Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2009

BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI?

Oleh: Hadhrat Mirza Tahir Ahmad(r.h.)

(Bagian 4)

Rangkaian tulisan ini diterbitkan pertama kali dalam Al-Furqan, Rabwah, Pakistan tahun 1976. Tiga bagian pertama berhubungan dengan bagaimana hukum-hukum alam digunakan oleh Tuhan untuk menjatuhkan hukuman telah diterbitkan dalam terbitan-terbitan Ahmadiyya Gazette sebelumnya. Tulisan sekarang melanjutkan untuk menguji apa perbedaan antara hukuman Ilahi dengan bencana alam – satu pertanyaan yang sebagian dibahas dalam terbitan Juni 1994.

Ciri-Ciri Khas Hukuman (Azab) Ilahi

Pertanyaan yang kini timbul adalah bahwa jika para penentang Adam(a.s.) disapu dari permukaan bumi; jika tak ada tanda keberadaan dari semua orang yang menolak Nuh(as.); jika orang-orang yang mengejar Musa(a.s.) ditenggelamkan oleh air sungai Nil; jika para penentang Daud(a.s.) dimusnahkan; dan jika orang-orang yang beriman kepada Isa(a.s.) unggul atas orang-orang yang menolak beliau sedemikian rupa hingga yang sedikit menjadi banyak; yang diperintah menjadi yang memerintah dan yang teraniaya, majikan – maka mengapa hukuman dari langit yang bekerja dengan mukjizat sedemikian rupa dalam mendukung nabi-nabi terdahulu hal semacam itu tak ada dalam mendukung Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) yang merupakan Penghulu Para Nabi dan yang paling sempurna dari para rasul? Mengapa keunggulan lahiriah yang didapatkan oleh yang terakhir ini atas para penentangnya adalah jauh lebih singkat dari pada hasil yang didapatkan oleh orang-orang yang mengimani Nabi Isa(a.s.) dalam beberapa abad pertamanya sesudah peristiwa penyaliban atas orang-orang yang menolak Nabi Isa(a.s.)?


Senin, 26 November 2007

Timbulnya Berbagai Musibah Bencana dan Kesusahan

Dari Sudut Pandang Kedatangan Imam Zaman

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

23 November 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK

----------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Huzur menerangkan sebab akibat terjadinya berbagai bencana yang kini tengah melanda seluruh dunia, dari sudut pandang kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud / Imam Mahdi a.s.

Huzur bersabda, saat ini di seluruh dunia, baik di Barat maupun di Timur, ataupun di negara-negara maju maupun negara berkembang, semuanya tengah dilanda berbagai musibah. Sebagian mengkhawatirkan banyaknya gangguan di dalam negeri. Sebagian lagi mengalami ketakutan yang sangat akan ancaman terorisme internasional yang ditimbulkan oleh sikap politik ataupun yang mereka istilahkan berdasarkan agama – karena sesungguhnya tak ada satu pun agama yang sejati yang mengajarkan terrorism; khususnya lagi agama Islam. Sebab, di dalam Islam sangat diharamkan bagi seorang warganya untuk melakukan perbuatan makar. Namun, memang sangat disesalkan apabila ada pihak tertentu yang melakukan kekerasan atas nama agama.

Kemudian, banyak lagi negara yang tengah bergelut mengatasi berbagai bencana alam mereka. Pendek kata, setiap orang yang bersimpati kepada perikemanusiaan dan takut kepada Allah namun tidak berdaya, akan berkesimpulan, bahwa kini seolah tak ada lagi rasa tenteram hidup di dunia ini. Akan tetapi, pada situasi seperti sekarang ini, justru kaum Ahmadi-lah yang merasakan nikmat ketenteraman hati. Huzur bersabda, beliau banyak mendapat infomasi, baik dari dalam [Jemaat] maupun dari berbagai sumber lainnya, sebagian besar orang Ahmadi memprihatinkan situasi global maupun dalam negeri mereka saat ini. Sikap keprihatinan ini timbul sebagai dampak positif inqillabi-haqiqi keimanan mereka berkat ajaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Karena sesungguhnyalah salah satu tujuan kedatangan beliau adalah untuk menguatkan iman manusia sekaligus menunjukkan keberadaan Tuhan. Sebaliknya, keadaan manusia yang mengalami berbagai kecemasan ini dikarenakan mereka hanya mengandalkan berbagai hal kepada material-duniawi. Terputus hubungan mereka dengan Tuhan. Maka sabda beliau a.s., beliau adalah diutus untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan yang menciptakan mereka, dan juga untuk membatalkan kekerasan atas nama agama. Huzur bersabda, dua hal utama perintah di dalam Alqur'an adalah berkaitan dengan cinta kepada tauhid Ilahi dan sikap simpati kepada sesama manusia.


