Huzur menilawatkan ayat 29 Surah Al Hadid berikut ini sebagai mukadimah Khutbah Jumah beliau:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَءَامِنُواْ بِرَسُولِهِۦ يُؤۡتِكُمۡ كِفۡلَيۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ وَيَجۡعَل لَّڪُمۡ نُورً۬ا تَمۡشُونَ بِهِۦ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬
yang terjemahannya adalah sebagai berikut:
‘Hai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya; maka Dia akan menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya, akan menyediakan bagimu nur, yang dengannya kamu akan berjalan, dan Dia akan mengampuni kamu — dan Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang —‘ (57:29).
ISLAMIC FOUNTAIN
The place of islamic true teachings and literatures and articles for whoever seeks the truth. -- Kumpulan literatur islam yang sesungguhnya dan sebenarnya bagi para pencari kebenaran.
Tuesday, March 2, 2010
Monday, March 1, 2010
Sifat An-Nur Allah Swt (bagian 3)
Allah Taala Berfirman:
أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦۚ فَوَيۡلٌ۬ لِّلۡقَـٰسِيَةِ قُلُوبُہُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ فِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ
Terjemahan ayat ini adalah sebagai berikut, ‘Apakah orang yang Allah telah bukakan dadanya untuk menerima Islam, maka ia mendapat nur cahaya dari Tuhannya, sama dengan orang-orang keras hatinya ? Maka, celakalah mereka yang hatinya keras dari mengingat Allah! Mereka itulah yang berada di dalam kesesatan yang nyata.’ (Q.Surah 39 / Al Zumar ayat 23)
Tak diragukan lagi, Allah Swt-lah yang mampu membimbing manusia ke arah dan mengaruniai petunjuk hidayah-Nya, sebagaimana dinyatakan di dalam Al Qur’an Karim,
إِنَّكَ لَا تَہۡدِى مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَہۡدِى مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
‘Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai; tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki; dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang akan mendapat petunjuk.’ (Surah 28 / Al Qashash : 57).
Dan adalah dambaan Rasulullah Saw agar dunia mau menerima nur (cahaya) yang beliau bawa, yakni nur petunjuk Ilahi sebagaimana yang beliau perlihatkan. Sehingga, setelah dunia mampu menyerap dan menyinari qalbu mereka dengan nur Ilahi ini, mereka pun memperoleh qurb, kedekatan dengan-Nya. Ini dikarenakan beliau sangat memahami, konsekwensi penolakan terhadap nur Allah Taala ini, ialah sama dengan mengundang kemurkaan-Nya. Sedangkan qalbu beliau dipenuhi dengan cinta kasih terhadap sesama. Tak sanggup melihat seorang pun manusia yang mangkat dari dunia yang fana ini tanpa menerima sesuatu nur hidayah Ilahi. Oleh karena itulah beliau pun senantiasa bangun di tengah malam untuk beribadat dan memohon kepada Allah Taala dengan hati yang pilu. Kondisi keprihatinan beliau terhadap nasib umat manusia itulah yang disitir oleh ayat Quran ini,
لَعَلَّكَ بَـٰخِعٌ۬ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ
yang artinya, ‘Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu disebabkan mereka tidak mau beriman.’ (Q.Surah 26 / Asy Syuara : 4).
أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦۚ فَوَيۡلٌ۬ لِّلۡقَـٰسِيَةِ قُلُوبُہُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ فِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ
Terjemahan ayat ini adalah sebagai berikut, ‘Apakah orang yang Allah telah bukakan dadanya untuk menerima Islam, maka ia mendapat nur cahaya dari Tuhannya, sama dengan orang-orang keras hatinya ? Maka, celakalah mereka yang hatinya keras dari mengingat Allah! Mereka itulah yang berada di dalam kesesatan yang nyata.’ (Q.Surah 39 / Al Zumar ayat 23)
Tak diragukan lagi, Allah Swt-lah yang mampu membimbing manusia ke arah dan mengaruniai petunjuk hidayah-Nya, sebagaimana dinyatakan di dalam Al Qur’an Karim,
إِنَّكَ لَا تَہۡدِى مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَہۡدِى مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
‘Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai; tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki; dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang akan mendapat petunjuk.’ (Surah 28 / Al Qashash : 57).
