dia akan mambangkitkannya ditengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan Dia juga mengumumkan
وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Dan Dialah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Artinya Dia mengumumkan : Akulah Yang Maha Perkasa Yang telah mengutusnya. Tidak ada seorangpun yang akan mampu menghalang-halangi pekerjaan-Nya ini. Dan Dia Hakim, Maha Bijaksana. Dia telah memutuskan bahwa mutiara ajararan Islam hanya dapat diraih dengan jalan menggabungkan diri dengan Masih dan Mahdi ini. Maka sehubungan dengan tugas kita untuk menyampaikan amanat ini kepada dunia sangat diperlukan banyak-banyak berdo'a untuk menghadapi perbuatan hasad dan makar dari orang-orang hasid dan untuk melepaskan diri dari berbagai macam kesulitan yang menjadi percobaan bagi kita.
Pertama-tama di negara-negara mana saja sedang dilakukan penganiayaan terhadap warga Jema'at, kita harus banyak-banyak memanjatkan do'a untuk kekuatan iman mereka disana. Dan rundukkanlah kepala dihadapan Allah swt sambil memanjatkan do'a dan menangis dihadapan-Nya sedemikian rupa, sehingga hasilnya kita bisa segera menyaksikan kemenangan-kemenangan dan kemakbulan do'a-do'a yang kita panjatkan kepada-Nya. Dan orang-orang Ahmadi dimanapun berada diseluruh dunia yang sedang dalam keadaan aman tidak ada sebarang gangguan dan perlawanan yang menyusahkan, mereka harus banyak memanjatkan do'a untuk saudara-saudara Ahmadi mereka yang sedang dalam kesusahan itu. Sebab, telah diberitahukan hadis Rasulullah saw yang menerangkan keistimewaan orang-orang mu'min laksana sebuah jasad, jika terdapat bagian dari jasad kita sedang merasa sakit maka seluruh jasad kita akan merasakan sakit semuanya.
Jadi, siapapun dari antara saudara Ahmadi kita yang sedang menanggung kesusahan, kita anggap hal itu menjadi kesusahan kita sendiri. Bahkan perasaan hati orang-orang Ahmadi begitu sensitive dan sememangnya harus demikian bahwa siapapun diantara manusia yang sedang menanggung kesusahan, mereka harus sama-sama merasakannya. Maka apabila kita dengan perasaan hati yang luluh memanjatkan do'a bagi mereka agar segera terlepas dari percobaan dan kesusahan yang sedang menimpa mereka, maka pastilah Tuhan Yang Mujibud Da'wat akan mendengar do'a-do'a kita sehingga Dia akan menjauhkan semua kesusahan dan keprihatinan mereka itu.
Para penentang Ahmadiyah mengira bahwa semua perlawanan dan perbuatan anarkis yang mereka lakukan akan menghambat dan menghalangi kemajuan Ahmadiyah. Memang jika Ahmadiyah ini sebuah Jema'at ciptaan seorang manusia, maka sejak lebih dari seratus tahun lamanya taufan perlawanan terus berjalan tanpa berhenti, tentu Jema'at ini sudah hancur binasa. Siapa orang Ahmadi yang tidak tahu bahwa di Pakistan disebabkan timbulnya serangan-serangan yang dilakukan dengan hebat oleh pihak lawan telah menjadikan Jema'at disana semakin tumbuh subur, berbunga dan semakin berbuah dengan lebatnya lebih hebat dan lebih banyak dengan cepatnya dari waktu-waktu sebelumnya.
Jadi, kami tidak pernah merasa pusing bahwa perlawanan dan penyerangan dari pihak lawan menjadi penghambat bagi perkembangan dan kemajuan Jema'at Ahmadiyah ini. Sekarang nampaknya di Pakistan sedang hangat dilakukan usaha-usaha berbagai cara melawan Jema'at Ahmadiyah. Memang dimana-mana secara kecil-kecilan juga selalu timbul tindak kekerasan terhadap Jema'at Ahmadiyan, namun sekarang nampaknya diseluruh bahagian negeri itu sedang dilakukan perlawanan dan penganiayaan dengan cepat dan serempak. Dimana terdapat peluang, disana tak segan-segan mereka membawa kasus tuduhan dusta tentang Ahmadiyah kepengadilan.
Beberapa hari yang lalu seorang anak Ahmadi berumur tiga belas tahun dibawa ke pengadilan oleh seorang polisi. Seorang Maulvi melaporkan kepada polisi bahwa anak itu telah memukuli seorang maulvi lain. Sedangkan maulvi yang katanya telah dipukuli itu justru menolak bahwa ia tidak pernah dipukul oleh anak itu. Jadi nyatalah bahwa tindakan seorang maulvi itu semata-mata perbuatan nakal yang dibuat-buat, sehingga katanya orang itu telah dipukuli sampai babak-belur (sampai parah sekali), sehingga ia harus masuk hospital (rumah sakit). Seorang maulvi muda yang kuat bagaimana dipukuli oleh seorang kanak-kanak umur tiga belas tahun sampai babak belur dan iapun tidak melawan. Maksud dari kejadian dibuat-buat ini tiada lain agar ditimbulkan rasa takut sedemikian rupa didalam benak generasi mendatang, yakni jika anak ini tetap bertahan juga sebagai orang Ahmadi, jangan sampai dia menjadi orang yang aktif.
