Kumpulan informasi terkini mengenai sabda khalifah islam masa kini. literatur islam yang sesungguhnya dan sebenarnya bagi para pencari kebenaran.
Minggu, 04 Oktober 2009
Dokumentasi BBC Mengenai Yesus di Kashmir
Fakta-fakta membuktikan persis sebagaimana yang diklaim oleh Al-Quran Karim, "Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir." (Q.S. Al-Mu'minun 23:51)
Apa yang Terjadi Pada Yesus?
Lihat dokumenter yang lain mengenai fakta kebenaran dibalik peristiwa penyaliban Yesus 2000 tahun lalu di YouTube.
Rabu, 14 Januari 2009
KUTUKAN TANAH SUCI

Dentuman suara ledakan bergema di seluruh penjuru kota. Darah mengalir, mayat bergelimpangan. Air mata terurai, kepiluan tak terelakkan. Melihat Gaza sekarang ini, tak ubahnya seperti masa ribuan tahun yang lalu dimana peradaban manusia belum seperti sekarang. Tidak ada batasan kemanusiaan, rasa keadilan, ataupun belas kasihan laksana binatang buas yang sedang menerkam mangsanya. Bedanya kini menggunakan peralatan yang lebih canggih sehingga kebrutalan tidak akan terlalu terlihat secara vulgar seperti di masa lalu.
Hingga kini hari ke-20 invasi israel ke Palestina, jumlah korban tewas akibat kekejaman Israel sudah hampir 1000 orang. Sebagian besar adalah anak-anak dan kaum wanita. Angka ini akan terus bertambah mengingat besarnya jumlah korban luka-luka yang parah sedangkan sarana prasarana perawatan medis sangat minim akibat blokade Israel.
Israel menjadikan Hamas sebagai alasan mereka membantai seluruh Palestina. Hamas pun tidak mau mengalah dengan terus mengirimkan roket-roket ke wilayah israel. Hasilnya, 4 orang terluka di pihak Israel dan ribuan terbunuh di Palestina. Hamas yang sudah terbakar kebencian yang mendalam semenjak lama sepertinya sudah tidak dapat bertindak rasional lagi. Tidak lagi memikirkan korban di pihak saudara mereka sendiri yang terus berjatuhan. Israel pun nampaknya tidak berniat memberi ampun kepada Hamas ataupun kepada Palestina seumumnya yang sedari awal menjadi duri dalam renacananya menguasai kembali Tanah Yang Dijanjikan Tuhan (The Promised Land). Sehingga pemandangannya sekarang persis seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus yang sudah tidak berdaya.
Jika ini terjadi ribuan tahun yang lalu, kita akan faham karena waktu itu belum ada hukum internasional yang mengikat semua bangsa-bangsa di dunia. Belum ada Perserikatan Bangsa Bangsa seperti sekarang ini yang bertujuan menjaga perdamaian dunia. Lalu apa yang salah?? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa kekejian seperti ini masih saja berlangsung.
Masalah politik dan permainan kotornya dari dulu memang bukan termasuk hal yang dapat ku cerna. Mungkin aku terlalu naif untuk bisa mengerti hal seperti itu. Tapi setidaknya semua setuju dengan azas kemanusiaan. Agama manapun di dunia ini pasti memberikan perhatian pada kemanusiaan ini tanpa terkecuali. Manusia harusnya memang banyak belajar tentang kemanusiaan dari pengalaman sejarah berabad-abad. Cukup sudah peperangan, pertumpahan darah, kekerasan, dan ketidakadilan.
Namun mungkin kehendak Tuhan lain. Selalu kita memikirkan apa yang menjadi kehendak kita tanpa memperhatikan kehendak Tuhan. Tuhan selalu memberikan jalan untuk kebaikan umat manusia. Namun semikian manusia tanpa malu menolak semua yang terbaik itu dan memilih jalannya sendiri. Kebaikan hanyalah bila manusia kembali ke jalan Tuhan. Namun kebanyakan manusia tidak lagi memperhatikan jalan hidup yang sedang dilaluinya. Terlalu asyik dengan ambisi dirinya serta mengabaikan seruan Tuhan untuk kembali ke jalan-Nya.
