Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2009

Tiga syarat pengabulan doa

Terkadang kita merasa sudah sedemikian banyak berdo'a, namun setelah sedemikian lama belum juga ada tanda-tanda do'a kita dikabulkan. Apakah yang salah? Mungkinkah Tuhan tidak mendengar do'a kita sedangkan Dia adalah Maha Mendengar. Atau ada hal-hal yang menjadi syarat dalam berdo'a yang belum kita penuhi sehingga do'a menjadi tertolak tanpa kita tahu. Lalu, kalau memang ada, apakah syarat-syarat agar do'a yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah.


Berikut ini adalah sebuah kutipan nasihat dari Hz. Mirza Ghulam Ahmad (a.s.) Qadiani berkenaan dengan tiga syarat pengabulan doa.

Sejalan dengan pengetahuan tentang doa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadaku, terdapat tiga persyaratan bagi pengabulan doa.

Pertama, seorang pemohon doa haruslah seorang yang bertakwa penuh, yang menjadikan jalan ketakwaan sebagai kebiasaan hidupnya dan selalu menganut sepenuhnya jalan-jalan ketakwaan disamping merupakan orang yang dapat dipercaya, saleh, menepati janji dan hatinya selalu dipenuhi kecintaan kepada Allah s.w.t.

Kedua, keteguhan hati dan perhatiannya (terhadap mahluk lain) demikian kuat dimana ia bersedia menyerahkan nyawanya sendiri bagi kehidupan orang lain dan bersedia masuk kubur untuk menarik yang lainnya keluar. Hamba-hamba yang diridhoi-Nya sesungguhnya lebih dikasihi Allah dari cinta seorang ibu kepada anak tunggalnya yang cantik. Ketika Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang melihat hamba yang diridhoi-Nya, demi menyelamatkan kehidupan orang lain telah mengorbankan dirinya sedemikian rupa hingga nyawanya sendiri terancam, maka Dia tidak akan membiarkannya mati dalam keadaan seperti itu. Maka demi hamba-Nya itu Dia akan memaafkan dosa orang lain yang sedang didoakannya dan jika orang itu sedang dalam cengkeraman penyakit yang mematikan atau sedang dilanda musibah, maka dengan Kekuasaan-Nya Dia akan memberikan sarana-sarana pelepasan. Seringkali terjadi dimana berdasar takdir semula seseorang sudah akan dihancurkan oleh Tuhan namun karena nasib baik ada seorang yang dekat kepada Tuhan mendoakannya secara tekun maka Tuhan lalu berbalik menolong yang bersangkutan. Semua catatan Tuhan yang telah disiapkan guna penghukuman orang berdosa itu lalu dibatalkan karena yang bersangkutan sekarang dianggap termasuk sebagai sahabat. Adapun Tuhan tidak akan pernah menyulitkan para sahabat-Nya.

Ketiga, adalah persyaratan yang jauh lebih sulit dipenuhi dibanding yang lainnya karena kepatuhan atas persyaratan tersebut tidak berada di tangan mereka yang telah diridhoi Allah s.w.t. tetapi di tangan orang yang meminta bantuan doa bagi dirinya. Persyaratan ini mengharuskan orang bersangkutan mengajukan permohonan doanya dengan segala kerendahan hati, keyakinan penuh, kepastian, niat baik dan penyerahan diri. Ia harus memastikan dalam hatinya bahwa misalnya doa yang dipohonkannya ternyata tidak dikabulkan maka hal itu tidak akan mengganggu kepercayaan dan niat baiknya. Permohonan doa yang diajukannya tidak boleh merupakan suatu ujian atau test melainkan dikemukakan dengan penuh kepercayaan. Ia harus mengajukan permohonannya dengan segala kerendahan hati kepada pribadi yang dimintakan bantuan doanya dan sepanjang memungkinkan, ia harus memelihara hubungan baik dengan yang bersangkutan dengan cara membelanjakan harta, memberikan bantuan dan semua tindakan kepatuhan yang bisa menyentuh hati pribadi bersangkutan. Bersama dengan itu ia harus selalu berfikir baik dan menganggap yang bersangkutan sebagai orang yang memiliki ketakwaan tinggi serta menganggapnya sebagai suatu kekafiran untuk berfikir yang tidak konsisten dengan kesuciannya. Ia harus membuktikan keimanannya kepada yang bersangkutan melalui segala bentuk pengorbanan. Ia tidak akan menganggap ada tandingan lain di dunia dari pribadi tersebut serta mengabdikan diri sepenuhnya sedemikian rupa sehingga siap memberikan nyawa sekalipun atau hartanya atau kehormatannya bagi pribadi tersebut dan tidak akan mengutarakan atau membiarkan hatinya mempunyai fikiran buruk dari sudut apa pun. Ia harus membuktikan dirinya bahwa ia beriman sepenuhnya kepada pribadi tersebut beserta para pengikutnya. Dengan semua persyaratan di atas, ia masih juga dituntut untuk bersabar, bahkan misalnya ia harus kecewa sampai limapuluh kali pun, ia jangan sampai membiarkan keimanan dan niat baiknya terpengaruh dengan cara apa pun.