Dan adalah dambaan Rasulullah Saw agar dunia mau menerima nur (cahaya) yang beliau bawa, yakni nur petunjuk Ilahi sebagaimana yang beliau perlihatkan. Sehingga, setelah dunia mampu menyerap dan menyinari qalbu mereka dengan nur Ilahi ini, mereka pun memperoleh qurb, kedekatan dengan-Nya. Ini dikarenakan beliau sangat memahami, konsekwensi penolakan terhadap nur Allah Taala ini, ialah sama dengan mengundang kemurkaan-Nya. Sedangkan qalbu beliau dipenuhi dengan cinta kasih terhadap sesama. Tak sanggup melihat seorang pun manusia yang mangkat dari dunia yang fana ini tanpa menerima sesuatu nur hidayah Ilahi. Oleh karena itulah beliau pun senantiasa bangun di tengah malam untuk beribadat dan memohon kepada Allah Taala dengan hati yang pilu. Kondisi keprihatinan beliau terhadap nasib umat manusia itulah yang disitir oleh ayat Quran ini,
لَعَلَّكَ بَـٰخِعٌ۬ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ
yang artinya, ‘Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu disebabkan mereka tidak mau beriman.’ (Q.Surah 26 / Asy Syuara : 4).
Sifat Al Nur Allah Swt (bagian 2)
Lebih lanjut berkenaan dengan beberapa ayat Quran yang saya rujuk pada Jumah lalu namun belum sempat diterangkan, keterangannya adalah sebagai berikut.
Nur adalah cahaya yang memancar; dan ada dua jenis; yakni, cahaya duniawi dan cahaya Akhirati.
Tetapi, nur cahaya duniawi pun juga ada dua macam; yang Pertama adalah yang dapat diyakini keberadaannya melalui kedalaman pandangan rohani, atau disebut juga Makul (menyangkut penggunaan akal); dan yang Kedua, adalah cahaya yang dapat diperoleh melalui hikmah; yakni sinar petunjuk yang terdapat di dalam tafsir, yakni, nur Al Qur’an.
Jenis cahaya lainnya ialah yang dapat dilihat pada benda-benda alam, yang disebut Mahsus (yakni, yang terkait dengan panca indera). Sinar cahaya ini terdapat di dalam matahari, bulan dan bintang-bintang.
Suatu contoh cahaya yang dapat dilihat dengan mata jasmani ialah seperti yang difirmankan Allah di dalam Surah Yunus ayat 6:
هُوَ الَّذِىْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا
‘Dia Yang menjadikan matahari mempunyai cahaya, dan bulan bersinar…’ (10:6).
Nur adalah cahaya yang memancar; dan ada dua jenis; yakni, cahaya duniawi dan cahaya Akhirati.
Tetapi, nur cahaya duniawi pun juga ada dua macam; yang Pertama adalah yang dapat diyakini keberadaannya melalui kedalaman pandangan rohani, atau disebut juga Makul (menyangkut penggunaan akal); dan yang Kedua, adalah cahaya yang dapat diperoleh melalui hikmah; yakni sinar petunjuk yang terdapat di dalam tafsir, yakni, nur Al Qur’an.
Jenis cahaya lainnya ialah yang dapat dilihat pada benda-benda alam, yang disebut Mahsus (yakni, yang terkait dengan panca indera). Sinar cahaya ini terdapat di dalam matahari, bulan dan bintang-bintang.
Suatu contoh cahaya yang dapat dilihat dengan mata jasmani ialah seperti yang difirmankan Allah di dalam Surah Yunus ayat 6:
هُوَ الَّذِىْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا
‘Dia Yang menjadikan matahari mempunyai cahaya, dan bulan bersinar…’ (10:6).