Merekapun berpikir, bahwa dengan cara menutup izin untuk mengadakan Jalsa Salana dan melarang kegiatan-kegiatan lainnya untuk Tarbiyyat anak-anak remaja yang biasa diselenggarakan di Rabwah mereka pikir telah berhasil untuk melemahkan Ahmadiyah sehingga mereka menjadi pasiv tidak mempunyai sebarang kegiatan. Menurut pikiran mereka jika perlakukan kekerasan seperti itu ditingkatkan lagi maka Tarbiyyat anak-anak remaja Ahmadi menjadi mundur dan lemah, akhirnya mereka akan menjauh dari Jema'at.
Sebetulnya orang-orang yang buta akal seperti itu tidak tahu bahwa pelita yang dinyalakan oleh Tuhan sendiri tidak mungkin akan padam dengan tiupan mulut mereka itu. Berapa banyaknya surat-surat datang setiap hari kepada saya dari anak-anak muda Jema'at di Pakistan, yang ditulis dengan perasaan yang seakan-akan mereka terbenam didalam keikhlasan dan kesetiaan yang merupakan bukti nyata bahwa mereka telah memenuhi janji-janji mereka dengan mengatakan : Kami tetap bersedia untuk mengurban jiwa-raga harta waktu dan kehormatan kami demi tetap berdirinya Khilafat Ahmadiyah. Mereka melakukan pengurbanan dan setiap sa'at akan terus melakukan pengurbanan untuk selama-lamanya. Sebetulnya musuh-musuh Jema'at tidak akan mampu menghambat atau membendung pekerjaan Jema'at kita.
Maka barangsiapa yang mempunyai hubungan erat dengan Khilafat, sesungguhnya karena dia telah mengikat hubungan dengan Hadzrat Masih Mau'ud a.s. Dan timbulnya hubungan dengan Hadzrat Masih Mau'ud a.s. disebabkan adanya hubungan dengan Hadzrat Rasulullah saw. Sedangkan Hadzrat Rasulullah saw adalah zat perantara untuk sampai kepada Allah swt. Maka orang-orang ang mempunyai hubungan erat dengan Allah swt dan imannya sangat kokoh-kuat kepada-Nya, apakah ancaman-ancaman dan teriakan-teriakan seperti suara keledai bisa membuat mereka menjadi takut dan gentar?? Tidak!! Sama sekali tidak!!
Maka, wahai para Pemuda Ahmadiyah!! Jalinlah terus hubungan dengan Allah swt se-erat mungkin, sebab cara itulah sebagai ciri khas atau keistimewaan seorang Pemuda Ahmadiyah!! Dan itulah keistimewaan seorang lelaki Ahmadi dan itulah keistimewaan seorang wanita Ahmadi dan inilah keistimewaan seorang anak Ahmadi.
Demikian juga di Hindustan (India) ditempat mana tinggal orang-orang Islam sebagai majority (mayoritas) para Mullah disana melakukan tindak kekerasan dan penganiayaan terhadap orang-orang Ahmadi. Orang-orang Islam demikian hanya nama saja sebagai orang-orang muslim. Seorangpun diantara mereka tidak ada yang tahu sembahyang dan tidak pula tahu mengucap dua kalimah syahadah, apa lagi membaca Kitab Suci Al Qur'an, mereka buta sama-sekali. Mereka hanyalah tahu mengatakan : " kafir bukan orang-orang Islam" terhadap orang-orang Ahmadiyah. Disana mereka menyebarkan ancaman-ancaman kepada para Muballighin kita. Maka, sebagaimana telah saya katakan kita jangan berhenti, terus bekerja melaksanakan apa yang telah diwajibkan atas kita semua. Dan tundukkanlah kepala dihadapan Allah swt sambil memanjatkan do'a kepada-Nya untuk menghadapi semua ancaman dan tantangan mereka itu. Semoga Allah swt menempatkan kita semua dibawah naungan perlindungan-Nya. Dan sekarang ini timbul semakin meningkat perlawanan dan tantangan dengan gigihnya terhadap Ahmadiyah, sebenarnya mereka tengah didesak dan dipicu oleh berkobarnya api hasad dan cemburu social yang menyembur dari dalam hati mereka yang sudah sangat panas. Dan juga disebabkan genapnya seratus tahun Khilafat Ahmadiyah semenjak wafat Hadzrat Masih Mau'ud a.s. bahwa menurut anggapan mereka, kita ini sudah hampir mau dihancur-leburkan semuanya, namun sekarang kata mereka, Ahmadiyah malah akan mengadakan pesta seratus tahun berdirinya Khilafat Ahmadiyah. Jadi hati mereka semakin gerah hampir meletup kepanasan. Jadi dengan adanya perlawanan yang bertubi-tubi memberikan bukti nyata kepada kita bahwa Jema'at Ahmadiyah, dengan karunia Allah swt, sedang berderap maju diatas jalan kemajuan dan kejayaan.