Huzur bersabda, kita beruntung sudah menerima kebenaran Imam Zaman, yang diutus untuk memperbaiki dunia yang kini tengah dilanda sikap mementingkan diri sendiri. Dia menunjukkan jalan untuk menghindari diri dari keburukan tersebut. Maka tugas setiap orang Ahmadi-lah untuk menunjukkan tauhid-Ilahi, menunjukkan hubungan pribadi mereka dengan Allah Swt, sekaligus bersimpati kepada sesama manusia. Huzur bersabda, sudah sejak lebih dari seratus tahun yang lalu Jemaat ini sudah berkhidmat, memperlihatkan hal itu semua dengan sebaik-baiknya.

Kita harus senantiasa berusaha dan menjelaskan kepada dunia, latar belakang sebab-musabab timbulnya berbagai bencana alam maupun gangguan keamanan yang kini tengah terjadi di sekeliling kita. Lakukanlah sesuai kemampuan yang ada. Melalui surat kabar ataupun media massa lainnya, serta berbagai cara yang lain. Sampaikanlah pesan tabligh, bahwa berbagai macam ketidak-nyamanan ini tidak akan berakhir, dan ketenteraman akan sulit didapat apabila pelecehan dan kekerasan terhadap seorang yang diutus Tuhan masih terus dilakukan. Badai taufan, berbagai musibah, bencana alam ataupun cuaca ekstrim akibat perubahan iklim global dlsb, akan terus mendera. Hendaklah direnungkan; sudah lebih dari seratus tahun yang lalu seseorang telah mengingatkan, jika manusia tidak peduli terhadap pesan Ilahi ini, maka Dia pun akan menujukkan [hukuman-Nya] melalui berbagai bencana alam. Beliau pun sudah mengingatkan akan adanya berbagai macam gempa bumi, yang tingkat dan macam penggenapannya sungguh menakjubkan selama periode seratus tahun belakangan ini.

Merujuk kepada badai taufan dan banjir di Bangladesh, Huzur bersabda, mereka mengatakan hal itu merupakan badai taufan terbesar selama 47 tahun terakhir ini, yang menyebabkan 600,000 orang telah kehilangan tempat tinggalnya. Ditambah dengan berbagai kerugian material lainnya. Namun dengan karunia Allah Swt, meskipun sejauh ini tidak ada kaum Ahmadi yang dilaporkan mengalami sesuatu kerugian yang fatal. Huzur bersabda, sejumlah pekerja sukarela dari Humanity First UK (Jemaat Inggris) dan [Jemaat] Canada sudah berangkat ke Bangladesh membawa berbagai bantuan yang diperlukan. Nyatalah, Jemaat [Ahmadiyah] senantiasa siap sedia menolong penderitaan orang lain di manapun berada, sebagaimana telah dilakukan di berbagai belahan dunia. Padahal, selama tak kurang dari 2 (dua) tahun terakhir ini kaum Ahmadi di Bangladesh mengalami penganiayaan berat. Massa yang awam dan kurang berpendidikan dipengaruhi sedemikian rupa untuk merusak harta benda milik kaum Ahmadi; Akan tetapi, Jemaat Ahmadiyah senantiasa siap memberi bantuan manakala diperlukan. Inilah yang membedakan Jemaat Imam Mahdi a.s. yang sejati, karena beliau sendiri telah menyampaikan, bahwa salah satu tugas beliau adalah untuk bersimpati kepada sesama manusia.

Selanjutnya Huzur menyinggung keadaan di negara Pakistan. Di sana, selama ini kaum Ahmadi dilarang mengucapkan Allahu Akbar; dilarang mengucapkan Shalawat kepada Rasulullah Muhammad Saw. Mereka mengatakan amal shalih tersebut adalah perbuatan kriminal yang harus dikenai hukuman penjara selama beberapa tahun. Mereka tidak sadar, bahwa mereka tidak akan berhasil merampas kecintaan kepada Allah dan kepada Rasulullah Saw dari qalbu setiap orang Ahmadi.