Orang-orang yang telah memperoleh keridhoan Ilahi memiliki indera perasa yang amat peka dimana mereka bisa menyimpulkan tingkat ketulusan seseorang melalui wujudnya. Orang-orang seperti ini selalu bersifat lemah lembut hati namun mereka adalah orang yang cukup dengan dirinya sendiri. Mereka tidak menyukai orang yang takabur, mementingkan diri sendiri dan munafik. Hanya orang-orang yang bersedia menyerahkan nyawa sekali pun dalam mematuhi mereka yang diridhoi ini yang bisa memperoleh manfaat. Orang yang berfikiran buruk, menentang di dalam hati, tidak mencintai dan berniat buruk terhadap sosok yang diridhoi Tuhan, pasti tidak akan memperoleh kemaslahatan, bahkan hanya menghancurkan dirinya sendiri.

(Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 226-228, London, 1984).

Pengabulan Do'a Merupakan Pengakuan Tuhan

Sebagaimana telah dikemukakan, umat Muslim selalu dianjurkan dalam Surat Al-Fatihah untuk menyibukkan diri mereka dalam berdoa dan mereka diajari doa yang berbunyi:


"Tuntunlah kami pada jalan yang lurus." (S.1 Al-Fatihah:6).

Sudah merupakan ketetapan bahwa doa ini harus dipanjatkan dalam lima shalat setiap harinya. Karena itu salah sekali jika kalian menyangkal sifat spiritualitas daripada doa. Ketentuan Al-Quran menyatakan bahwa doa ini berkaitan dengan keruhanian dan sebagai hasil dari doa tersebut akan turun rahmat berupa keberhasilan dalam berbagai bentuk.


Setiap manusia yang lurus dapat memahami bahwa disamping pengakuan atas takdir, adalah menjadi cara Allah s.w.t. untuk juga tidak akan menyebabkan timbulnya kesia-siaan atau kemubaziran dengan memberikan hasil pada berbagai upaya manusia yang diajukan bersama doa mereka. Di suatu tempat dalam Al-Quran, Allah yang Maha Kuasa menetapkannya sebagai suatu bentuk pengenalan atas diri mahluk-Nya ketika Dia mengabulkan doa mereka yang sedang berada dalam kesulitan, yaitu:




"Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya?" (S.27 An-Naml:63).

Sebagaimana Allah s.w.t. telah menetapkan pengabulan doa sebagai tanda eksistensi-Nya, bagaimana mungkin manusia waras dapat membayangkan kalau doa tidak akan memberikan tanda-tanda pengabulan yang nyata dan menganggap doa sebagai formalitas semata tanpa kandungan spiritualitas di dalamnya? Aku menganggap tidak akan ada seorang muminin hakiki melakukan kesalahan seperti itu. Allah yang Maha Mulia menyatakan bahwa melalui perenungan atas penciptaan langit dan bumi, manusia akan dapat mengenali Tuhan mereka secara benar. Begitu juga kiranya, dengan mengamati pengabulan doa, keimanan kepada Tuhan akan mewujud. Lalu, jika tidak ada nilai spiritualitas dalam doa dan tidak ada rahmat yang mewujud sebagai hasil dari doa, bagaimana mungkin doa seperti itu bisa menjadi sarana guna mengenali Tuhan sebagaimana halnya melalui pengamatan penciptaan langit, bumi dan benda langit? Sesungguhnya Al-Quran telah menunjukkan cara terbaik bagi pengenalan Tuhan yaitu melalui doa. Hanya melalui doa bisa diperoleh pemahaman lengkap yang sempurna akan makna eksistensi Tuhan dan bagaimana mengharapkan karunia dari sekian banyak fitrat-Nya. Doa itu laiknya petir yang menarik seseorang dari jurang kegelapan dan membawanya ke alam terbuka penuh cahaya serta mengantarnya berdiri di hadirat Allah yang Maha Agung. Melalui doa bisa diperbaiki akhlak ribuan pendosa dan yang kotor disucikan.


(Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 259-260, London, 1984).


* * *

Dua Cara Pengabulan Doa

Perlu diingat bahwa pengabulan doa itu terdiri dari dua cara, yang kesatu sebagai cobaan dan yang lainnya sebagai pemuliaan. Sebagai cobaan, terkadang doa dari pendosa dan yang durhaka atau bahkan kafir sekali pun bisa saja dikabulkan, namun pengabulan tersebut tidak mengindikasikan keridhoan hakiki dan lebih banyak merupakan cobaan. Adapun persyaratan dari pengabulan doa yang merupakan pemuliaan adalah si pemohon haruslah seorang hamba pilihan Tuhan dimana tanda dan nur statusnya itu mewujud dalam dirinya.




Tuhan tidak akan mengabulkan doa orang-orang durhaka dalam pengertian hakiki. Dia hanya mengabulkan doa mereka yang dalam pandangan-Nya termasuk orang-orang yang takwa dan patuh kepada-Nya. Perbedaan di antara kedua bentuk pengabulan ini ialah, pada pengabulan doa yang merupakan cobaan tidak ada persyaratan bahwa si pemohon adalah seorang muttaqi dan sahabat Tuhan, dimana Tuhan kepada yang bersangkutan juga tidak akan mewartakan pengabulan doanya secara khusus. Adapun pengabulan doa yang merupakan pemuliaan selalu diikuti dengan tanda-tanda sebagai berikut:

  1. Pertama, si pemohon adalah seorang yang bertakwa, jujur dan sempurna.
  2. Kedua, si pemohon akan menerima warta tentang pengabulan doanya melalui firman Tuhan.
  3. Ketiga, sebagian besar dari doa-doa yang diajukan tersebut bermutu tinggi dan berkaitan dengan masalah-masalah besar dimana pengabulannya menunjukkan bahwa hal itu bukanlah hasil kerja manusia tetapi merupakan contoh khusus dari kekuasaan Tuhan yang dimanifestasikan berkaitan dengan hamba-hamba yang terpilih.
  4. Keempat, pengabulan doa yang merupakan cobaan jarang sekali dikabulkan sedangkan pengabulan doa yang merupakan pemuliaan dikabulkan dalam jumlah yang sangat banyak. Seringkali terjadi seorang pemohon yang pengabulan doanya merupakan pemuliaan menghadapi kesulitan sedemikian rupa sehingga jika yang bersangkutan adalah orang biasa, ia tidak akan mampu melihat jalan keluar kecuali melalui bunuh diri. Banyak terjadi dimana mereka yang cenderung pada duniawi serta jauh dari Tuhan-nya ketika terlibat dalam masalah gawat, kesedihan atau pun petaka, kekacauan dan cobaan yang tidak ada jalan keluarnya, karena kelemahan iman dan kekecewaan kepada Tuhan lalu mengambil jalan pintas minum racun, melemparkan diri dari ketinggian atau menembak dirinya sendiri. Adapun mereka yang dekat kepada Tuhan, jika menghadapi kesulitan akan menerima bantuan secara istimewa karena kekuatan keimanan dan hubungannya yang dekat kepada Tuhan. Karunia Tuhan membimbing tangannya dengan cara yang istimewa sehingga kalbu orang yang menyadari hal demikian akan langsung mengakui bahwa yang bersangkutan memang menikmati bantuan Tuhan.
  5. Kelima, pemohon dari doa yang pengabulannya merupakan pemuliaan selalu menerima karunia Ilahi dimana Tuhan menjadi penjaganya dalam segala hal sehingga kecerahan nur kasih Allah dan tanda pengabulan dari Tuhan serta keceriaan ruhani dan karunia dimanifestasikan dalam wujudnya sebagaimana dinyatakan Allah yang Maha Agung:


    "Engkau dapat mengenal pada wajah mereka kesegaran nikmat itu." (S.83 At-Tathfif:25)
    dan:



    "Ingatlah, sesungguhnya teman-teman Allah itu tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan berdukacita." (S.10 Yunus:63).



(Tasdiqun Nabi, h.43-45 atau Maktubati Ahmadiyya, vol. 3, hal. 75-77).