Tentang Indonesia
Sejak beberapa tahun yang lalu para penentang Ahmadiyah di Indonesia sedang mengadakan serangan dan penganiayaan dengan sangat keras. Banyak rumah-rumah orang Ahmadi dijarah, dibakar dan dihancurkan, Masjid-masjid mereka dihancurkan dan dibakar, pemerintah disana juga mula-mula mendukung orang-orang yang menamakan diri mereka ulama dan pemimpin umat, karena takut kepada mereka. Atau mungkin dibeberapa daerah dimana banyak terjadi kerusuhan anti Jema'at, pemerintah daerah disana juga disebabkan takut kepada kelompok yang menamakan diri ulama mendukung mereka juga. Bagaimanapun sejak beberapa lama karena melihat pengaruh para ulama yang perlu mereka pertimbangkan, pemerintah daerah juga mulai menentang Jema'at dan disebabkan pemerintah daerah disana telah memberi berbagai macam peringatan terhadap Jema'at kita, pemerintah pusat turun tangan untuk memecahkan masalah mereka itu. Kamudian mereka mengeluarkan perjanjian bersama yang beberapa hari kemudian isi perjanjian itu dimuat didalam surat-surat khabar, namun tidak semuanya, sebagian dimuat sebagian ditinggalkan. Kerananya perjanjian itu tidak dapat dipahami secara sempurna. Tentang mana sudahpun saya membicarakannya didalam khutbah-khutbah Jum'at yang lepas. Bagaimanapun berita-berita yang diterbitkan didalam surat-surat khabar itu dapat dijumpai didalam internet juga. Barangkali setelah membaca khutbah saya yang lalu, beberapa orang Ahmadi yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya, mereka telah menyatakan tidak tahu masalah yang sebenarnya kepada saya. Untuk menghapus fitnah ini jika kami harus memprcayainya juga tidak ada halangan apa-apa. Karena itu ia telah menulis dengan mengatakan saya tidak tahu pasti tentang itu. Atau kami tidak tahu jalan yang mana yang baik bagi kami untuk diikuti. Sebagai contoh salah satunya ia telah menulis : Hadzrat Rasulullah saw juga telah mengakui diwaktu terjadi perjanjian Hudaibiyah bahwa perkataan Rasulullah dihapus dari dalam perjanjian itu. Sekarang yang menjadi soal pertama sekali adalah : siapa yang telah menghapus perkataan itu ? Hadzrat Rasulullah saw sendirilah yang telah menghapusnya. Sedangkan Hadzrat Ali menolaknya sambil berkata : Ya Rasulallah !! Hal ini tidak bisa saya terima !
Perjanjian Hudaibiyah
Sebagaimana telah saya katakan, Rasulullah saw sendiri menghapus perkataan itu dengan tangan beliau sendiri dan bersabda : Mereka tidak percaya bahwa saya ini seorang Rasul Allah. Oleh sebab itu saya hapus perkataan itu ! Akan tetapi orang-orang yang percaya kepada beliau sebagai Rasul Allah, mereka tidak berani berbuat apa-apa. Hadzrat Rasulullah saw juga karena memahami perasaan mereka tidak mengeluarkan sebarang perintah untuk melakukan hal itu.
Jadi, bukanlah pekerjaan kita untuk melakukan kemunafikan atau menunjukkan kelemahan iman dan membuat suatu keputusan yang merendahkan kedudukan Hadzrat Imam Mahdi, Masih Mau'ud a.s. demi menyenagkan hati mereka itu. Kita menganggap dan mempercayai Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani a.s. sebagai Masih Mau'ud dan Mahdi Mau'ud. Jika kita melepaskan diri dari pendirian ini maka sedikitpun kita tidak mempunyai nilai apa apa disis Tuhan. Dengan melepaskan diri dari pendirian ini maka sedikitpun kita tidak mempunyai hakikat apa-apa disisi Tuhan. Keindahan kita terletak pada kedudukan sebagai anggauta dari pada Jema'at Hadzrat Masih Mau'ud a.s. dengan penuh keyakinan kepada Masih Mau'ud yang telah melenyapkan kegelapan dengan cahaya yang terang-benderang. Pendirian dan penda'waan kita dizaman kegelapan ini adalah Hadzrat Masih dan Mahdi telah membukakan pintu rahasia dan hakikat kalimah toyyibah dan kalimah syahadat kepada kita. Dan telah menyinari kalbu-kalbu kami dengan nur yang sejati dari padanya. Hadzrat Masih dan Mahdi inilah yang telah mengajarkan kepada kami cara-cara untuk berjumpa dengan Allah swt sesuai dengan ajaran Kitab Suci Al Quran. Hadzrat Masih dan Mahdi sebagai Asyiq Shadiq Rasulullah saw inilah yang telah mengajar kami untuk tenggelam didalam kecintaan terhadap Nabi Suci Muhammad saw. Apakah kepada Hadzrat Masih dan Mahdi yang Nabi Muhammad saw sendiri telah memberi nama Masih dan Mahdi dan beliau sendiri memanggilnya "Mahdi kami", kita tinggalkan menyebut beliau sebagai Masih dan Mahdi hanya disebabkan timbulnya kesusahan sedikit saja atau karena hanya untuk menyenangkan hati mereka yang menamakan diri ulama? Apakah Masih dan Mahdi yang ditunggu-tunggu itu dan sekarang telahpun datang dengan tanda-tandanya yang dijanjikan sudahpun sempurna dan penda'waannya juga sudah diumumkan dan semua tuntutan situasi dunia telah terpenuhinya, setelah menyaksikan hal itu semua disebabkan takut kepada ancaman manusia walaupun Rasulullah saw telah memberi nama kepada orang yang ditunggu-tunggu itu Masih dan Mahdi, akan tetapi demi menyenangkan hati orang-orang dunia, sekalipun kami telah lama menggabungkan diri dengan orang-orang yang telah beriman kepada beliau, kami harus menyebut nama beliau dengan nama yang lain ? Dan sebagai imbalannya kalian harus membatalkan rencana serangan yang akan kalian lakukan kepada kami jangan diteruskan? Apakah setelah menyaksikan terjadinya gerhana bulan dan matahari dengan memberi nama yang lain selain dari Masih dan Mahdi akan menganggap sesuai nama itu dengan terjadinya tanda yang agung itu ? Ataukah, na'udzubillah Allah swt telah memberi kesaksian yang dusta ? Apakah kita harus menyatakan dusta kepada nubuatan Al Qur'anul Karim yang telah sempurna pada zaman sekarang ini ? Apakah disatu pihak setelah kita bai'at kepada beliau, mempercayai beliau sebagai Utusan Allah swt, dipihak lain lagi kita menganggap tidak benar kepada ilham beliau dimana Allah swt telah memberi khabar suka seperti berikut dibawah ini :
اِنَّ اْلمَسِيْحَ اْلمَوْعُوْدَ الَّذِيْ يَرْقُبُوْنَهُ وَاْلمَهْدِيَّ اْلمَسْعُوْدَ الَّذِيْ يَنْتَظِيْرُوْنَهُ هُوَ اَنْتَ
Artinya : Sesungguhnya Masih Mau'ud dan Mahdi Mas'ud yang ditunggu-tunggu adalah engkau sendiri.