Masing-masing merasa benar dengan arah yang sedang dituju tanpa mau memeriksa dengan benar navigasi Ilahi yang diberikan. Tanda-tanda diabaikan dan dianggap tidak dijadikan panduan untuk mencari arah. Semakin lama manusia makin kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Hingga langit baru dan dunia baru akan mustahil terwujud tanpa adanya revolusi mendasar dalam kehidupan setiap orang yang dapat membangkitkan kembali kesadaran akan adanya keinginan Tuhan yang sebenarnya.
Mungkin banyak yang belum menyadari betapa genting keadaan dunia sekarang ini. Diawali dengan turun naiknya harga minyak dunia, lalu jatuhnya ekonomi Amerika dalam krisis yang mengakibatkan krisis global, lalu kini tiba-tiba Israel menyerang Gaza membabi buta. Dengan alasan untuk memberangus Hamas. Aku sama sekali tidak pernah mengharapkan PD-3 (Perang Dunia 3) akan terjadi. Tapi melihat gelagat dinamika politik dan ekonomi dunia saat ini semuanya jadi terasa semakin dekat. Gaza mungkin hanyalah sebuah momentum awal. Selanjutnya entah apa yang akan terjadi.. wallahu a’lam.
Selasa, 22 Juli 2008
Analisa Kritis Atas Insiden Monas
Rabu, 28 Mei 2008
PRESS RELEASE: MUSLIM SECT CELEBRATES 100 YEARS OF SPIRITUAL LEADERSHIP
In the Name of Allah, Most Gracious, Ever Merciful
International Press and Media Desk
AHMADIYYA MUSLIM COMMUNITY
22
Tel / Fax (44) 020 8544 7613
Email: press@ahmadiyya.org.uk
Web: Alislam.org
27 May 2008
PRESS RELEASE
MUSLIM SECT CELEBRATES 100 YEARS OF SPIRITUAL LEADERSHIP
Up to 15,000 Ahmadi Muslims to gather at Excel Centre in
Members of the Ahmadiyya Muslim Community, an organisation with members in 189 countries, are today celebrating the 100th anniversary of the system of spiritual leadership known as ‘Khilafat’. This system has existed since the passing of the Founder of the Community in 1908.
Under this system Ahmadi Muslims throughout the world are united under the leadership and guidance of the ‘Khalifa’ who is the Head of the Community worldwide. The total unity of the Ahmadiyya Community makes it unique amongst all Muslim groups.
The current Khalifa is Hadhrat Mirza Masroor Ahmad who was elected to lead the Community in April 2003. Although based in
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad is the fifth Khalifa and he continues to deliver the same message as his four predecessors. That is to urge Ahmadis worldwide to become closer to God Almighty, through their prayers and good acts and to serve mankind irrespective of creed, caste or colour.
The Centenary of Khilafat is being marked by a number of events both in the
END OF RELEASE
Further information:
Abid Khan (
Rabu, 13 Februari 2008
PRESS RELEASE (Terjemahan), 9 February 2008
In the Name of Allah, Most Gracious, Ever Merciful
International Press and Media Desk AHMADIYYA MUSLIM ASSOCIATION
22 Deer Park, London, SW19 3TL.
Tel / Fax 020 8544 7613 Mobile 07795460318
9 February 2008
PRESS RELEASE (Terjemahan)
IMAM JAMA'AT MUSLIM AHMADIYYAH SEDUNIA BERBICARA mengenai PENINDASAN & PENGANIAYAAN secara GLOBAL
Y.M. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba. menyatakan bahwa tidak akan ada orang Ahmadi yang pernah bersetuju untuk merubah kepercayaan dan keimanan mereka.
Berbicara dalam pidato mingguannya (Khutbah Jum'at 8-2-2008), Y.M. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Pemimpin/Imam Jama'at Muslim Ahmadiyyah Sedunia telah berbicara mengenai diskriminasi yang dihadapi oleh anggota-anggota Jama'at di beberapa Negara di dunia.