Masih segar dalam ingatan ketika 2 (dua) tahun lalu gempa bumi kuat mengguncang wilayah Pakistan. Ratusan ribu orang menjadi korban. Namun, meskipun berbagai penganiayaan berat - yang didukung pemerintah Pakistan melalui pemberlakuan Undang-undangnya yang buruk - dilakukan terhadap kaum Ahmadi, Jemaat ini tetap memberikan bantuan dalam jumlah besar. Kita mendirikan sejumlah tenda bantuan darurat yang berlangsung selama beberapa bulan. Salah satu tenda bantuan kesehatan dicoba dibakar oleh mereka yang anti, agar ditutup. Namun kita tetap melanjutkan bantuan. Pasca gempa bumi kuat tersebut, sebagian besar masyarakat di sana masih mengalami gangguan psikologis. Maka Jemaat mendirikan pusat rehabilitasi khusus untuk pasien tersebut di Kashmir dengan biaya besar. Huzur bersabda, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah menanamkan sikap untuk mengkhidmati manusia dengan ikhlas di dalam diri kita. Menyoroti situasi terakhir di Pakistan, keletihan, akibat berbagai gangguan, pembunuhan dan kekacauan tengah berlangsung. Pihak pemerintah dan pegawainya saling menantang, kaum politisi berusaha menarik keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri. Pihak judikatif, dan penegak hukum pun demikian. Sebelum ini pun, ada pemerintahan dalam pemerintah di   Islamabad. Kini, terjadilah pemberontakan di Sawat (suatu wilayah di Pakistan). Satu surat kabar melaporkan, kaum bersenjata tersebut dulunya membantu pemerintah, tetapi sekarang mereka berbalik melawan. Tak ada ancaman dari luar, tetapi jika tentara harus memerangi musuh dalam selimut, justru lebih berbahaya.

Huzur bersabda, pada tahun 1974 ketika pemerintah Pakistan menyatakan kaum Ahmadi sebagai non-Muslim  mereka menuduh bahwa Rabwah dibangun untuk mendirikan pemerintahan sendiri. Tak sadarkah mereka kini: Adakah pemerintahan di Rabwah ?   Ataukah contoh makar yang nyata di Sawat itu ? Kaum Ahmadi senantiasa menghormati hukum, bahkan meskipun tanah hak milik mereka dirampas pihak lain. Alih-alih melawannya dengan kekerasan, kaum Ahmadi menempuh jalur hukum. Akan tetapi, setelah berlangsung selama 30 (tiga puluh) tahun, Pengadilan Tinggi masih belum memberikan keputusan. Sementara itu, berbagai bangunan ilegal dibiarkan berdiri di atasnya. Ketika mereka diberi tahu masalah ini melanggar hukum dan pelecehan terhadap Pengadilan Tinggi, mereka menjawab, apa pedulimu. Ini tanggung jawab kami.
Huzur bersabda, karena situasinya demikian, hal terburuk yang dapat terjadi adalah merajalelanya korupsi di setiap departemen di negara tersebut. Ini dikarenakan iman mereka sudah memudar, dan peringatan akan adanya Hari Pengadilan (Yaumid-Din) dianggap cerita belaka. Jika direnungkan, semua kekacauan, musibah dan gangguan yang tengah dialami negara tersebut dikarenakan mereka telah menolak Imam Zaman.


Huzur bersabda, dalam situasi negara diberlakukan dalam keadaan darurat, Undang-undang dan Peraturan Negara dibatalkan. Namun, Undang-undang yang sangat buruk, yakni yang menyatakan kaum Ahmadi non-Muslim tetap dinyatakan berlaku. Huzur bersabda, ketakutan mereka terhadap pihak yang dapat menyebarkan terror atas nama agama melebihi rasa takut mereka kepada Tuhan.


Huzur menghimbau kita semua untuk mendoakan negara Pakistan dan kaum Ahmadi di Pakistan, agar jangan sampai dijadikan sasaran. Adalah tanggung jawab kita dengan berbagai cara untuk mengingatkan mereka, bahwa hal tersebut sama halnya dengan mencampuri Undang-undang Ilahi. Huzur bersabda, sebagian orang yang berpikiran waras mulai menyuarakan pendapat mereka, bahwa semua hal yang kini membahayakan situasi negara Pakistan adalah dikarenakan Allah Taala sudah murka. Namun agaknya masih kurang jelas bagi mereka, mengapa Tuhan murka terhadap mereka.  Padahal sudah jelas dinyatakan, bahwa Allah Taala akan memperlihatkan tanda-tanda dukungan-Nya atas setiap pendakwaan beliau [Hadhrat Masih Mau'ud a.s.]. Perhatikanlah hal ini !