Kemudian berfirman lagi :
وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ اْلمُمْتَرِيْنَ
Artinya : Maka janganlah engkau menjadi salah seorang yang ragu.
Berdasarkan semua perkara yang telah diuraikan diatas ini, kerana melihat situasi, setelah menjadi pengamal semua yang telah diuraikan sebelumnya diatas, demi situasi, apakah kita masih dapat dikatakan sebagai orang Ahmadi ? Jadi, ingkar kepada Masih dan Mahdi tentu menjadi ingkar kepada Ahmadiyah juga. Dan tidak akan ada seorang Ahmadipun yang sanggup memikul tanggung-jawab seperti itu.
Perjanjian bersama yang telah ditanda-tangani oleh kedua belah pihak antara Pemerintah dan Orang-orang Ahmadi yang telah dimuat didalam Surat-surat Kabar, telah memberi kesempatan kepada orang-orang Jema'at Lahore juga untuk ikut gaduh dalam pertentangan itu. Dikalangan mereka timbul juga emosi perlawanan dan tuduhan palsu sehingga perkara yang sudah basipun dimunculkan kembali. Dan mereka telah menerbitkan berita bahwa orang-orang Ahmadiyah sudah merubah pendirian mereka. Yang dimaksud oleh mereka tiada lain bahwa mereka merasa telah menang dalam pernyataan palsu da'wa mereka, dan mengatakan, sekarang orang-orang Ahmadi Qadiani juga sudah mengakui, na'udzu billah (kita berlindung kepada Allah), bahwa Hadzrat Masih Mau'ud a.s. bukan Nabi, melainkan Mujaddid dan Mursyid saja.
Mengapa perkara itu timbul? Pertama, karena Pengurus Jema'at Ahmadiyah Indonesia yang telah mengirim sebuah Panitya untuk mengadakan pembicaraan dengan Pemerintah Indonesia, diadalam hati mereka sedikitpun tidak ada pikiran untuk mengingkari Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani a.s. sebagai Masih, Mahdi atau Nabi. Dan seorang anggautapun tidak akan ada yang berpikir seperti itu. Dengan karunia Allah swt Jema'at Indonesia dari segi keikhasan dan kesetiaan merupakan sebuah Jema'at yang maju dan salah satu Jema'at paling terdepan. Pengurbanan harta dan jiwa-raga yang mereka serahkan demi Jema'at menunjukkan bukti yang nyata bagi keikhlasan dan kesetiaan mereka terhadap Jema'at. Tidak nampak sedikitpun kekurangan didalam keikhlasan dan kesetiaan mereka.
Jadi, hal ini merupakan tuduhan yang salah terhadap Jema'at Indonesia dan memang tuduhan pasti akan terus ada, jika mereka telah menunjukkan kelemahan iman demi mendapatkaan faedah yang sifatnya sementara. Pernyataan yang telah ditandatangani yang telah diambil oleh Pemerintah, didalamnya terdapat beberapa bahagian yang susunan perkataannya tidak jelas. Dengan menyetujui pernyataan itu tidak berarti bahwa seorang Ahmadi telah menunjukkan kelemahan imannya.
Jadi, tidak ada sebarang tuduhan terhadap seseorang Ahmadi bahwa ianya telah menunjukkan kelemahan imannya. Dan beliaupun (Amir Indonesia) telah menjelaskan pernyataannya demikian didepan saya baik didalam pesannya yang dikirim kepada saya maupun didalam suratnya yang dikirim kepada saya. Akan tetapi secara pasti dan jelas memang tidak dicantumkan perkataan Masih dan Mahdi. Sehingga juru pemberita surat-surat kabar mendapat peluang untuk memutar balik fakta kemudian hasil reka-yasa mereka itu dimuat didalam media surat kabar yang sedikitpun pendapat mereka seperti itu tidak terlintas didalam pikiran seorang Ahmadi. Bagaimanapun orang-orang dari Jema'at Lahore telah mengambil kesempatan untuk memetik berita itu lalu disulut dan dibesar-besarkan.
Ketika telah saya uraikan dengan jelas didalam Khutbah Jum'ah yang lepas dan pendirian kita itu telahpun dimuat didalam surat-surat khabar (yang merupakan satu kebaikan dari pihak Surat Kabar itu), namun masih juga para pengikut Jema'at Lahore itu bersikeras dan mereka membuat kegaduhan sehingga mereka menelepon kepada Seksi Press kita di London sambil mengatakan : Sampai sekarang kami belum juga merasa jelas tentang pernyataan itu yang masih semrawut.