Hudzur aba. memulai khutbahnya dengan mengingatkan kepada para anggota Jama'at bahwa pada saat-saat mendapatkan kesulitan maka seseorang yang memiliki iman yang sejati tidak akan pernah berputus asa, tetapi kenyataannya adalah ia akan menjadi lebih dekat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Jamaat Ahmadiyyah telah mendapatkan penganiayaan dan penindasan sejak didirikannya, namun baru-baru ini terlihat bahwa di beberapa negeri perlakuan buruk terhadap Jama'at itu telah bertambah-tambah. Berbicara mengenai hal ini, Hudzur bersabda:
"Penyebab bahwa kami itu mendapatkan penganiayaan dan penindasan adalah karena perasaan terbakar rasa cemburunya pada pihak-pihak yang memusuhi. Orang-orang yang Non-Muslim tidak tahan untuk melihat Islam sukses dan berjaya, sementara itu di dalam masyarakat Muslim luas para Kiyai atau Mullah merasa takut kalau-kalau para pengikutnya akan menyadari kebenaran Ahmadiyyah dan yang akibatnya mereka itu akan lari dari para Mullah ini."
Adalah suatu kebenaran yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Jama'at Ahmadiyyah ini sudah maju dengan pesatnya dalam pandangan orang-orang yang memusuhi itu, selama sepanjang sejarah ini. Kekuatan dari Jama'at adalah selalu berada di dalam kesatuan. Memang Hudzur Yang Mulia memperbandingkan Jama'at ini dengan sebuah tubuh pisik di mana jika bahkan jika ada satu orang yang menderita maka seluruh tubuh itu akan merasakan rasa sakitnya. Dengan kesatuannya yang sempurna seperti inilah maka Jama'at Ahmadiyya itu akan selalu dan terus berkembang dan maju sehingga konsekwensinya adalah bahwa berbagai dan bermacam rintangan apa pun yang dilakukan oleh para penyerang tidak akan pernah bisa menembus apalagi merusak dinding dari Jama'at Ahmadiyyah.
Jama'at mendapatkan penganiayaan dan penindasan di Pakistan sejak dari awal mulanya sekali, betapa pun dalam kenyataannya adalah bahwa Jama'at Ahmadiyyah itu telah ikut memainkan peranan yang amat menonjol di dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Islam ini. Hudzur aba menyebutkan betapa kekejamannya ini yang masih terus berlangsung bahkan sampai hari ini pun; beliau bersabda:
"Di mana mereka mendapatkan kesempatan maka tuduhan palsu dihadapkan kepada orang Muslim Ahmadi di Pakistan. Baru-baru saja ada seorang anak laki-laki yang baru berumur 13 tahun telah ditangkap atas dasar tuduhan palsu bahwa ia itu telah memukuli tubuh seorang Maulvi! Betapa tidak masuk akalnya tuduhan semacam itu? Bagaimana seorang anak kecil dapat menganiaya seorang yang dewasa sedemikian rupa sehingga Mullah ini harus dimasukkan ke rumah sakit. Tujuan dari kekejaman mereka ini adalah untuk menakut-nakuti generasi muda kami sedemikian rupa agar anak-anak ini melepaskan keimanan mereka. Betapa pun demikian saya menerima banyak-banyak surat dari para pemuda ini yang bersumpah demi Allah bahwa mereka ini bersedia untuk mengorbankan waktu mereka, harta milik mereka, kehormatan mereka, bahkan jiwa mereka demi untuk Jama'at Ahmadiyyah."
Hudzur Yang Mulia juga berbicara mengenai penganiayaan dan penindasan di India dan di dunia Arab. Di India para pengurus Jama'at secara terus menerus mendapatkan berbagai ancaman. Sementara di dunia Arab, beberapa Pemerintahan dari Negara-negara tertentu, tidak mampu untuk melihat kesuksesan Ahmadiyyah; saluran televisi 'MTA Al-Arabia', ditutupnya. Bagaimana pun juga, insiden ini sebenarnya memberikan sebuah jalan peluang untuk suksesnya Jama'at, karena sebagai akibat dari pencekalan tersebut maka kontrak telah dibuat dengan perusahaan yang lain, sehingga cakupan siaran satellitenya sekarang menjadi bertambah luas dan sudah berkembang dan mencapai negeri-negeri lainnya seperti Marocco.