Tujuan Didirikannya Masjid
Maksud &Tujuan Didirikannya Masjid dan Milad 50th Masjid Nur, Germany
Huzur menilawatkan ayat 30 Surah Al Araf pada awal Khutbah Jumah beliau ini, sebagai berikut,
قُلۡ أَمَرَ رَبِّى بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمۡ عِندَ ڪُلِّ مَسۡجِدٍ۬ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۚ كَمَا بَدَأَكُمۡ تَعُودُونَ
yang artinya: Katakanlah, “Tuhan-ku memerintahkan berbuat adil. Dan, pusatkanlah perhatianmu di setiap tempat ibadah, dan serulah Dia dengan mengikhlaskan keita'atan kepada-Nya. Sebagaimana Dia menciptakan kamu permulaan kali, demikian pula kamu akan kembali kepada-Nya.’ (Q.S. Al Araf : 30)
ٱلتَّـٰٓٮِٕبُونَ ٱلۡعَـٰبِدُونَ ٱلۡحَـٰمِدُونَ ٱلسَّـٰٓٮِٕحُونَ ٱلرَّٲڪِعُونَ ٱلسَّـٰجِدُونَ ٱلۡأَمِرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡحَـٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
‘Yaitu,orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang bepergian pada jalan Allah, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh kepada kebaikan dan melarang keburukan dan yang menjaga batas-batas hukum Allah. Dan sampaikanlah kabar suka, kepada orang-orang yang beriman.’ (S. Al Taubah : 112)
Huzur bersabda, Khutbah Jumah saya ini merupakan Khutbah yang pertama di Masjid Nur, Frankfurt yang merupakan milad-nya yang ke 50 tahun. Ketika dulu Masjid ini dibangun, kapasitasnya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan pada waktu itu. Akan tetapi kini Jamaat telah berkembang pesat, oleh karena itulah para anggota Jamaat dari Cabang lain di sekitarnya diminta untuk tidak datang Jumatan pada hari ini ke Masjid ini.
Masjid Jamaat pertama yang berhasil dibangun di Jerman adalah yang di Hamburg; sedangkan Masjid Nur di Frankfurt ini adalah masjid Jamaat yang kedua.
Huzur menilawatkan ayat 30 Surah Al Araf pada awal Khutbah Jumah beliau ini, sebagai berikut,
قُلۡ أَمَرَ رَبِّى بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمۡ عِندَ ڪُلِّ مَسۡجِدٍ۬ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۚ كَمَا بَدَأَكُمۡ تَعُودُونَ
yang artinya: Katakanlah, “Tuhan-ku memerintahkan berbuat adil. Dan, pusatkanlah perhatianmu di setiap tempat ibadah, dan serulah Dia dengan mengikhlaskan keita'atan kepada-Nya. Sebagaimana Dia menciptakan kamu permulaan kali, demikian pula kamu akan kembali kepada-Nya.’ (Q.S. Al Araf : 30)
ٱلتَّـٰٓٮِٕبُونَ ٱلۡعَـٰبِدُونَ ٱلۡحَـٰمِدُونَ ٱلسَّـٰٓٮِٕحُونَ ٱلرَّٲڪِعُونَ ٱلسَّـٰجِدُونَ ٱلۡأَمِرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡحَـٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
‘Yaitu,orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang bepergian pada jalan Allah, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh kepada kebaikan dan melarang keburukan dan yang menjaga batas-batas hukum Allah. Dan sampaikanlah kabar suka, kepada orang-orang yang beriman.’ (S. Al Taubah : 112)
Huzur bersabda, Khutbah Jumah saya ini merupakan Khutbah yang pertama di Masjid Nur, Frankfurt yang merupakan milad-nya yang ke 50 tahun. Ketika dulu Masjid ini dibangun, kapasitasnya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan pada waktu itu. Akan tetapi kini Jamaat telah berkembang pesat, oleh karena itulah para anggota Jamaat dari Cabang lain di sekitarnya diminta untuk tidak datang Jumatan pada hari ini ke Masjid ini.
Masjid Jamaat pertama yang berhasil dibangun di Jerman adalah yang di Hamburg; sedangkan Masjid Nur di Frankfurt ini adalah masjid Jamaat yang kedua.