Sesungguhnya mereka tidak akan merasa puas kecuali jika Tuhan menghendaki untuk memberi kepuasan kepada mereka. Jika mereka tidak mau mendengar dan bersedia menerima pendapat seseorang, maka manusia tidak akan mampu memberi kepuasan kepada mereka. Bagaimanapun apa yang hendak kita jelaskan sudah dijelaskan kepada mereka.
Seruan Kepada Jemaat Lahore
Sekarang saya ingin mengatakan kepada orang-orang Jema'at Lahore : Takutlah kalian kepada Tuhan dan tengoklah nubuatan-nubuatan Hadzrat Rasulullah saw dan tekunilah baik-baik ilham-ilham Hadzrat Masih Mau'ud a.s. kemudian periksalah keadaan sendiri, apakah pendirian Hadzrat Masih Mau'ud a.s. ada pada kalian, apakah kalian sedang melangkah menuju kemajuan-kamajuan yang telah dijanjikan? Apakah dengan menganggap Anjuman lebih tinggi kedudukannya dari pada Khilafat kalian mampu memancangkan bendera Islam dan Ahmadiyah diseluruh dunia? Apakah kalian telah berusaha mengibarkan bendera itu dengan rasa tanggung-jawab terhadap sesuatu? Atau apakah kalian mendapat bahagian dari keimanan terhadap Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai Masih Mahdi dan Nabi? Dan kalian mengakui kebenaran Nizam Khilafat sesudah beliau? Sedangkan orang-orang yang telah mengikuti bai'at kepada Khilafat telah mampu menyebarkan amanat Ahmadiyah yaitu Islam hakiki sampai ke 189 negara didunia. Apa yang telah kalian lakukan? Apakah kesaksian Tuhan secara amaliah tertumpu kepada orang-orang yang beriman kepada beliau sebagai Nabi ataukah kepada orang-orang yang beriman kepada beliau hanya sebagai guru atau sebagai mursyid atau sebagai mujaddid saja?
Maka, sekarang dengan perasaan takut kepada Tuhan akhirilah perpisahan ini sampai disini. Dan tengoklah bagaimana sabda Hadzrat Masih Mau'ud a.s. tentang diri beliau sendiri. Kalian-pun menerbitkan buku-buku beliau itu, mencetaknya juga dan mendapat taufiq untuk membacanya juga dan mendapat taufiq untuk memahaminya juga. Bukalah Al Qura'an dan bacalah sendiri bagaimana firman Allah swt tentang orang-orang yang beriman kepada sebagian dari padanya dan mengingkari sebagian lagi dari padanya.
Hadzrat Masih Mau'ud a.s. pernah bersabda : Tidak menjadi syarat untuk membuat nubuatan harus menerima khabar dari Tuhan dan tidak menjadi syarat untuk menjadi Nabi harus ada syari'at. Hanya dengan perantaraan kecintaan sejati kepada Tuhan pintu perkara-perkara yang ghaib akan terbuka. Apabila saya sampai sa'at ini telah menerima seratus lima puluh lebih nubuatan dari Tuhan dan telah menyaksikan dengan jelas kesempurnaannya dengan mata kepala sendiri, maka bagaimana saya bisa menolak diri saya disebut Nabi atau Rasul ? Dan selama Tuhan telah memberi saya nama Nabi dan Rasul, bagaimana saya harus menolaknya ? Atau saya harus takut kepada manusia menggunakan nama yang telah diberikan Tuhan itu kepada saya? Saya bersumpah atas nama Tuhan Yang telah mengutus saya, orang yang mengada-ada atas nama-Nya adalah laknat ! Dialah Yang telah mengutus saya sebagai Masih Mau'ud. Sebagaimana saya beriman kepada ayat-ayat suci Qur'an Karim demikian juga tanpa perbedaan sebesar zarrahpun saya beriman kepada wahyu yang sungguh-sungguh sangat jelas yang telah turun kepada saya. Yang kebenarannya secara mutawatir (secara terus-menerus) telah terbuka kepada saya. Dan saya sambil berdiri didalam Baitullah berani bersumpah bahwa wahyu suci yang turun kepada saya adalah kalam dari Tuhan Yang sama Yang telah menurunkan Kalam-Nya kepada Hadzrat Musa a.s, Hadzrat Isa a.s. dan kepada Hadzrat Nabi Muhammad saw. Bumi dan langit juga telah memberi kesaksian kepada saya. Demikian juga langit telah berbicara untuk saya dan bumi juga bahwa saya ini Khalifatullah. Akan tetapi sesuai dengan nubuatan-nubuatan, pasti (penda'waan ini) akan di-ingkari juga. Sebabnya ialah diantara mereka yang hatinya tertutup mereka tidak akan menerimanya. Saya tahu bahwa Tuhan akan mendukung saya, sebagaimana Dia senantiasa mendunkung Rasul-rasul-Nya. Tidak akan ada yang mampu menandingi saya. Sebab mereka tidak menerima dukungan dari Tuhan. Ditempat mana saja saya telah mengingkari kenabian dan kerasulan hanyalah dalam arti bahwa saya bukan seorang pembawa syari'at secara mustakil (langsung tanpa perantara Nabi sebelumnya) dan bukan pula saya seorang Nabi secara mustakil (di-utus langsung tanpa melalui ajaran Nabi sebelumnya). Melainkan dalam arti bahwa saya setelah memperoleh berkat-berkat ruhani dari Rasul Jungjunanku yang saya ikuti dengan patuh ta'at saya mendapatkan sebutan untuk diri saya sebagai Rasul dan sebagai Nabi, tanpa membawa sebarang syari'at baru dan dengan perantaraannya saya memperoleh ilmu tentang yang ghaib. Dengan kedudukan seperti itu saya tidak pernah mengingkari disebut Nabi. Bahkan dengan arti seperti itulah Allah swt memanggil nama saya Nabi dan Rasul. Jadi sekarangpun saya tidak mengingkari diri saya sebagai Nabi dan Rasul dalam arti yang sama seperti itu. Maka, setelah diterangkan begitu jelasnya, apakah masih juga ada keraguan?