Mereka tidak hanya memberlakukan berbagai Undang-undang yang aniaya, bahkan membiarkan kaum Ahmadi disyahidkan hanya dikarenakan mereka orang Islam-Ahmadiyah. Meskipun satu atau dua pengadilan telah digelar untuk kasus kriminal ini, namun selama Undang-undang tersebut masih diberlakukan, maka setiap pemerintahan yang berdiri, akan berpartisipasi dalam keaniayaan ini.

Huzur bersabda, hubbul wathon minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Oleh karena itu, kita sampaikan kepada pemerintah Pakistan dan bangsanya, bahwa jika mereka ingin menghindari hukuman Tuhan, berlakulah adil. Ambilah pelajaran dari situasi yang kini tengah terjadi di   Afghanistan. Dulu, 2 (dua) orang Ahmadi terkemuka disyahidkan di negara tersebut – dan sudah dikhabar-gaibkan kepada Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bahwa di tempat dimana 2 (dua) orang tersebut disyahidkan, Allah Swt akan menjadikan bangsa-bangsa tersebut menjadi jamaah beliau. Kini, ada kaum Ahmadi di Afghanistan, meskipun tidak banyak, namun sudah menunjukkan kebenaran janji Ilahi tersebut. Peringatan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. kepada negeri Kabul telah sempurna, sehingga orang yang merenungkannya akan berkesimpulan, bahwa semua ini memang berasal dari Allah Swt.

Huzur bersabda, satu hal yang ingin beliau ingatkan kepada seluruh anak bangsa [Pakistan] ini adalah gunakanlah akal sehat. Dan jangan mendewakan manusia. Negara Pakistan didirikan dengan maksud untuk memberikan kebebasan kepada kaum Muslimin. Qaid Azam / Pemimpin Besar (Muhammad Ali Jinnah) telah membawa kaum Muslimin dari keaniayaan, dan memberi mereka negara yang di dalamnya ajaran Islam dapat dipraktekkan. Demikian pun berbagai agama lainnya. Kebebasan beragama dan hak-hak azasi setiap warga negaranya dijamin. Akan tetapi sayang, berbagai pemerintahan yang datang silih berganti telah ikut campur dalam urusan agama. Bertindak tidak adil. Dan tidak menegakkan amanat keadilan dalam pemerintahan mereka. Malah melakukan penganiayaan sedemikian rupa terhadap golongan yang beriman.

Huzur bersabda, kami kaum Ahmadi demikian cintanya kepada negara Pakistan. Dalam perjuangan merebut  kemerdekaannya, kami banyak memberikan pengorbanan, demikian pun berbagai peperangan sesudahnya. Kini pun kita memberikan berbagai sumber daya yang kita miliki untuk membantu mereka, ketika dibutuhkan. Huzur bersabda, beliau berharap para Ahmadi Pakistani dimanapun mereka berada, senantiasa mencintai negaranya, yang untuk itu mereka mendoakan. Demikian besarnya jumlah orang Ahmadi di Pakistan, dan berkat doa-doa merekalah Pakistan terselamatkan. Sebaliknya, berbagai aksi mereka yang menamakan diri kaum patriot justru membawa [negara itu] ke jurang kehancuran.

Huzur kemudian mengomentari pernyataan seorang Anggota Parlemen Eropa, yang mengatakan agar jangan menghentikan bantuan untuk negara Pakistan karena akan berdampak buruk terhadap kaum miskin. Namun sebaliknya, sabda Huzur, seorang pemimpin di sana [ Benazir Bhutto] dan lainnya mengatakan, bantuan dari Uni Eropa harus dihentikan, agar rezim yang sedang memerintah mengalami tekanan. Nyatanya, berbagai pihak di Pakistan praktis telah mengundang pihak luar untuk ikut campur di dalam negeri mereka. Dan dengan bangga menyatakan, bahwa mereka telah dapat mengatasi masalah yang telah berlangsung selama 90 tahun.

Semoga Allah memberi karunia kepada negara ini. Bila pun ada beberapa pemimpin yang tidak berperasaan tidak dapat diperbaiki lagi, semoga Allah memberi negarawan yang baik, yang berkenan di hati; untuk itulah hendaknya setiap Ahmadi, khususnya Ahmadi Pakistani, baik yang tinggal di Pakistan maupun di luar negeri, agar mendokan hal ini.