Wednesday, December 9, 2009
Sifat An-Nur Allah SWT (bagian 1)
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Quran ayat 258 Surah Al Baqarah dalam menerangkan sifat An Nur sebagai berikut:
اللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ؕ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰٓــُٔهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِؕ اُولٰٓٮِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
yang terjemahannya, ‘'Allah itu Sahabat orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Sedangkan orang-orang kafir, sahabat mereka itu adalah orang-orang sesat yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni Api, mereka tinggal lama di dalamnya.’ (2:258)
Menurut Kamus Bahasa Arab, an-Nur adalah salah satu sifat Allah, yang berkat keberadaan-Nya, keadaan manusia yang sebelumnya 'buta' dapat menjadi melihat; dan mereka yang tadinya sesat menjadi memperoleh petunjuk hidayah berkat karunia-Nya. Dan berkat keberadaan-Nya itulah segala sesuatu menjadi ada. Wujud-Nya berada disebabkan diri-Nya sendiri; lalu membuat segala sesuatu menjadi bukti akan keberadaan-Nya.
Diterangkan pula mengenai Tuhan ini di penggalan ayat 36 Surah Al Nur,
اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
'Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi..…’; yakni, hanya Allah-lah yang mampu memberikan nur cahaya kepada segala makhluk yang berada di langit maupun di bumi. Nur Ilahi adalah cahaya yang memudahkan segala sesuatu dapat menyebar-luas dan menjadi tampak satu sama lain. Nur Ilahi meliputi dunia maupun Akhirat. Namun Nur Ilahi bagi dunia mengandung dua hikmah. Salah satunya adalah hanya dapat dikenali melalui perenungan yang mendalam, atau berkat adanya petunjuk Ilahi.
اللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ؕ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰٓــُٔهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِؕ اُولٰٓٮِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
yang terjemahannya, ‘'Allah itu Sahabat orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Sedangkan orang-orang kafir, sahabat mereka itu adalah orang-orang sesat yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni Api, mereka tinggal lama di dalamnya.’ (2:258)
Menurut Kamus Bahasa Arab, an-Nur adalah salah satu sifat Allah, yang berkat keberadaan-Nya, keadaan manusia yang sebelumnya 'buta' dapat menjadi melihat; dan mereka yang tadinya sesat menjadi memperoleh petunjuk hidayah berkat karunia-Nya. Dan berkat keberadaan-Nya itulah segala sesuatu menjadi ada. Wujud-Nya berada disebabkan diri-Nya sendiri; lalu membuat segala sesuatu menjadi bukti akan keberadaan-Nya.
Diterangkan pula mengenai Tuhan ini di penggalan ayat 36 Surah Al Nur,
اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
'Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi..…’; yakni, hanya Allah-lah yang mampu memberikan nur cahaya kepada segala makhluk yang berada di langit maupun di bumi. Nur Ilahi adalah cahaya yang memudahkan segala sesuatu dapat menyebar-luas dan menjadi tampak satu sama lain. Nur Ilahi meliputi dunia maupun Akhirat. Namun Nur Ilahi bagi dunia mengandung dua hikmah. Salah satunya adalah hanya dapat dikenali melalui perenungan yang mendalam, atau berkat adanya petunjuk Ilahi.
Tuesday, December 1, 2009
Tuesday, November 24, 2009
Sifat Al Wali Allah Swt (bagian 4)
Betapa rapuhnya mengandalkan bantuan duniawi dibandingkan dengan mantapnya bantuan Allah Swt yang Dia senantiasa karuniakan kepada mereka yang menjadikan Allah sebagai Wali (Sahabat, Penolong)-nya.