Setelah Hadzrat Masih Mau'ud a.s. menerima perintah dari Allah swt apa yang beliau katakan tentang diri beliau, dengan jelas beliau mengumumkan : Saya adalah Nabi.
Dengan ribuan adab dan hormat saya berkata kepada sudara-saudaraku yang telah sesat dari jalan yang lurus : Marilah Saudara-saudaraku !! Masuklah bersama-sama kami untuk membangkitkan revolusi ruhani (perubahan ruhani besar-besaran) dimuka bumi. Allah swt telah mengutus Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai Masih Mau'ud dan Mahdi Mau'ud dan sebagai Nabi Zilli (Nabi Ummati). Beliaulah Masih dan Mahdi yang kedudukannya sebagai ghulam (hamba) dari pada Hadzrat Rasulullah saw yang akan menyebarkan amanat ajaran Islam keseluruh pelosok dunia, bahkan telah berhasil menyebarkannya kseluruh dunia. Yang kepadanya Allah swt telah berfirman dengan ungkapan yang sangat jelas sekali bahwa sekalipun ditengah-tengah perlawanan yang keras Dia telah mengumumkan : "Aku akan sampaikan tabligh engkau kesegenap penjuru dunia" Sekarang hanya orang-orang yang percaya kepada beliau sebagai Nabi dan bergabung dengan Khilafat setelah beliau yang menyaksikan sempurnanya wahyu ini. Amanat ini sekarang sedang menggema sampai ksegenap penjuru dunia melalui media electronik (MTA).
Jadi, sekarang perkara itu semualah yang meyakinkan bahwa beliau adalah Masih dan Mahdi. Dan Allah swt sendiri untuk mendukung Nabi-Nya ini sedang memperlihatkan mu'jizat-mu'jizat dalam menyampaikan amanat-Nya itu. Dan tidak ada sebarang kekuatan dunia yang bisa menghalanginya. Dan pernyataan Allah swt dengan firman-Nya : Aku akan sampaikan tabligh engkau kesegenap penjuru dunia. Didalam firman-Nya ini mengandung amanat bagi kita bahwa didalam melaksanakan amanat itu akan timbul banyak hambatannya, akan bertiup taufan perlawanan yang keras, kobaran api akan melambung menyala-nyala disebelah kanan dan kiri kita, pemerintah-pemerintah juga akan berusaha mengeluarkan banyak hambatan. Akan tetapi Allah swt Yang Aziz dan Ghalib memberi ketenteraman dengan firman-Nya : Hai Masih dan Mahdi ! Aku berikan ketenteraman kepada engkau dan kepada orang-orang yang beriman kepada engkau juga bahwa engkau datang dari pada-Ku dan engkau sedang berjuang untuk menyebarkan amanat-Ku ! Oleh sebab itu Aku telah memutuskan bahwa dukungan dan pertolongan-Ku senantiasa bersama engkau. Dan dengan tegas Aku katakan bahwa Aku akan sampaikan tabligh engkau kesegenap penjuru dunia.
Disatu tempat untuk memberi ketenangan Allah swt berfirman kepada beliau melalui ilham :
لاَ تَخَفْ اِنَّنِيْ مَعَكَ وَمَشْيِنَا مَشْيِكَ اَنْتَ مِنِّيْ بِمَنْزِلَةٍ لاَ يَعْلَمُوْنَ اْلخَلْقُ وَجَدْتُكَ مَا وَجَدْتُ اِنِّيْ مُهِيْنٌ مَنْ اَرَادَ اِهاَنَتَكَ وَاِنِّيْ مُعِيْنٌ مَنْ اَرَادَ اِعَانَتَكَ اَنْتَ مِنِّيْ وَسِرُّكَ سِرِّيْ وَاَنْتَ مُرَادِيْ وَمَعِيْ اَنْتَ وَجِيْهٌ فِيْ حَضْرَتِيْ اِخْتَرْتُكَ لِنَفْسِيْ
Artinya : Janganlah engkau takut ! Sesungguhnya Aku bersama engkau dan Aku berjalan menyertai engkau. Martabat engkau disisi-Ku tidak diketahui oleh siapapun diantara manusia. Aku dapatkan engkau apa yang Aku dapatkan. Sesiapa yang hendak menghina engkau akan Aku hinakan-nya dan sesiapa yang hendak menolong engkau Aku akan menjadi Penolong-nya. Engkau adalah milik-Ku dan rahasia engkau adalah rahasia-Ku dan engkau adalah yang Aku maksud dan engkau bersama-Ku dan engkau disisi-Ku. Engkau orang terhormat disisi-Ku. Aku telah pilih engkau untuk Diri-Ku.