Selanjutnya Huzur menyinggung situasi di Indonesia. Saat ini gerakan anti-Ahmadiyyah lainnya tampak merebak lagi. Di berbagai daerah, beberapa rumah dan masjid milik orang-orang Ahmadi diserang, dan orang-orangnya diancam. Beberapa instansi / departemen pemerintah tampak berdiri menyokong di belakang situasi   tersebut untuk menciptakan kesan salah, bahwa negara menjadi tidak stabil dan membahayakan, sehingga dapat melapangkan jalan mereka untuk membuat pelarangan terhadap Jemaat Ahmadiyah. Akan tetapi Allah akan menggagalkan rencana buruk mereka. Mereka pikir mereka dapat menghabisi Jemaat dengan cara itu. Mereka sudah merencanakan dan mengupayakannya hal semacam itu sejak seratus tahun ini. Kalaulah Jemaat ini buatan manusia, tentu sudah habis sejak lama. Akan tetapi, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah dijanjikan oleh Allah Taala, bahwa Jemaat ini akan berhasil dan terus tumbuh berkembang. Oleh karena itu kita tidak khawatir bahwa mereka akan berhasil menghabisi Jemaat Ahmadiyyah, ataupun memasung perkembangannya di Indonesia. Dengan karunia Allah Taala, kaum Ahmadi Jamaat Indonesia dikenal baik semangat pengorbanannya; Bila pun ada satu dua orang yang menjadi lemah imannya, Allah Taala menggantinya dengan lebih banyak lagi orang-orang yang kuat keimanan dan keyakinannya.

Huzur bersabda, kita menyaksikan kebenaran wahyu yang diterima Hadhrat Masih Mau'ud a.s.: "Aku akan sampaikan tablighmu ke seluruh pelosok dunia"; yang penggenapannya senantiasa lebih mulia dan bertambah-tambah lagi pada setiap harinya. Kita tidak perlu mengkhawatirkan Jemaat. Yang perlu diprihatinkan adalah semoga Allah melindungi orang-orang Ahmadi dari segala keburukan. Huzur bersabda, kaum Ahmadi di seluruh dunia harus senantiasa ingat, agar jangan main hakim sendiri. Akan tetapi juga jangan sampai lekang mengkhidmati manusia karena berbagai penentangan terhadap mereka. Dan tidak pula mengendurkan upaya pertablighan Dai Ilallah.

Huzur bersabda, beberapa tahun yang lalu ketika gempa tsunami menyapu Indonesia, pada sat itu tengah terjadi gerakan anti-Ahmadiyah yang sengit. Namun, kita tetap membantu mereka, karena dengan karunia Allah Swt qalbu kita senantiasa dipenuhi rasa simpati terhadap penderitaan manusia. Adalah kewajiban kita untuk membantu mereka meskipun mereka akan berusaha menyengat kita kembali. Karena ganjaran pahala kita tidak tergantung kepada mereka. Hanya Allah-lah yang memberikan karunia-Nya. Tugas kita hanyalah menebar kebaikan demi untuk menarik keridhaan-Nya. Untuk itu, setiap Ahmadi hendaknya bekerja keras disertai dengan doa dan sabar istiqamah. Jangan merasa lelah karena penganiayaan, karena kewajiban harus tetap dilaksanakan.

Membacakan ayat 2 dan 154 Surah Al Baqarah, Huzur bersabda, ayat-ayat ini memerintahkan kita agar kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati (tawadhu); karena berbagai penganiayaan ini hanya cobaan, yang memerlukan kesabaran dan istiqamah agar dapat terus merambah maju bergerak. Menghadapi berbagai cobaan ini kita tidak perlu meminta bantuan kekuatan duniawi, melainkan hanya kepada Allah Swt saja. Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi keburukan. Pertolongan Ilahi segera datang dengan segala kebesarannya. Kemenangan nyata Jemaat ini adalah penggenapan kebenaran janji Ilahi, bahwa pada akhirnya Jemaat Ahmadiyah, Islam yang sejati inilah, yang akan unggul.

Membacakan ayat 48 Surah Ibrahim (14:48), Huzur bersabda, setiap Ahmadi hendaknya yakin, bahwa sesuai dengan janji Ilahi ini, pertolongan Allah senantiasa menyertai Jemaat yang dikasihi-Nya ini. Huzur mendoakan, semoga para penentang kita tidak menjadi mangsa hukuman Allah Swt – sebagaimana dikemukakan oleh ayat ini – disebabkan oleh kedunguan mereka. Semoga mereka menyadari peringatan Ilahi ini.