Jamaat Ahmadiyyah juga mengalami penderitaan untuk selama beberapa tahun ini. Rumah-rumah dan mesjid-mesjid dibakar atau dihancurkan dan anggota-anggota Jamaat mendapatkan serangan. Baru-baru ini sebuah gerakan dilancarkan yang berusaha untuk melarang Jama'at Ahmadiyyah oleh Negara, namun gerakan ini pada akhirnya tidak disetujui oleh Pemerintah. Meskipun demikian, sebuah surat kabar harian setempat mencetak ceritera yang memuat bahwa alasan dari Pemerintah memilih untuk tidak melarang Jama'at adalah dikarenakan ada kesan bahwa Jama'at ini sudah merubah beberapa pokok keimanannya. Ini adalah sama sekali tuduhan yang tidak benar yang dibuat terhadap Jama'at. Mengkomentari atas tulisan ini Yang Mulia bersabda:
"Jama'at Ahmadiyyah beriman dan percaya bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian adalah benar Al-Masih Yang Dijanjikan dan Al-Mahdi (Orang yang mendapat petunjuk). Kami tidak akan pernah menyimpang dari keyakinan ini karena keindahan dari Jama'at itu adalah didasarkan atas kepercayaan dan keimanan ini bahwa Pendiri dari Jama'at ini adalah benar Al-Masih Yang Dijanjikan dan Al-Mahdi yang telah dinubuatkan oleh Y.M. Nabi Suci Muhammad saw."
Mengikuti artikel dari surat-kabar tersebut di atas beberapa orang-orang non-Ahmadi Muslim tertentu dan anggota-anggota Jama'at Lahore merayakan apa yang mereka lihat akan adanya perubahan di dalam kepercayaan dari Jama'at Ahmadiyyah. Tetapi isi dari artikel surat kabar tersebut dengan segera ditolak oleh Jama'at dan atas creditnya itu surat kabar yang bersangkutan telah menerbitkan sebuah pernyataan yang memberikan klarifikasi atas masalah tersebut pada tanggal 23 January 2008.
Yang Mulia Hudzur aba menutup khutbahnya dengan menyatakan bahwa jika ada terdapat kesan bahwa Jama'at Indonesia telah melemah dikarenakan menghadapi penindasan maka yang demikian itu sama sekali tidak pada tempatnya. Tidak ada anggota Jama'at yang memiliki keraguan sedikit pun mengenai kedudukan status dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau'ud sendiri menulis, statusnya sebagai seorang Nabi yang tidak membawa Syariat adalah diberikan kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, jadi tidak ada orang atau pun organisasi/institusi apa pun yang dapat mengambil jubah ini dari beliau.
Adalah satu ajaran mendasar dari Islam bahwa agama itu adalah urusan untuk setiap individu / pribadi orang untuk menentukannya sendiri dengan bebas merdeka, dan tanpa ada pemaksaan. Pelaksanaan ibadah agama seseorang, selama hal itu tidak mengganggu atau merugikan hak-hak dari orang lainnya, maka ini adalah hak azasi dari setiap manusia. Hak-hak inilah yang tidak diberikan kepada orang-orang Muslim Ahmadi, namun walaupun demikian para anggota Jama'at itu haruslah selalu ingat bahwa kekejaman yang sedemikian itu tidak akan dapat mengganggu kejayaan dan kesejahteraan dari Jama'at Ahmadiyyah.
Akhir dari Press Release
Abid Khan (Press Secretary, Ahmadiyya Muslim Community)
Jumat, 25 Januari 2008
Ahmadiyah Tidak Termasuk Aliran Sesat
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 4-6 November 2007 lalu di Hotel Sari Pan Pacifik, Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat.
Dalam dialog yang diprakarsai Balitbang Departemen Agama November 2007, pihak Ahmadiyah telah mengemukakan tanggapan atas kesepuluh kriteria MUI tersebut. Pada kesempatan itu Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengemukakan satu persatu tanggapan atas kesepuluh kriteria tersebut dan membuktikan bahwa Ahmadiyah tidak tergolong aliran sesat sesuai dengan sepuluh kriteria yang ditetapkan MUI tersebut. Dibawah ini tanggapan yang dikemukakan pihak Ahmadiyah.
1. Mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam,
Tanggapan: Ahmadiyah berpegang teguh kepada rukun Iman dan rukun Islam sebagaimana pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, “Sesungguhnya kami orang-orang Islam yang beriman kepada Allah yang Tunggal, yang segala sesuatu bergantung pada-Nya, yang MahaEsa, dengan pengakuan ‘tidak ada Tuhan kecuali Dia’; kami beriman kepada kitabullah Al Qur’an dan Rasul-Nya, paduka kita Muhammad Khataamun Nabiyyin; kami beriman kepada Malaikat, Hari Kebangkitan, Surga dan Neraka . . . dan kami menerima setiap yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kami mengerti maupun kami tidak mengerti rahasianya serta kami tidak mengerti hakikatnya; dan berkat karunia Allah, aku termasuk orang-orang mukmin yang meng-esakan Tuhan dan berserah diri.” (Nurul Haq, Juz I, halaman 5)
2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan As Sunnah),
Tanggapan: Ahmadiyah tidak meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Pendiri Ahmadiyah menyatakan dengan tegas: “Tidak masuk kedalam Jemaat kami kecuali orang yang telah masuk ke dalam Islam dan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah-sunnah pemimpin kita sebaik-baik manusia (Muhammad Rasulullah SAW) dan beriman kepada Allah, Rasul-Nya yang MahaMulia yang Maha Pengasih dan beriman kepada khasyr dan nasyr, surga dan neraka jahiim; dan berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam dan akan mati diatas agama ini, agama fitrah, dengan berpegang teguh kepada kitab Allah yang Maha Tahu; dan mengamalkan setiap yang telah ditetapkan dari Sunnah, Al Qur’an dan Ijma’ para sahabat yang mulia; siapa yang mengabaikan tiga perkara ini sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam api neraka. (Lihat buku Ruhani Khazain jilid XIX, hal.315 dan Mawahibur-Rahman, hal 96).
3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al Qur’an,
Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an itu wahyu Allah yang mengandung syariat yang lengkap dan terakhir, karena itu tidak akan turun lagi wahyu sesudah Nabi Muhammad SAW yang mengandung syariat yang mengganti atau merubah syariat Al Qur’an.
Keyakinan Ahmadiyah tentang wahyu didasarkan pada surah Asy Syura, 42:52 yang artinya, “Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Luhur, Maha Bijaksana.”
Kalimat ‘yukallimahullahu’ dalam ayat ini berbentuk fi’il mudhori yang menunjukkan waktu sekarang, dan akan datang. Ini menunjukkan bahwa adanya wahyu adalah kekal sebagaimana kekalnya Dzat Allah Taala sebab ia terbit dari sifat mutakallim Allah Yang Maha Kekal.
Sedangkan wahyu yang diturunkan hanya untuk menjelaskan dan menjunjung tinggi Al Qur’an akan tetap ada dan tetap diperlukan sampai kiamat dan wahyu-wahyu semacam itu pernah diterima para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Sesudah Rasulullah Muhammad SAW wafat, para sahabat yang akan memandikan jenazah nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang bagaimana hendaknya jenazah Rasulullah Muhammad SAW , “Mandikanlah Nabi SAW sedang padanya ada pakaiannya.” (Hadits Al Baihaqi dari Siti Aisyah r.a. dalam Tarikhul Kamil jil. 2 halaman 16 dan Misykatus Syarif, jil. 3 babul Kiromat hal. 196-197). Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Muhyiddin Ibnu Arabi dan lain-lain, juga pernah menerima wahyu jenis ini. (tentang hal ini dapat dibaca pada buku Muzhatul-Majalis, jil. 1 hal. 107, babul-khilmi washfchi; Al Mathalibul Jamaliyah, Cetakan Mesir tahun 1344 halaman 23; dan Al futuhatul Makiyyah, jilid III, halaman 35).