Jadi, orang yang telah diberi ketenangan dalam menghadapi sesuatu yang menakutkan, telah ditegaskan kepadanya untuk diberi dukungan-Nya, sudah diumumkan baginya, sesiapa yang akan menolongnya ianya akan ditolong-Nya, telah diumumkan pula baginya, sesiapa yang hendak menghina dan menentangnya akan dihinakan dan disengsarakan-Nya, orang yang telah dimasukkan kedalam kelompok orang-orang pilihan-Nya yang khas, untuk orang yang beriman kepadanya-pun tidak ada alasan untuk merasa gentar dan takut. Tidak perlu merasa takut dan cemas dari kesulitan dan kesusahan apapun karena hal itu hanya sementara.
Peristiwa Uhud
Didalam peristiwa Perang Uhud, sekalipun orang-orang beriman sudah dalam keadaan sangat terdesak, dan telah banyak menelan kerugian jiwa-raga dan harta, mereka tidak memberi kesempatan kepada musuh untuk mengalahkan mereka. Akhirnya merekalah yang mendapat mahkota kemenangan sambil meneriakkan suara dengan keras "Allhu 'Ala wa Ajal!" Maka sekarang juga apabila Allhu 'Ala wa Ajal telah mengumumkan hal-hal tersebut diatas untuk kekasih yang mencintai-Nya, maka kita yang beriman kepada-Nya, apa perlunya kita merasa takut kepada kesulitan-kesulitan ataupun ancaman-ancaman mereka yang sifatnya sementara ini ?
Beberapa hari yang lalu pernah terjadi pula beberapa kekhawatiran bagi orang-orang Arab (di Timur Tengah), diantara mereka orang-orang Ahmadi dan juga orang-orang Arab non Ahmadi yang simpatic dan yang memiliki rasa cinta terhadap Islam juga. Mereka merasa khawatir kareana atas desakan beberapa Pemerintahan Arab kepada pemilik satelit tayangan chanel (saluran) baru MTA 3 Al Arabiyya yang difocuskan khas kepada beberapa negara Arab (di Timur Tengah) telah ditutup disebabkan beberapa pemerintahan Negara-negara Arab, para Mullah yang pada takut kepada Kristen, sambil memandang kepada orang-orang Ahmadi, dan disebabkan berkobarnya api hasad didalam hati mereka juga terhadap Jema'at Ahmadiyah. Dan oleh karena tanpa menghiraukan factor akhlaq dan tanpa pemberitahuan sebelumnya saluran itu telah ditutup maka baik orang-orang Arab Ahmadi maupun orang-orang Arab non Ahmadi telah mengirimkan banyak sekali surat-surat kepada saya maupun kepada Pengurus MTA dan mereka mengatakan bahwa perbuatan itu perbuatan zalim. Tanpa pemberitahuan sebelumnya saluran ini telah ditutup? Dalam menjawab surat-mereka itu saya katakan kepada mereka : Sabarlah, insya Allah swt akan diusahakan supaya saluran ini dapat dimulai lagi secepat-cepatnya.
Dari khutbah saya hari ini tentu mereka sudah ma'lum apa penyebab ditutupnya saluran itu. Pemerintah-pemerintah yang tunduk kepada perbuatan munafiq, karena takut kepada kekuatan manusia dan disebabkan perasaan hasad juga telah berusaha untuk memblokir (menutup) saluran ini. Dinegara-negara Arab banyak padri-padri Kristen sedang melancarkan serangan-serangan terhadap Islam, dan Jema'at Ahmadiyah melalui MTA sedang giat menjawab serangan-serangan mereka itu, oleh sebab itu mereka juga memberi tekanan-tekanan supaya saluran MTA ini ditutup, kalau tidak MTA ini akan memberi pengaruh buruk terhadap orang-orang Kristen. Bagaimanapun akibatnya, mereka harus berurusan dengan Allah swt. Mereka dengan mengatas-namakan diri kepada Tuhan telah melakukan permusuhan terhadap orang-orang Tuhan. Mereka menganggap bahwa semua sumber kekuatan ada ditangan mereka. Akan tetapi Dia Yang Aziz, Tuhan Pemilik semua kudrat dan kekuasaan telah mengumumkan bahwa :
وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ
Artinya : Dan mereka juga membuat rencana dan Allah pun membuat rencana. Dan Allah adalah sebaik-baik Perencana. (Al Imran : 55)
Dizaman Al Masih pertama juga telah dibuat banyak rencana. Karena itu didalam ayat ini telah diumumkan. Dan dizaman ini juga telah dibuat berbagai macam rencana untuk melawan Al Masih Muhammadi (yakni Masih Mau'ud a.s.) Akan tetapi Allah swt telah memberi ketenteraman hati kepada beliau dan para pengikut beliau. Jadi, peristiwa yang sedang kita hadapi, kita harus berusaha untuk mengantisipasinya. Hal itu semata-mata pekerjaan Allah swt untuk Al Masih-Nya. Dengan cara bagaimana Allah swt membuat perencanaan-Nya sehingga manusia tidak dapat membayangkan sebelumnya. Dan bagaimana Allah swt telah memberi pertolongan dalam hal ini? Untuk beberapa jam atau barangkali untuk satu hari saja lamanya saluran ini sudah ditutup. Bagaimanapun, hari ini juga Dia telah mengatur jalan lain sebagai gantinya bagi kita. Akan tetapi usaha yang pihak musuh lakukan untuk menutup saluran ini, sebagai gantinya Allah swt telah menghubungkan kita dengan seorang pengusaha satelit di Eropah yang sebelumnya juga pernah kita usahakan, namun pada waktu itu pesanan cukup ramai sehingga kita tidak dapat memperolehnya. Namun setelah terjadi pemblokiran ini Allah swt sendiri telah mengaturnya untuk kita sebagai gantinya. Satelit sebelumnya yang telah mereka tutup itu jangkauannya tidak begitu luas hanya sampai kepada beberapa negara Arab saja. Sehingga tidak dapat menjangkau negara Marokko dan beberapa negara lainnya yang sangat mendambakan MTA ini. Namun Satelit yang baru sebagai gantinya ini dapat menjangkau banyak sekali negara-negara hingga sampai kenegara Marokko itu dan beberapa negara lain disekitarnya. Sehingga keperluan mereka dapat dipenuhi. Alhamdulillah !!