Huzur bersabda, boleh jadi mereka dapat menyusahkan kita untuk sementara waktu. Akan tetapi mereka sekali-kali tidak akan berhasil merampas ketenteraman hati dan ketenangan pikiran sebagai buah karunia keimanan kita. Kita senantiasa memohon bantuan Allah dan berdoa, "ihdinaa shiratal mustaqiim", tunjukilah kami jalan yang lurus. Tidak menunjukkan ketergesa-gesaan. Karena tugas kita-lah untuk memperlihatkan sikap sabar yang tinggi, sehingga kita menjadi pewaris berbagai karunia   Allah Swt.

Setelah membacakan ikhtisar berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzur mengakhiri Khutbah dengan doa, semoga Allah memudahkan setiap diri kita untuk tetap melangkah di jalan ketakwaan, dan senantiasa memahami missi Ahmadiyyah, Islam yang sejati, sesuai dengan ajaran dan harapan Hadhrat Masih Mau'ud a.s..

 

transltByMMA/LA112507; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI

Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.

Jumat, 19 Januari 2007

Ktbh 19 Januari 07

Sifat Al-Rahman Allah Taala

(Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V, Atba

19 January, 2007 di Masjid Baitul Futuh, London, UK)

 

Huzur Atba menerangkan Sifat Al-Rahman (Maha Pemurah) Allah Swt pada Khutbah Jumah beliau kali ini. Mengingatkan kembali topik masalah ini yang telah beliau khutbahkan pada beberapa kali Jumah lalu, Huzur merujuk kepada ayat 12 Surah Yasin (36:12): "Innama tunjiru manittaba'adzikra wa hasiyarrahmaa bilghaib, fabassirhu bimaghfiratiwwa-ajrin kariim"; yang artinya:"…………………………………………………………………………………………….

yakni sifat Rahman yang mencakup Rahmaniyyat, senantiasa terwujud melalui berkat dan karunia Ilahi. Keuniversalan dan keberkatanNya melingkupi semua makhluk.

Hadhrat Masih Mau'ud a.s. menjelaskan bahwa dikarenakan sifat Rahman-Nya inilah Allah memenuhi segala kebutuhan makhluk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Bahkan menyediakan segala kebutuhan untuk keberlangsungan kehidupan mereka.

Langit dan bumi telah diciptakan ribuan tahun lalu sebelum makhluk hidup diciptakan. Kemudian manusia menerima karunia sifat Rahmaniyyat-Nya yang terbesar, berupa segala sesuatu ditundukkan-Nya bagi kebutuhan mereka.

Maka dikarenakan karunia-Nya inilah – sebagai tanda rasa syukur – manusia hendaknya peduli dan dekat dengan Tuhan. Namun sangat disayangkan, pada kenyataannya sebagian besar manusia tidak menyadari akan hal ini. Mereka sudah demikian banyak menerima karunia Ilahi, namun tidak bersyukur.  

Dikarenakan sifat Rahmaniyyat-Nya inilah Dia pun mengirimkan para Utusan-Nya, untuk menuntun umat manusia ke arah kebaikan dan mengingatkan mereka agar menjauhi keburukan. Tetapi kebanyakan manusia tidak berkehendak untuk memperbaiki dirinya. Sebaliknya, justru para Utusan-Nya inilah yang menderita karena ulah kaumnya itu. Dan tak ada Utusan-Nya yang demikian menderitanya selain Rasulullah Muhammad Saw. demi kebaikan seluruh umat manusia, sebagaimana tercantum di dalam Al-Quran Surah 18, ayat 7 dan Surah 26, ayat 4.

Huzur bersabda,  adalah sangat penting bagi kemajuan rohani untuk senantiasa lekat dengan Tuhan Yang Maha Pemurah; inilah sebabnya mengapa ayat Alquran 36:12 ini diturunkan kepada Rasulullah Saw, "Engkau hanya akan berhasil memberi ingat kepada mereka yang berkehendak untuk mengikuti Sang Pemberi Ingat, dan hati mereka diliputi rasa takut kepada Tuhan. Maka, berilah khabar suka kepada meeka tentang pengampunan dan ganjaran pahala yang besar."