Firman ALlah dalam Al-Quran ayat 42 Surah Al Ankabut,
مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنڪَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتً۬اۖ
yang terjemahannya sebagai berikut: ‘Permisalan orang-orang yang mengambil selain Allah sebagai penolong-penolong adalah seperti permisalan laba-laba yang membuat rumahnya. Dan sesungguhnya, selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui !’ (29:42)
Sudah jelas dari pernyataan ayat ini, yakni, betapa malangnya bangsa tersebut yang telah meninggalkan khazanah dan sifat Al Wali Allah Swt lalu mencari-cari sumber bantuan lain. Mata mereka nanar demi melihat keuntungan yang bersifat sementara, dan merendahkan faedah [bantuan Ilahi] yang bersifat permanen. Berbagai sumber dan atribut dunia tersebut membuat mereka mengabaikan Keridhaan Allah Taala. Alih-alih menjadi waliullah, yakni sahabat Allah, mereka bersahabat dengan tuhan-tuhan lain selain Allah. Alih-alih masuk ke dalam kuatnya pertahanan perlindungan Ilahi, mereka mengandalkan jalinan perlindungan duniawi semisal jejaring laba-laba.
Firman ALlah dalam Al-Quran ayat 42 Surah Al Ankabut,
مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنڪَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتً۬اۖ
yang terjemahannya sebagai berikut: ‘Permisalan orang-orang yang mengambil selain Allah sebagai penolong-penolong adalah seperti permisalan laba-laba yang membuat rumahnya. Dan sesungguhnya, selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui !’ (29:42)
Sudah jelas dari pernyataan ayat ini, yakni, betapa malangnya bangsa tersebut yang telah meninggalkan khazanah dan sifat Al Wali Allah Swt lalu mencari-cari sumber bantuan lain. Mata mereka nanar demi melihat keuntungan yang bersifat sementara, dan merendahkan faedah [bantuan Ilahi] yang bersifat permanen. Berbagai sumber dan atribut dunia tersebut membuat mereka mengabaikan Keridhaan Allah Taala. Alih-alih menjadi waliullah, yakni sahabat Allah, mereka bersahabat dengan tuhan-tuhan lain selain Allah. Alih-alih masuk ke dalam kuatnya pertahanan perlindungan Ilahi, mereka mengandalkan jalinan perlindungan duniawi semisal jejaring laba-laba.
Monday, November 23, 2009
Ajaran Islam Tentang Korupsi & Suap Menyuap
Quran surah 2 ayat 189 menyatakan dengan berkenaan dengan segala bentuk suap menyuap:
“Dan, janganlah makan hartamu di antara kamu dengan jalan batil, dan jangan pula kamu serahkan harta itu sebagai suapan kepada para penguasa supaya kamu dapat memakan sebagian harta dengan cara berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”
Salah satu diantara kejahatan paling keji di dunia ini adalah merampas hak milik orang lain dengan jalan kebohongan, penipuan serta klaim hukum di pengadilan. Kebanyakan dosa-dosa yang lain hanya merupakan cabang dari dosa ini. Islam mengecam praktik perampasan hak milik orang lain tanpa sepengetahuan dan persetujuan orang itu. Demikian juga, adalah tidak syah mengambil hak milik orang lain dengan jalan pengadilan yang salah. Jika seseorang mengambil harta yang bukan haknya dengan jalan yang tidak benar, makan dia pasti akan hancur, meskipun pengadilan memutuskan bahwa harta itu miliknya. Nabi Karim saw. Bersabda:
“Perhatikanlah! Aku tidak lain adalah seorang manusia seperti kalian. Dan mungkin terjadi bahwa ketika seseorang meminta keadilan kepadaku, karena kefasihannya berbicara maka aku memutuskan harta itu miliknya. Tapi jika harta itu ternyata bukan miliknya, maka keputusanku tidak akan menjadikannya menjadi miliknya di hadapan Allah; Ketahuilah bahwa itu tidak lain melainkan sepotong api; maka jika dia mau silahkan makan api itu, atau tinggalkanlah!” (Bukhari).