Pendapat yang mengatakan bahwa sama sekali tidak ada wahyu dalam bentuk apapun setelah kewafatan Rasulullah Muhammad SAW sama saja dengan mengatakan bahwa sifat mutakallim Allah Taala telah terhenti, dengan kata lain Allah telah mengalami pengurangan dalam sifat-sifat-Nya. Bila salah satu sifatnya dinyatakan telah tidak berlaku lagi maka tidak tertutup kemungkinan bagi sifat-sifat-Nya yang lain akan berkurang dan ini akhirnya merusak keimanan seseorang kepada Allah.
4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an,
Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an yang kita warisi sekarang ini asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dulu, dan Ahmadiyah menerimanya secara utuh. Pendiri Ahmadiyah menyatakan: “Siapa yang menambah atau menguranginya maka mereka itu tergolong setan.” (lihat, Mawahibur Rahman, halaman 285) ”…. Kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu dari Al Qur’an dan diatasnya kami hidup dan mati. Siapa yang menambah pada syariat Al Qur’an ini seberat dzarroh (atom) atau menguranginya atau menolak akidah ijma’iyah. Maka baginya kutukan Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atham, halaman 144) ; “…Al Qur’an itu sesudah Rasulullah SAW (wafat) terpelihara dari perubahan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al Qur’an itu tidak akan dimanshukhkan dan tidak akan bertambah dan berkurang sesudah Rasulullah (wafat).” (lihat, Ainah Kamalati Islam, halaman 21).
5. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,
Tanggapan: Ahmadiyah menafsirkan Al Qur’an berdasarkan 7 kaidah penafsiran yang satu dengan lainnya tidak boleh saling bertentangan, yaitu:
(A) Dengan Al Qur’an sendiri. Tafsir suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain,
(B) Dengan tafsir Rasulullah SAW. Jika satu arti dari ayat Al Quran terbukti telah diartikan oleh Rasulullah SAW maka kewajiban seluruh orang Islam untuk menerima itu tanpa keraguan dan keseganan sedikitpun,
(C) Dengan tafsir para Sahabat Rasulullah SAW. Sebab mereka adalah pewaris utama dan pertama dari nur ilmu-ilmu nubuwat Rasulullah SAW,
(D) Dengan merenungkan isi Al Quran dengan jiwa yang disucikan,
(E) Dengan Bahasa Arab,
(F). Dengan hukum Alam, sebab tidak ada pertentangan antara tatanan rohani dengan tatanan alam semesta,
(G) Dengan tafsir yang diperoleh melalui bimbingan langsung dari Allah seperti wahyu, mimpi, dan kasyaf. (disarikan dari buku ‘Barakatud do’a’, karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad).
6. Mengingkari kedudukan hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menegaskan, “Sarana petunjuk ketiga adalah Hadits, sebab banyak sekali soal-soal yang berhubungan dengan sejarah Islam, budi pekerti, fiqh dengan jelas dibentangkan di dalamnya. Faedah besar daripada Hadits selain itu ialah, Hadits merupakan khadim (abdi) Al Qur’an.” (Bahtera Nuh, bahasa Indonesia, edisi kelima, halaman 87-8 8)
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah menghina, melecehkan atau merendahkan Nabi dan Rasul. Ahmadiyah menghormati dan mengimani semua Nabi dan Rasul Allah sebagaimana Al Qur’an mengajarkan kepada kaum Muslim, “Kami tidak membeda-bedakan di antara seorangpun dari Rasul-Rasul-Nya yang satu terhadap yang lain.” (Al Baqarah: 286).
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang membawa syari’at. Nabi Muhammad SAW sendiri memberitakan bahwa di akhir zaman akan turun Isa Ibnu Maryam yang kedudukannya adalah Nabi, (Hadits Bukhari, Kitabul Anbiya’, bab Nuzul Isa Ibnu Maryam), namun tidak membawa syari’at baru melainkan menegakkan syari’at Islam.
9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, bahkan Ahmadiyah berupaya melaksanakan semua sunnah Rasulullah SAW dan Ijma’ sahabatnya Yang Mulia. Pendiri Ahmadiyah menyatakan : “Kami berlepas diri dari semua kenyataan yang tidak disaksikan syariat Islam.” (Tuhfah Baghdad, halaman 35)
10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengafirkan seorangpun yang mengaku Islam atau mengucapkan dua Kalimah Syahadah.