 

Bertabligh dan Bertablighlah Untuk Menyelamatkan Dunia

Allah Ar-Rahman senantiasa memberi semua jenis karunia-Nya bagi manusia ciptaan-Nya. Dia telah mengirimkan kesempurnaan ajaran-Nya (Islam) namun sekaligus dikatakan tiada paksaan di dalamnya. Jika keimanan anda sejati, meskipun hanya di dalam hati, maka anda pun akan diberkati dan akan memperoleh kedekatan lebih lanjut kepada Tuhan. Melalui Rasulullah Saw, kita dinasehati, bahwa salah satu cara untuk mensyukuri hal ini, adalah dengan bertabligh. Inilah cara untuk membuktikan kebenaran Rasulullah Saw dan abdinya yang sejati, ialah Hadhrat Masih Mau'ud a.s.; Maka tugas kita sekarang untuk menyampaikan pesan tabligh ini kepada orang lain; jangan pernah berkecil hati bila hasilnya minim. Yakinlah, kita akan memperolehnya seberapapun kecil jumlah mereka yang menerima. Hal ini akan mendatangkan Keridhaan-Nya kepada kita, dan juga bagi mereka.

Huzur menasehati, hendaknya kita pun mengadakan perubahan-perubahan suci di dalam diri kita terlebih dahulu, barulah kemudian bertabligh dengan niat suci semata-mata untuk mencari Keridhaan-Nya. Laksanakanlah apapun rintangannya. Satu-satunya cara untuk menyelematkan dunia dari kehancurannya adalah apabila mereka dapat memahami dan mengindahkan Allah Ar-Rahman. Jika tidak, maka berbagai bentuk bencana pun akan menimpa mereka. Tugas kewajiban kita hanyalah menyampaikan amanat-Nya, setelah itu serahkan kepada Allah, terserah kepada-Nya untuk menghidupkan mereka yang telah mati [rohaninya]. Sebagai orang Ahmadi, tugas menyampaikan risalah tabligh ini demikian wajibnya. Sampaikanlah kepada setiap orang disertai contoh baik perilaku diri kita, dan dengan menggunakan berbagai sumber daya yang ada.

Membacakan ayat 45 dan 46 Surah Maryam (19:45-46):"Yaa abati laata'budisysyaithaan, inna syaithaana kana lirrahmaani adziim" , yang artinya:"……………………………………………………………………; Huzur menerangkan dengan perumpamaan Hadhrat Ibrahim a.s. yang telah memperingati "ayahnya" agar melepaskan diri dari segala urusan syaithani, yang pada masa sekarang ini pun penyembahan berhala sedunia telah mewujud dalam segala bentuknya dan manusia telah tenggelam di dalamnya. Hampir tak ada seorang pun yang tertarik untuk bersyukur kepada Tuhan-nya Yang Maha Pemurah. Bahkan mereka yang mengaku sebagai kaum Muslimin pun memutuskan tali hubungan dengan Allah Ar-Rahman mereka, disebabkan mereka meniru-niru cara hidup kaum lain.

Gambaran keadaan "akhir zaman" sebagaimana tercantum di dalam Surah Al-Jummah (62:12): "Wa idza ro-awtijaratan awlahwa infaddu ilaiha wa tarakuuka qooimaa, qul maa-indallaahi khairumminallahwi wa minattijaarati, wallaahu khairurrazikiin" , yang artinya "………………". Nyatalah, zaman sekarang inilah yang dimaksud dengan akhir zaman itu. Huzur mengingatkan [agar jangan sampai terkecoh] oleh apa-apa yang tampaknya baik tidaklah sebaik yang diduga, sebab senyatanya mereka itu mengarahkan manusia kepada kerusakan.

 

Berantaslah Berhala Akhir Zaman Sekarang Ini

Menolak Imam Zaman saja sudah berarti tenggelam jauh ke dalam ajakan syaithan, dan mereka yang telah terjebak ke dalamnya tak dapat berhubungan dengan Allah Ar-Rahman. Dikarenakan, mengikuti jalan Syaithan sudah berarti menyembahnya.  

Huzur bersabda, kita perlu bermawas-diri dan mengoreksi diri dengan seksama, jangan sampai berkata-kata atau berperilaku yang dapat mengundang ketidak-ridhaan Allah Taala. Membacakan sebuah Hadith Qudsi, Huzur menerangkan, bahwa Allah akan memelihara hubungan dengan mereka yang memelihara tali silaturahmi dengan keluarga dan sanak saudara mereka. Dan sebaliknya akan memutuskan hubungan-Nya bagi siapa yang memutuskan tali silaturahmi mereka. Hadith ini menggunakan istilah Rahim (kandungan) yang akar katanya berasal dari Rahman juga, yang artinya hubungan dekat.