Ayat ini telah memotong akar kejahatan yang telah mengakar pada jaman ini bahkan pada masyarakat yang mengaku telah maju peradabannya dan telah mendapat pencerahan. Orang pada umumnya tidak menimbang dengan mendalam ketika mempertimbangkan mana yang benar. Hakim memutuskan atas apa yang terlihat. Ketika hakim menyerahkan harta kepada orang itu, dia segera menerimanya dengan tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun, meskipun sebenarnya itu bukanlah hak dia. Tidak penah terpikir olehnya bahwa dalam pandangan Tuhan dia tidak lain melainkan seseorang yang telah merampas paksa harta orang lain.
Ayat ini kebetulan juga sangat mengutuk praktek suap menyuap yang malangnya saat ini sedang sangat merajalela. Di banyak Negara keadilan benar-benar dapat dibeli. Yang lebih parah lagi adalah bahwa dengan praktek seperti ini, seringkali pintu keadilan akan tertutup untuk orang-orang yang benar-benar berhak. Praktek ini terjadi bahkan di Negara-negara barat yang maju dan dianggap lazim terjadi pada beberapa tempat di Negara itu. Nabi Karim saw. Sangat mengecam itu dengan kata-kata yang sangat keras:
“Orang yang memberi suap dan yang menerima adalah sama, dan keduanya adalah terkutuk” (Tirmizi).
“Dan, janganlah makan hartamu di antara kamu dengan jalan batil, dan jangan pula kamu serahkan harta itu sebagai suapan kepada para penguasa supaya kamu dapat memakan sebagian harta dengan cara berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”
Salah satu diantara kejahatan paling keji di dunia ini adalah merampas hak milik orang lain dengan jalan kebohongan, penipuan serta klaim hukum di pengadilan. Kebanyakan dosa-dosa yang lain hanya merupakan cabang dari dosa ini. Islam mengecam praktik perampasan hak milik orang lain tanpa sepengetahuan dan persetujuan orang itu. Demikian juga, adalah tidak syah mengambil hak milik orang lain dengan jalan pengadilan yang salah. Jika seseorang mengambil harta yang bukan haknya dengan jalan yang tidak benar, makan dia pasti akan hancur, meskipun pengadilan memutuskan bahwa harta itu miliknya. Nabi Karim saw. Bersabda:
“Perhatikanlah! Aku tidak lain adalah seorang manusia seperti kalian. Dan mungkin terjadi bahwa ketika seseorang meminta keadilan kepadaku, karena kefasihannya berbicara maka aku memutuskan harta itu miliknya. Tapi jika harta itu ternyata bukan miliknya, maka keputusanku tidak akan menjadikannya menjadi miliknya di hadapan Allah; Ketahuilah bahwa itu tidak lain melainkan sepotong api; maka jika dia mau silahkan makan api itu, atau tinggalkanlah!” (Bukhari).
Ayat ini telah memotong akar kejahatan yang telah mengakar pada jaman ini bahkan pada masyarakat yang mengaku telah maju peradabannya dan telah mendapat pencerahan. Orang pada umumnya tidak menimbang dengan mendalam ketika mempertimbangkan mana yang benar. Hakim memutuskan atas apa yang terlihat. Ketika hakim menyerahkan harta kepada orang itu, dia segera menerimanya dengan tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun, meskipun sebenarnya itu bukanlah hak dia. Tidak penah terpikir olehnya bahwa dalam pandangan Tuhan dia tidak lain melainkan seseorang yang telah merampas paksa harta orang lain.
Ayat ini kebetulan juga sangat mengutuk praktek suap menyuap yang malangnya saat ini sedang sangat merajalela. Di banyak Negara keadilan benar-benar dapat dibeli. Yang lebih parah lagi adalah bahwa dengan praktek seperti ini, seringkali pintu keadilan akan tertutup untuk orang-orang yang benar-benar berhak. Praktek ini terjadi bahkan di Negara-negara barat yang maju dan dianggap lazim terjadi pada beberapa tempat di Negara itu. Nabi Karim saw. Sangat mengecam itu dengan kata-kata yang sangat keras:
“Orang yang memberi suap dan yang menerima adalah sama, dan keduanya adalah terkutuk” (Tirmizi).
Labels:
alquran,
Islam,
korupsi,
rasulullah
| Reactions: |
Subscribe to:
Posts (Atom)