Jadi, tengoklah ini semua pekerjaan Allah swt!! Dia, Tuhan Yang sangat tepat memenuhi janji-janji-Nya. Sekarang juga hambatan-hamabatan sedang berlaku dan akan berlaku terus. Akan terjadi serangan-serangan dari pihak musuh-musuh dan orang-orang hasad terhadap Jema'at . Namun seorang Ahmadipun tidak boleh merasa kecil hati dan putus asa atas serangan-serangan itu. Sudah sering saya katakan bahwa, sambil menyaksikan serangan-serangan mereka itu orang mu'min harus lebih banyak bersujud memanjatkan do'a dihadapan Allah swt. Jadi, tingkatkanlah semangat berdo'a kepada Allah swt. Jagalah sembahyang baik-baik dan penuhilah kewajibannya dengan teratur dan berilah perhatian untuk melaksanakan sembahyang nafal juga. Sebab dengan perantaraan do'a-do'a dan ibadah-ibadah itulah Allah swt menolong kita untuk menyempurnakan maksud-maksud kita. Jangan dibiarkan bibir-bibir anda berhenti bergerak untuk berzikir kepada Allah swt. Melalui gerakan-gerakan bibir itulah pintu-pintu kemenangan akan terbuka bagi kita. Insya Allah! Jadi, itulah nuktah dasar yang harus selalu diingat setiap waktu oleh setiap orang Ahmadi.
Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya bahwa sekarang dengan genapnya seratus tahun Khilafat Ahmadiyah, orang-orang Ahmadi sedang membuat program-program untuk merayakannya. Karena perasaan hasad (iri-hati) musuh-musuh Jema'at, mereka sedang membuat rencana untuk menyerang bahkan sedang melakukan serangan-serangan lebih hebat dari yang telah mereka lakukan sebelumnya. Dalam emosi hasad itu mereka akan menimpakan berbagai macam kesusahan dan kesulitan kepada kita karena mereka pikir, mengapa khilafat sudah dirampas dari tangan kami? Orang-orang (Ahmadi) ini sedang meni'mati khilafat, sedangkan mereka sendiri tidak. Dan orang-orang (Ahmadi) ini dengan kompak terikat dalam persatuan dan kesatuan yang kokoh-kuat, sedangkan mereka tidak kompak demikian.
Para penentang (orang-orang muslim) telah menzahirkan pengakuan mereka secara terbuka bahwa mereka tidak akan dapat memperoleh kemajuan dan kemenangan tanpa berpegang kepada nizam (sistim) khilafat. Dan mereka telah menulis bermacam-macam ide dan pendapat mereka tentang khilafat sehingga memnuhi lembaran-lembaran surat-surat kabar dan majalah-majalah. Hampir setiap ari selalu dimuat karangan-karangan tentang khilafat didalam media cetak. Sebagai contoh sebuah kutipan dengan ini akan saya bacakan :
Mufti Muhibur Rahman telah mengemukakan pendapatnya bahwa : Tidak ada sebarang nizam (di-dalam Islam) lebih besar dari pada Nizam Khilafat Islamiyah 'ala Minhaajin Nubuwwat. Bagaimana mungkin bentuk nizam yang agung ini dapat ditegakkan tanpa berhimpunnya ummat Islam diatas satu flatform yang sama. Dan keadaan ummat Islam sendiri yang sedang berlaku pada sa'at ini telah membuat mereka terlepas dari berkat khilafat ini. Dan dalam keadaan seperti ini mereka harus melakukan perbuatan yang sama seperti diwaktu mereka berusaha mendapatkan negara Pakistan melalui pengurbanan yang sangat besar. Dan pengurbanan umat Islam pada waktu itu diberikan untuk mendapatkan negara yang bebas dan merdeka.Waktu itu menurut rencana akan mendapatkan satu negara merdeka dimana mereka akan menegakkan Negara Islam, yang kemudian telah zahir bahwa negara ini telah berdiri dibalik tabir penipuan. Dia sendiri mengakui keadaan demikian.
Selanjutnya dia mengatakan bahwa : Rahasia untuk keutuhan dan kebaikan secara langgeng ummat Isalm terletak pada kesepakatan, persatuan, dan sistim Khilafat Islamiyah 'ala minhaajin nubuwwah. Demikian pernyataan sang Mufti itu.
Alangkah baiknya jika orang-orang ini meninggalkan perasaan igonya dan mau tunduk kepada pendapat orang ! Dan mereka tidak melihat bahwa Imam Mahdi yang mereka tunggu-tunggu itu sudah datang, dan didalam riwayat-riwayat lain telah disebutkan pula bahwa apabila Imam Mahdi sudah datang maka khilafatpun akan berdiri. Sekarang Imam Mahdi sudah datang dan dengan perantaraan beliu sekarang Khilafatpun sudah berdiri pula. Sebarang Nizam Khilafat baru tidak akan dapat didirikan lagi sekalipun mereka berusaha keras untuk itu.