Perlu diingat dan dipedomani bahwa Nabi Besar Muhammad SAW telah membuat definisi seorang dikatakan Muslim yang didasarkan atas amal seseorang dan bukan atas niat atau pikiran yang ada dalam benaknya. Misalnya, “Siapa saja yang shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kepada kiblat kami dan memakan sesembelihan kurban kami, maka itu petunjuk bagimu (bahwa ia adalah) seorang muslim. Ia menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kamu merusak tentang tanggungan Allah itu.” (Bukhari dan An Nasaai dan Kanzul Umal juz 1/398).
Dengan demikian Ahmadiyah sama sekali tidak termasuk kedalam aliran sesat. (Jakarta, 8 November 2007, P.B. Jemaat Ahmadiyah Indonesia) []
Kamis, 24 Januari 2008
Klarifikasi Ahmadiyah: The Jakarta Pos.com
The Ahmadiyya Muslim Jama'at (AMJ) responded to an article printed in The Jakarta Post, which made a number of false claims about the community.
The article titled "Govt spares Ahmadiyah with no ban" (Jan. 16, p. 1) said the Indonesian Government had chosen not to ban the Ahmadiyya Jama'at due to an apparent reversal, by the Ahmadiyya Jama'at, regarding the status of its founder, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian.
Speaking about the article and clarifying the position of the Ahmadiyya Jama'at, the central Press Secretary, Abid Khan said: "On behalf of the Ahmadiyya Jama'at I would like to state that we are very disappointed by the aforementioned article printed in the Post.
This article suggested that our Community had, God forbid, changed its position regarding the status of Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian.
To clarify, it is an inherent part of our faith and belief that Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian is the Promised Messiah and Mahdi (Guided One).
Every true Ahmadi Muslim shares the same belief that the Founder of the Community is the same Messiah and Mahdi whose advent was foretold by the Holy Prophet of Islam.
The Holy Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) was the final law-bearing Prophet and he brought a complete and perfect teaching.
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad was the true Promised Messiah and Mahdi, who came to rejuvenate the message of Islam and therefore we most certainly recognize and accept him as a true Prophet of God Almighty.
It is hoped the Post recognizes and rectifies the mistakes it made in the aforementioned article."
ABID KHAN
Press Secretary
Ahmadiyya Muslim Association
Selasa, 15 Januari 2008
12 Butir Penjelasan Jemaat Ahmadiyah Indonesia
PENJELASAN
PENGURUS BESAR JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA
( P B J A I )
TENTANG POKOK-POKOK KEYAKINAN DAN KEMASYARAKATAN WARGA JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA
- Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW yaitu, Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.
- Sejak semula kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).
- Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
- Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai'at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota Jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.
- Kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa:
a. Tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturun-kan kepada Nabi Muhammad SAW;
b. Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.
- Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).
- Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.
- Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.
- Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh Jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.
- Kami warga Jemaat Ahmadiyah sebagai Muslim selalu melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara-perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan peraturan-perundang -undangan.
- Kami warga Jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturrahim dan bekerjasama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakatan untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
- Dengan penjelasan ini, kami Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.
Jakarta, 14 Januari 2008
PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI),
Ttd.
H. Abdul Basit
Amir
Mengetahui:
- Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar (Kabalitbang dan Diklat Depag RI)
- Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA (Dirjen Bimas Islam Depag RI)
- Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA (Deputi Seswapres Bidang Kesra)
- Drs. Denty Ierdan, MM (Ditjen Kesbangpol Depdagri)
- Ir. H. Muslich Zainal Asikin, MBA, MT (Ketua II Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia-GAI)
- KH. Agus Miftah (Tokoh Masyarakat)
- Irjen Pol. Drs. H. Saleh Saaf (Kaba Intelkam Polri)
- Prof. Dr. H.M. Ridwan Lubis (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
- Ir. H. Anis Ahmad Ayyub (Anggota Pengurus Besar JAI)
- Drs. Abdul Rozzaq (Anggota Pengurus Besar JAI)