Huzur bersabda,  setiap hari kita perlu mawas diri terhadap kelemahan sekecil apapun, dan berusaha untuk meninggalkannya. Jika tidak, manusia yang tampaknya menyembah Tuhan namun kenyataannya tidak menyembah Tuhan Ar-Rahman, melainkan jatuh ke dalam jebakan syaithan. Perumpamaan dilestarikannya ayat-ayat Quran mengenai Hadhrat Ibrahim a.s. menasehati "ayahnya", berlaku terus hingga Akhir Zaman bagi umat manusia sekarang ini.

Sebagai akibat kejahilan massal inilah berbagai bencana menerpa dunia. Selain memiliki sifat Rahman, Allah pun sekaligus bersifat Al-Jabbar (Maha Penakluk) dan Al-Qahhar (Maha Kuasa) yang memberikan hukuman. Sifat Pemberi Hukuman-Nya ini menerpa apabila mekipun manusia sudah diberi karunia dan keridhaan-Nya namun mereka terus melakukan pelanggaran. Huzur menerangkan, sifat Rahmaniyyat Allah Taala ini tidak berarti menjadi batal dikarenakan [ada sifat Hukuman]-Nya. Sebab, akibat perbuatan jahiliyah manusia yang terus meneruslah sehingga mereka dihukum.

Huzur mengingatkan, inilah sebabnya kita harus senantiasa ber-Istighfar, sebab, sesuatu hukuman hanya akan menimpa mereka yang terus menerus melakukan pelanggaran. Al-Qur'an dipenuhi dengan ayat-ayat yang menerangkan bahwa perbuatan dosa dapat diampuni dengan cara taubatan-nasuha.
Huzur kemudian membacakan beberapa Hadith untuk lebih memperjelas topik masalah ini.

Huzur bersabda, kita perlu mengkomunikasikan kepada dunia, bahwa Kristen menolak Tuhan Yang Maha Pemurah, dan tidak memiliki konsep Tuhan yang benar dikarenakan mempercayai seorang anak manusia mengorbankan dirinya untuk menebus dosa umat manusia. Al-Qur'an menegaskan di dalam Surah Maryam ayat 89 – 94, bahwa menyandangkan seseorang anak manusia sebagai anak-Nya, demikian celakanya hingga niscaya langit dan bumi terguncang sebagai akibatnya. Maka di zaman puncak kemusyrikan sekarang inilah, Allah mengutus "Massiah Muhammadi" membatalkan konsep yang keliru ini.

Huzur bersabda,  diutusnya Hadhrat Masih Mau'ud a.s. merupakan salah satu perwujudan dari sifat Ar-Rahman Allah Taala. Maka sebagai ungkapan rasa syukurnya, kita harus berupaya lebih keras lagi untuk menyampaikan pesan risalah tabligh ini ke seluruh dunia. Kita perlu melaksanakan tugas mulia ini dengan gigih sehingga berhak untuk lebih banyak lagi menerima Keridhaan-Nya. Semoga Allah mempermudah pekerjaan ini.

Selanjutnya Huzur bersabda,  setelah beliau mengumumkan peran aktif Lajnah Imaillah Jerman [pada Jumah lalu] dalam hal pengumpulan dana pembangunan Masjid Jamaat Berlin, berbagai Badan Lajnah Imaillah lainnya pun menyatakan keinginan mereka untuk ikut berpartisipasi. Mereka mengutarakan hal ini mengingat semangat pengorbanan harta benda Lajnah Imaillah Qadian untuk pembangunan Masjid ini sejak beberapa puluh tahun lalu. Keluarga keturunan mereka di mana-mana menyatakan ingin menghidupkan kembali semangat pengorbanan harta generasi awal mereka, dan juga atas nama mereka sendiri. Huzur bersabda,   beliau tidak akan mengumumkan sesuatu Gerakan [Pengumpulan Dana] yang khusus untuk keperluan ini, namun apabila berbagai Lajnah dan Nasirat/Banat lain ingin berpartispasi, dipersilakan; Lajnah Jemaat Jerman tidak akan berkeberatan karenanya. Huzur selanjutnya menyerukan doa untuk kelancaran dan keberhasilan pembangunan Masjid tersebut, mengingat adanya sikap kontra dari sekelompok masyarakat.

 
transltByMAS/LA012207